Tebar Ribuan Takjil Di 11 Desa, DPC PKS Setu Tuai Simpati

Bagikan

Ahad (09/05/2021) DPC PKS Setu, Bekasi kembali membagikan takjil di 11 Desa dalam wilayah kecamatan Setu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini dilakukan sebagai rasa perduli sekaligus sarana menjalin kedekatan dengan masyarakat.

“Dalam masa pandemi yang masih terjadi seperti sekarang ini, pembagian takjil gratis di bulan puasa menjadi momentum berbagi, selain mengharap ridho dan berkah dari Allah, juga sebagai refleksi keperdulian pada sesama.
Semangat ini yang ingin terus kami tanamkan kepada masyarakat, kader dan simpatisan PKS di seluruh Wilayah Kecamatan Setu, agar tumbuh rasa saling asah, asih dan asuh dalam membangun bangsa yang majemuk ini” demikian ungkap Ahmad Jazuli selaku Ketua DPC PKS Setu.


“Kegiatan Takjil on the Road Saba Desa digelar, juga sekaligus menjaga konsistensi PKS yang selalu hadir melayani dan membela rakyat. Selalu ada bersama masyarakat. Terutama berupaya membantu mengatasi berbagai peliknya persoalan kehidupan di masyarakat. Semoga PKS terus konsisten untuk Bersama Melayani Masyarakat“, imbuhnya di sela-sela kesibukan berkoordinasi dengan para ketua DPRa sekecamatan Setu memastikan kelancaran Takjil On The Road tahun ini.

3000 bungkus takjil dari berbagai jenis makanan serta minuman pembuka puasa termasuk sumbangan dari relawan berhasil dihimpun dan dibagikan seluruhnya pada masyarakat.

Menjelang waktu berbuka, kesibukan makin terasa. Pinggir jalan yang berdebu, pertigaan, perempatan, pangkalan ojek, pasar, hingga masuk ke gang-gang sempit menjadi tempat pembagian takjil oleh kader dan simpatisan yang tersebar di pelosok desa Lubang Buaya, Burangkeng, Cijengkol, Ciledug, Cikarageman, Kertarahayu, Taman Rahayu, Cibening, Mukti Jaya , Ragemanunggal dan Taman Sari tanpa ada rasa lelah dan keluh kesah.


Tak ayal jika hal ini menuai simpati dan ucapan terima kasih serta do’a dari masyarakat penerima takjil gratis yang disertai dengan pembagian kartu layanan Ambulance gratis milik DPC PKS Setu.

#sisA

Bagikan

DPRa PKS Burangkeng Setu Bagikan Tajil Pada Masyarakat

Bagikan

Ahad (02/05/21) Ketua DPRa Burangkeng, Nasep Saputra memimpin jajaran pengurus dan kader membagikan tajil pada masyarakat sekitar.


Agenda yang dilakukan didepan sebuah sekolah Nusantara menyasar pengguna jalan yang melintas antara perumahan BTR ke kampung Cinyosog, Setu.


Masyarakat merasa senang dan menyambut baik pembagian ta’jil gratis yang dilakukan oleh kader dan simpatisan PKS di masa pandemi seperti sekarang ini.

Dengan tetap menggunakan masker dan memperhatikan protokol kesehatan, pengurus DPRa Burangkeng seperti Gatot, Amin, Heri, Arif dan lainnya yang menamakan dirinya Burangkeng Lovers sejak jam 5 sore menyapa serta membagikan aneka makanan dan air mineral yang dibungkus dalam plastik transparan.

Tak terasa dalam sekejap 300 paket tajil yang dibuat kader dan simpatisan PKS serta sumbangan dari beberapa warga ludes seluruhnya.

Pak Nawan, ketua RW 01 kampung Cinyosog mengapresiasi dan beeterima kasih pada PKS yang telah membagikan ta’jil atau makanan pembuka puasa diwilayahnya.

