Hari Kesembilan Belas, Ramadhan dan Kemampuan Beradaptasi

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Sudah hari ke sembilan belas, semakin kita beradaptasi dengan kebiasaan yang baik di Bulan Ramadhan. Beradaptasi dengan ibadah yang optimal, dan tubuhpun beradaptasi dengan pengaturan jadwal makanan yang masuk . Hikmahnya adalah bahwa kita punya kemampuan beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Termasuk dengan semua objectifikasi istilah-istilah organisasi kita, seperti, pelopor, pembimbing, adaptasi dengan mars dan hymne baru. Juga adaptasi dengan sarana zoom atau google meet dalam acara-acara jarak jauh. Dan mari kita sambut semua hal yang baru dari organisasi kita dengan sikap positif. Karena semua perubahan ini pasti punya maksud baik, yang sudah difikirkan secara matang.

Andrew Grove dari Intel Cooperation pernah mengatakan bahwa sebuah organisasi masa kini, tidak mempunyai pilihan selain harus beroperasi di dunia penuh perubahan yang dibentuk oleh globalisasi dan revolusi informasi. Hanya ada dua pilihan ketika organisasi ingin tetap eksis pada era saat ini, yaitu ADAPTASI atau MATI.

Pilihan ini sangat mengerikan dan tidak mudah untuk diputuskan. Ketika memilih untuk beradaptasi, berarti dihadapkan pada kemampuan belajar yang tinggi dan tingkat fleksibilitas yang tinggi pula. Kemampuan belajar harus meningkat karena ada pemberdayaan intelektual dan kreativitas.

Namun adaptasi bagi kita bukan seperti yang disampaikan oleh Grove, yang hanya melakukan penyesuaian dengan lingkungan dan mengikuti arus yang berkembang. Adaptasi bagi kita adalah proses untuk senantiasa mengamati perubahan lingkungan sambil tetap perpegang teguh dengan prinsip yang telah kita yakini dan telah di tetapkan. Dan memang ini unik dan tantangan berat bagi organisasi kita.

Kemampuan beradaptasi bukan berarti mengendorkan spirit ruhiyah, justru membutuhkan ruhiyah yang sangat kuat. Maka karenanya 10 hari terakhir Ramadhan menjadi penting agar ruhiyah kita mencapai level maksimal. Dalam Jihad misalnya, perubahan adaptasi psikologis kaum muslimin saat perang Badar, yang semula hanya ingin menghadang kafilah dagang kaum kafir Qurays, berubah menjadi perang bukan sesuatu yang ringan. Motivasi para sahabat dalam perang Badar adalah buah dari Kematangan dan Kekuatan ruhiyah. Hanya ada dua pilihan Hidup Mulia atau Mati sebagai Syuhada.

Keraguan Rasulullah saw terhadap kondisi psikologis pasukan kaum muslimin terlihat oleh tokoh Anshar Sa’ad bin Muadz ra. Rasulullah menyadari bahwa beradaptasi dari penyergapan ke peperangan terbuka bukan persoalan mudah.

Hingga Sa’ad bin Muadz berkata,”Sepertinya engkau ragu kepada kami, wahai Rasulullah. Sepertinya engkau juga khawatir bahwa orang-orang Anshar sebagaimana yang tampak dalam pandanganmu, tidak akan menolongmu, kecuali di negerinya. Saya bicara atas nama orang Anshar. Berangkatlah bersama kami sesuai dengan apa yang engkau kehendaki. Ikatlah tali siapapun yang engkau kehendaki. Ambilah dari harta kekayaan kami siapa yang engkau kehendaki. Demi Allah seandainya engkau menempuh perjalanan bersama kami hingga ke barak Al Ghamad [ Kota Habasyah ] kami semua akan tetap bersamamu. Demi Allah, kalau seandainya engkau mengajak kami untuk menyeberangi lautan sekalipun, pasti kami akan lalui bersamamu.”

Masya Allah…itulah buah dari kematangan dan kekuatan ruhiyah yang luar biasa dari para sahabat anshar, untuk beradaptasi dari penyergapan ke peperangan. Lalu bagaimana dengan kita..? Hanya beradaptasi dengan istilah-istilah baru saja, dengan pemimpin baru, dengan mars baru, dengan aturan baru, kadang sudah keluar kata-kata sumbang dan tak membuat semangat.

Justru kemampuan kita beradaptasi dengan situasi baru terlihat dari kegesitan kita, istiqamahnya kita, semakin kreatifnya kita, semakin solidnya kita dan semakin optimisnya kita menyambut kemenangan di 2024.

Kita harus menempatkan diri kita sejajar dengan mereka yang sudah besar saat ini. Bahkan melebihi mereka. Kita memiliki falsafah, prinsip, etika, strategi, konsep dan resep untuk meraih kemenangan. Maka lalukanlah internalisasi terhadap prinsip-prinsip organisasi dan siapkan diri untuk bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Perubahan akan terus terjadi karena jihad siyasi itu dinamis. Dan karena kita petarung bukan pecundang, maka pastikan kita memiliki semangat seperti kaum Ashar tadi, insya Allah kemenangan dakwah Allah izinkan untuk kita raih. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

Di malam-malam 10 terakhir marilah kita mengadu pada Allah. Mengadu kepada Allah di saat menghadapi tantangan

Saat menghadapi penolakan dan penganiayaan dari orang-orang Thaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdoa:

“اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك ، أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك”

“Ya Allah kepadamu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya kesanggupanku, kerendahan diriku berhadapan dengan manusia, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkau adalah Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkau juga Pelindungku, kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.

Aku berlindung pada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridha (kepadaku), dan tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (Lihat: Ibnu Hisyam 1/420).

Wallahu’alam

Bagikan