Ahmad Jazuli selaku Ketua DPC PKS Setu yang menyempatkan diri hadir meninjau kegiatan tersebut bersyukur dan salut atas inisiatif yang dilakukan kader Burangkeng.
“Kedepan insyaAllah DPC PKS Setu akan melakukan hal yang sama dengan skala yang lebih luas lagi”, demikian ungkapnya dikesempatan lain.

#sisA

Bagikan

DPC PKS dan RKI Cikarang Utara Berbagi Berkah di Bulan Ramadhan

Bagikan

Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Cikarang Utara, Bekasi mengadakan berbagi berkah di bulan Ramadhan 1442 H.

“Berbagi Berkah di Bulan Penuh Berkah” berupa pembagian paket sembako untuk masyarakat di Kecamatan Cikarang Utara pada hari Jum’at, 30 April 2021.

“Alhamdulilah dari penggalangan donasi yg dilakukan selama 2 minggu, terkumpul 299 paket sembako untuk didistribusikan. Semoga kegiatan ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, meskipun mungkin belum banyak yang bisa dibantu,” ujar dr. Feranida, Ketua RKI Cikarang Utara.

Paket sembako berupa beras 5 liter dan minyak goreng 1 liter. Paket sembako dibagikan di 11 desa yang ada yaitu Simpangan, Mekar Mukti, Waluya, Karang Raharja, Karang Asih, Tanjungsari, Pasir Gombong, Wangun Harja, Cikarang Kota, Harja Mekar dan Karang Baru.

“Alhamdulilah, terimakasih atas bantuannya Bu. Semoga menambah keberkahan untuk PKS yang selalu berbagi,” ungkap Ibu Atta, salah seorang penerima paket sembako di Desa Simpangan.

Program “Berbagi Berkah di Bulan Penuh Berkah” ini merupakan bagian dari program Sedekah Jum’at Berkah RKI Cikarang Utara yang sudah berjalan secara rutin setiap hari jum’at di 2 desa, yaitu Simpangan dan Mekar Mukti. Sedangkan untuk desa lainnya masih insidental dan bergilir.

Bagikan

Warga Pasir Randu Tersenyum Gembira Terima Paket Sembako Murah Dari SPKK DPC PKS Serang Baru

Bagikan

Senyum gembira seratusan warga Kampung Pasir Randu RT 06/03 setelah mereka menerima paket sembako murah dari Seksi Perempuan Ketahana Keluarga (SPKK) Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Serang Baru Jumat (30/04/21).

Acara Baksos Ramadhan 1442 H yang di gelar oleh SPKK DPC PKS Serang Baru yang di ketua oleh Nurhasanah menghadirkan seratus warga Kampung Pasir Randu berlangsung tertib dari semenjak dimulai pukul 07.30 sanpai berakhir pukul 09 15 Wib. Turut hadir Ketua DPC PKS Serang Baru Prayono, S.Kom.

“Semangat Ramadhan adalah Semangat Melayani. Maka dengan ibadah Ramadhan 1442H ini kita bisa mewujudkan komitmen PKS utk terus bersama melayani rakyat.” Ujar prayono memberikan penekanan kepada para kader yang pada kegiatan itu.

Bagikan

Hari Kelima Belas Keikhlasan Dan Gaji Besar Tapi Rezeki Kecil

Bagikan

Genap 15 hari kita melaksanakan Ibadah Ramadhan, iman kepada Allah semakin kuat, gak galau masalah rezeki, gak silau urusan posisi, tak ada lagi rasa iri dan dengki, semakin hilang sifat negatif dari segala sisi Insya Allah.

Ini pertanda baik bhw penyakit ruhani atau penyakit hati kita dalam proses penyembuhan. Hati semakin lapang memandang kehidupan. Tapi….penyakit stroke mulai menghinggapi, akibat stroke belanja nominalnya lebih besar dari stroke gaji. Ini masalah…..tapi Yakinlah selalu bhw Allah bersama orang2 yg beriman.

Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT, “… Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum: 47).

 
Diberikan advokasi atau pembelaan (ad-difa’). Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang ber­iman…”(QS. Al-Hajj:38).

 
Mendapatkan perlindungan kasih sayang (Al-wilayah). Allah SWT berfirman, ”Allah Pelindung orang-orang yang beriman…. ” (QS. Al-Baqarah: 257).

 
Lalu bagaimana menyelesaikan persoalan kehidupan, kebutuhan semakin banyak, sedang pemasukan tetap bahkan berkurang. Disinilah perlunya kecerdasan keuangan. Ya kecerdasan keuangan yg jarang dibahas dalam pertemuan rutin, padahal ini ilmu yg juga dibutuhkan untuk menunjang dakwah.

Sebagian besar komunitas kita dlm kondisi lebih besar pasak dari pada tiang. Lebih pengeluaran daripada pemasukan. Berat memang, apalagi situasi pandemi membuat hampir semua bisnis terpukul dan melakukan reparasi strategi.

Ramadhan menyadarkan kita bahwa rezeki itu hak wewenang Allah. Menyadarkan kita bahwa rezeki itu bukan masalah kerja sebagai ASN dg gaji tetap atau wirausaha dg penghasilan tak terbatas. Bukan masalah gaji besar atau kecil, tapi seberapa menjadikan manfaat, mendapatkan nikmat ,dan mensyukuri nikmat itu menjadi semakin taat pada syariat.

Ada org gajinya besar tapi rezekinya kecil. Koq bisa….?. Seorang pengusaha sukses duduk di kelas Bisnis sebuah maskapai saat penerbangan, berdampingan dg seorang ustadz. Ketika pramugari menghidangkan makanan enak, ia hanya minum air putih saja, dan matanya tak henti memandangi ustadz di sebelahnya yg menyantap makanan dg nikmatnya.

“Pak kenapa tak dimakan ?” Koq hanya air putih saja..? Tanya Sang Ustadz. ” Iya..saya sdh tak boleh makan yg enak2 kata dokter, ada komplikasi.” Jawab si Bapak.

Mau makan gurih asin takut hipertensi, makan seafood khawatir asam dan urat kolesterol, mau makan manis nanti gulanya naik. Tidur tak bisa lagi di kasur yg empuk karena tulang belakang bermasalah, punya mobil mewah tak bisa dinikmati. Gaji besar tapi pinjam sana sini untuk menutupi kebutuhan harian. Itulah Gaji besar rezeki kecil.

Sebaliknya ada yg Gaji kecil rezeki besar. Gaji kecil tapi bisa pergi ke berbagai negara, Makan di rumah makan Arab yg mahal. Dakwah berjalan lancar, menikmati kendaraan yg nyaman bersama keluarganya. Disinilah letak keberkahan bagi seorang beriman. Maka carilah keberkahan bukan keserakahan.

Itulah kehidupan, kadang sulit menakarnya dengan timbangan akal. Hanya iman yg benar, ibadah yg Shalihah, akhlak yg mulia, kunci memahami liku-liku kehidupan yg amat singkat ini.

Itulah kehidupan dunia yg terkadang menyita hubungan kita kepada Allah. Kalaupun beramal dan beribadah ada saja gangguan keikhlasan. Berharap pahala kebaikan kita tak terhapus karena hilangnya keikhlasan.

Seorang membangun masjid di sebuah kampung, tak boleh ada orang yg kontribusi selain dia. Ia ingin nama masjidnya sesuai dg namanya. Namun tiga malam berturut-turut bermimpi bertemu laki-laki berjubah putih yg menghapus namanya di plang Masjid lalu laki2 berjubah putih itu menggantinya dg nama seorang wanita.

Ternyata setelah di cari ada nama seorang wanita yg namanya sesuai dg nama yg ada dalam mimpi. Ternyata wanita itulah yg senantiasa membersihkan ruangan masjid dan toiletnya tanpa di ketahui orang, sehingga masjid bersih digunakan untuk beribadah.

Jafar As Shiddiq pernah berkata kepada Imam Sofyan Ats Tsauri,” Tidak sempurna suatu amal baik kecuali dgn tiga perkara yaitu menyegerakannya, menganggapnya kecil dan menyembunyikannya.”

Menyegerakannya tanpa menunda karena takut tak ada umur lagi, menganggapnya kecil karena tak sebanding dg nikmat Allah kpd kita. Merahasiakannya karena demi selamatnya pahala kita.

Tak ada yg lebih menakutkan dan mengerikan daripada hilang tak berbekasnya amal shaleh dan amal dakwah kita di hadapan Allah kelak.

Ramadhan mengajarkan kita pentingnya keikhlasan dalam beramal, keikhlasan dalam berdakwah, dan keikhlasan dalam melayani masyarakat.

Semoga Allah menerima ibadah dan amal kita di hari yg ke lima belas ini.

Wallahu’alam

Bagikan

Dengan Semangat Ukhuwwah DPC PKS Tambun Utara Gelar PembagianTakjil Gratis

Bagikan
pembagian Takjil oleh DPC PKS Tambun Utara

Dengan semangat melayani yang  menjadi tagline Partai Keadilan Sejahtera(PKS), DPC Tambun Utara kembali melaksanakan program pembagian Takjil penuh manfaat “Berbagi takjil gratis”, Sabtu (24/04)

kegiatan ini dilaksanakan di wilayah perumahan kintamani  jejalen jaya. Warga antusias dan menyambut baik acara takjil ini, hingga seorang tokoh masyarakat yang juga ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Tambun Utara Ustadz Abdul Aziz Fauzie yang hadir dalam acara tersebut ikut dalam pembagian takjil.

Dalam waktu dan tempat yang bersamaan adapula dari ormas Pemuda Pancasila dan Karang Taruna yang saat itu juga sedang membagikan takjil dan di hadiri oleh Kepala Desa Jejalen Jaya, Bapak Kumpul.

“Kami mengucapkan banyak terimaksih kepada DPC PKS Tambun Utara yang pada sore ini bisa berbagi takjil gratis kepada warga,” ucap Kepala Desa Jejalen Jaya Bapak Kumpul.

Hadir eleman bangsa, PKS, Pemuda Pancasila dan Karang Taruna menjadi Semangat kebersamaan dan ukhuwah antara puluhan kader dan simpatisan PKS dengan tokoh masyarakat. Ini menjadi nilai yang sangat berharga ditengah berbagai macam isu yang sering memecah belah persatuan umat Islam, PKS membuktikan bisa menjadi perekat antar elemen bangsa.

Jelang magrib ratusan paket takjil habis dibagikan, sebuah program kecil tapi bernilai sangat besar sebagaimana. Menukil Hadist Rasulullah “Siapa yang memberi makan buka puasa, ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahalanya masing-masing”. (HR Ibnu Majah).

Para Kader PKS  kembali kerumah masing-masing dengan membawa semangat baru, semangat melayani, semangat ukhuwah dan semangat ibadah semoga Allah berkenan menerima amal ibadah di bulan Ramadhan ini.

Humas DPC Tambun Utara

Bagikan

Hari Kedua belas, Ramadhan dan Air Mata Keimanan

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi

Hari kedua belas, ketika interaksi kita dengan Al Qur’an semakin kuat, perasaan dan emosi yang kita alami saat membaca Al Qur’an apakah tetap sama dengan sebelum Ramadhan ?. Atau ada getaran-getaran lain yang kita rasakan, saat kita membaca, memahami, merenungkan bacaan yang kita baca, hingga kita tak terasa menitik air mata. Imam An Nawawi mengatakan,”menangis saat membaca Al Qur’an adalah sifat orang-orang yang arif dan tanda orang-orang saleh.”

Abdullah bin Amar bin Ash ra. mengatakan,”Andai aku bisa menangis satu tetes air mata saja lantaran takut pada Allah Ta’ala, tentu lebih aku senangi dari pada bersedekah seribu dinar.”
Itulah air mata keimanan yang akan membuat hidup seseorang terselamatkan. Membuat kebahagiaan yang terus didapatkan. Membuat jiwa penuh ketenangan dan sarat dengan harapan. Hidup menjadi lebih bermakna. Rahmah dan barakah mengiringi kehidupan aktivitas dakwah Insya Allah.

Masih di sepertiga Ramadhan, mari belajar menitik air mata kesadaran. Kesadaran akan kondisi diri yang tak semangat dulu mungkin dalam beribadah dan berdakwah karena banyaknya kesibukan yang harus diselesaikan.

Kesadaran bahwa kondisi masyarakat membutuhkan aktivis dakwah ikut terjun, melebur, dan bergabung dengan mereka demi menyelesaikan problematika kehidupan.
Kesadaran bahwa hanya hari ini kesempatan kita berkontribusi untuk dakwah, sebab besok kita takut tak lagi bisa bergerak karena Allah mencukupkan umur kita. Adalah Ibnu Abbas ra. suatu saat di tanya tentang makna orang yang takut. Beliau menjawab,”Hati mereka bahagia dalam ketakutan pd Allah. Mata mereka selalu menangis. Mereka mengatakan,”Bagaimana kita bisa senang, sementara kematian ada di depan kita?Kuburan sudah menunggu?Hari kiamat pasti kita temui, kita juga akan berdiri di hadapan Allah.”

Ramadhan melatih kita menitik air mata kekhilafan. Kekhilafan akan waktu-waktu yang terbuang, tak digunakan untuk membuat jejak-jejak di jalan dakwah. Nabi saw. bersabda,”Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah melebihi dua tetes dan bekas jejak.Tetes air mata karena takut pada Allah dan tetes darah yang dikucurkan di jalan Allah. Adapun dua jejak, jejak di jalan Allah dan bekas jejak menjalankan kewajiban perintah Allah.” [ HR. Tirmidzi ]

Jejak di jalan dakwah adalah jejak yang mulia, pastikan jejak kita ada di sana. Menangislah jika tak terlihat jejak kita di sana, karena itu sebuah kerugian.

Termasuk jejak-jejak kita di bulan Ramadhan terkait pelaksanaan kewajiban yang Allah perintahkan. Jejak tilawah kita, jejak qiyam dan shiyam. Juga Jejak-jejak kepedulian kita terhadap ummat, kecintaan kita kepada ummat, kecintaan kita kepada bangsa ini. Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa yang tidak memperdulikan urusan kaum muslimin bukanlah tergolong dari mereka.” [ HR. Abu Dawud ]

Air mata keimanan termasuk mengingat kekhilafan kita dalam agenda dakwah yang kadang lupa. Ada pertemuan lupa, ada qiyadah datang inspeksi kita justru sibuk aktifitas lain, lalu di mana manajemen waktu kita,indhibath kita dan Munazham fii su’inihi atau Harisun ‘ala waqtihi nya.? Koq ngurusin kerjaan kantor gak lupa..?. Sebagian terkadang menjalankan dakwah terkesan asal-asalan , tak pakai perencanaan dan persiapan, tidak terprogram dan akhirnya tambal sulam, layak kita menitik air mata di akhir malam. Astaghfirullah ampuni kekhilafan dan kelalaian kami Ya Allah…Engkau telah banyak memberi nikmat kepada kami, namun rasa syukur kami terlalu kecil dibanding nikmatMu.

Ketika semboyan kita saat ini bersama melayani rakyat, perlu kita menanamkan keikhlasan dalam pelayanan, melayani tidak pilih-pilih, siapa yang kita layani semua hamba Allah. Kapan waktunya dilayani, dimana harus dilayani. Keikhlasan tercermin dalam ketidakadaan kepentingan pribadi hanya ada kepentingan dakwah. Allah berfirman :
ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. [ QS. AS Syura : 23 ]

Masih disepertiga Ramadhan semoga kita dapat melakukan introspeksi , dan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.
Wallahu’alam bis showwab

Bagikan

Hari ke Sebelas Ramadhan Antara Kewajiban Amaliah dan Kewajiban Maaliyah

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Manusia modern saat ini menerima lebih dari 3000 informasi ke dalam otak setiap hari. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mengelola informasi yang masuk sebanyak itu.

Orang dewasa saja berat, apalagi anak-anak kita yang masih kecil. Betapa beratnya mereka mengelola informasi untuk kemudian disaring lalu sebagian dijadikan dasar bertindak, berperilaku dan beramaliyah.

Buat kita yang org dewasa punya dua kewajiban dalam meniti kehidupan ini. Keduanya jika kita laksanakan akan membuat hidup tenang. Yaitu kewajiban Amaliyah dan Kewajiban Maaliyah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa hidup ini adalah ujian, baik itu karunia, kesenangan ataupun musibah, kesulitan, dan kesengsaraan. Intinya adalah semua yang melingkupi kita setiap hari adalah ujian. Bisa menguji keikhlasan, menguji kesabaran, menguji cinta, pengorbanan dan lainnya. Ini penting untuk kita sadari.

Ramadhan tidak hanya mendidik kita utk melaksanakan kewajiban Amaliyah, shaum, qiyam, tilawah, tetapi juga kewajiban maaliyah ( harta ), melalui sedekah, infaq, zakat amal dan zakat fitrah.

Terkait dengan maaliyah, kekuatan kaum muslimin memang masih sangat lemah dibandingkan umat lain. Bayangkan ada 375 orang di dunia ini yg kekayaannya jika dijumlahkan, sama dengan kekayaan 4 milyar manusia. Di antaranya Bill Gates, Warren Buffet, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Richard Branson, Lakshmi Mittal, Lee Ka Shing, Jack Ma dan lainnya.

Mereka adalah “the have”, sedang sebagian lagi”The Rich” . Apa bedanya ?. The have adalah yg mendapatkan hartanya bukan dengan bekerja. Seperti sebagian Anggota Legislatif atau Eksekutif yg mendapat uang dari belahan anggaran, atau pejabat yg korupsi dan mencuil dana proyek, atau anak orang kaya karena harta tujuh turunan. Mereka mendapatkan uang bukan hasil dari jerih payah sendiri, karena jabatan, atau karena keturunan, atau memanfaatkan posisi. Itulah The Have.

Kaum “The Rich” mereka yg kaya dengan keringat sendiri, tanpa fasilitas apalagi anggaran daerah atau anggaran pemerintah. Mereka kaya dari hasil bisnis, investasi, tanah, property, saham dengan modal yang dikumpulkan dari keringat sendiri.

Terlepas dari semua itu, kita harus berhati-hati dengan urusan maaliyah kita, urusan keuangan kita. Dari mana kita peroleh, halal atau haram prosesnya, dan untuk apa dan kemana kita salurkan.

 لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ 

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR Al-Bukhari.

Kita harus memperhatikan masalah kewajiban maaliyah ini baik proses mencarinya maupun distribusinya. Kemenangan dakwah tidak akan kita peroleh jika unsur-unsur yg syubhat dan haram kita tabrak. Kalaupun menang , bukan kemenangan yg diridhai Allah, Na’udzubillah.

Disiplin dalam melaksanakan kewajiban maaliyah akan menambah keberkahan dan menambah ketenangan dalam jiwa. Namun sebaliknya lalai dalam melaksanakan kewajiban maaliyah membuat jiwa gelisah karena ada hak2 yg belum kita tunaikan, hak orang lain, hak jamaah, dan hak saudara kita yg mungkin secara tak sadar terzolimi oleh kita. Dan jangan sepelekan masalah ini krn akan fatal akibatnya di akhirat. Karena kita menjadi org yg “Bangkrut”.

Kita memahami dan menyadari bahwa maaaliyah memang kita butuhkan, penting dan penting tapi tetap saja itu adalah wasilah. Dan menyadari bahwa harta adalah cobaan juga penting.

Firman-Nya: إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [at-Taghabun/64:15]

Kita ingin dakwah ini menang oke…kita sepakat Dakwah Ini Harus Menang.

Namun Ingat Syarat kemenangan salah satunya adalah kesalehan, dan melaksanakan kewajiban maaliyah adalah tanda kesalehan.

Melaksanakan Iuran Atau Infaq wajib, menjadi Relawan Zakat, ikut memberi kontribusi dalam kegiatan dakwah walau satu rupiah, masih lebih baik ketimbang menyusahkan dakwah dan jamaah dengan berbagai persoalan remeh karena kekerdilan dan ketidakdewasaan kita. Cukuplah Allah mengingatkan kita.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَا فْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 77)

Semoga Ramadhan menyadarkan kita tentang pentingnya kewajiban Amaliyah dan Kewajiban Maaliyah.

Wallahu’alam bis showwab

Bagikan

HARI KE SEPULUH RAMADHAN

Bagikan

RAMADHAN DAN SIKAP OPTIMIS

Oleh Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Sudah sepertiga Ramadhan kita lalui, berharap semoga kita semakin bersih hati, fikiran, lisan dan semakin optimis memandang masa depan. Iya, kita semua punya masa depan yang harus terus kita raih dan pastikan arahnya menuju JannahNya. Masa depan dunia dan masa depan akhirat.

Kehidupan bukanlah jalan yang mudah dilalui tanpa halangan dan rintangan.

Kehidupan sering kali berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus mencari jalan. Kadang tersesat dan bingung lalu kembali dengan kesadaran bahwa jalan kita salah. Ramadhan mengembalikan arah hidup kita kepada jalan yang pernah di tempuh oleh para Nabi, para Shadiqin, para syuhada dan shalihin.

Dengan tarbiyah Ramadhan tetaplah optimis dan mewujudkan mimpi terbaik. Karena mimpi adalah kenyataan hari esok. Yakinlah tak pernah ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada adalah upaya dan ikhtiyar kita terlalu rendah.

Bermimpilah setinggi-tingginya dan berikhtiyarlah sekuat-kuatnya lalu dekati Allah sedekat-dekatnya. Insya Allah hajat dan harapan kita Allah wujudkan.

Tugas kita adalah terus bergerak dan beramal, terus berdoa. Karena kelak kita tak ditanya,”Kenapa engkau tak menang?” Tetapi engkau akan ditanya.”Kenapa engkau tak ikut berjuang?” Tak ada kompetisi yang lebih mulia kecuali kompetisi dalam amal shaleh dan kebaikan. Hatta hanya dalam hati kita yang terus tak bisa tenang saat dakwah belum juga menang.

Inilah perasaan seorang mujahid  Shalahuddin Al Ayyubi yang dia tidak pernah tertawa selama Al Quds masih dikuasai oleh para salibis. Ia bertutur saat ditanya,”Bagaimana saya bisa tertawa?Bukankah Al Quds sedang ditawan?”.

Inilah pula perasaan Aslam [ pelayan Umar bin Khattab ra.]. Ia pernah merasakan perasaan Umar ra.,”Jika Allah tidak melepaskan cobaan ini dari kami pada tahun krisis ekonomi, maka kami pasti menyangka Umar akan meninggal, karena bencana yang menimpa kaum muslimin.” Khalifah Umar ra. pun pernah berkata,”Istirahat bagi laki-laki sejati ( rajul) adalah suatu Ghaflah [ Kelalaian ].

Realitas kehidupan dan realitas dakwah saat ini memerlukan orang-orang yang punya sikap optimis, memiliki tanggung jawab, kepedulian dan kepekaan terhadap situasi.

 Ketika dalam dada kita ada cinta untuk Indonesia dan cinta untuk bangsa ini, maka bersiaplah cinta kita akan diuji. Di saat kita menginginkan kepemimpinan, bersiaplah kepemimpinan kita pasti akan diuji. Di saat kita ingin merangkul seluruh komponen untuk bersatu menjayakan negeri ini, maka bersiaplah punya rangkulan kita akan diuji kekuatannya.

Namun sekali lagi, tetaplah optimis bahwa masa depan milik kita. Melihat malam pekat pertanda bahwa pagi akan mendekat. Melihat panas mentari pertanda hujan akan segera turun menyapa hari. Melihat hidup yang sulit pertanda kemudahan akan hadir.Melihat masalah kehidupan semakin memuncak pertanda kita harus semakin bijak.

Sepertiga Ramadhan cukuplah untuk mengukur seberapa banyak progres yang telah terjadi para diri kita, setelah berinteraksi dengan Allah lebih intensif melalui Qiyam, Shiyam dan Tilawah.

Progres dalam  kepekaan, kepedulian, rasa kasih sayang, keramahan. Karena Shaum adalah salah satu metode untuk mengasah kepekaan kita untuk terus mensyukuri nikmatNya.

Sebagaimana Imam Ibnu Qoyyim mengatakan tentang shaum,”Untuk mengingatkan akan kondisi laparnya orang-orang miskin.” Ibnu Hammam juga berkata,”Sesungguhnya yang sedang shaum ketika diuji dengan rasa lapar pada sebagian waktu, dia akan mengingat orang yang lapar sepanjang masanya, maka dengan cepat tergerak hatinya untuk menyayangi mereka.”

Kembali ke sikap optimis, faktor utama yang dapat meningkatkan sikap optimis adalah kita bergaul dengan orang-orang yang memiliki optimisme dalam hidup dan tidak mudah menyerah. Karena teman bergaul sangat berpengaruh dengan kita.

Seorang ulama mengatakan,”hendaknya seseorang memperhatikan wajah orang saleh sebelum mereka berbicara, karena memandang mereka akan mengingatkan kita pada Allah Ta’ala.

Sahabat Anas ra. berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Sesungguhnya sebagian orang itu ada yang menjadi kunci pembuka kebaikan dan menutupi segala bentuk kejahatan.” [ HR. Ibnu Majah ]

Ja’far berkata,”Apabila aku menemukan kekerasan dalam hatiku, aku lalu memandang wajah Muhammad bin Wasi.”

Apabila Imam Ahmad mendengar tentang seseorang yang shaleh, zuhud, iapun sangat senang jika dapat berbincang-bincang dengan orang itu. Karenanya Imam Ahmad sangat teliti memilih orang-orang yang harus ia bergaul secara dekat.

Wallahu ‘alam bis showwab.

Bagikan

Hari ke Delapan

Bagikan

Ramadhan dan Tarbiyah Akhlaqiya

Jika kita membaca dan melihat sejarah Islam, ternyata kaum muslimin di abad kelahiran dan kebangkitannya berada pada puncak tarbiyah Akhlaqiyah yang terbaik.

Berbondong-bondong manusia memasuki Islam karena perilaku ummatnya. Akhlaq yang lebih indah di banding ummat-ummat yang lain. Lebih dikenal daya tariknya karena akhlaq. Mereka adalah orang-orang yang memiliki magnet di lingkungannya karena memiliki akhlaq yang sopan, santun, jujur, sederhana, tidak ambisius, btenang dan teduh, berani membela dan menolong yang terzalimi.

Ramadhan menjadi momentum untuk mentarbiyah akhlaq ummat Islam saat ini. Karena di bulan Ramadhan setiap orang akan berusaha mengerem hal- hal buruk, dan hanya berusaha menanamkan kebaikan. Karena memang Ramadhan adalah bulan kebaikan. Kebaikan hati, kebaikan lisan, perilaku semua muslim akan memperhatikannya. Ini modal yang sangat besar untuk perbaikan pasca Ramadhan.

Di luar Ramadhan setan menggunakan dua senjata untuk menghancurkan akhlaq kita yaitu dengan Syubhat dan Syahwat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ
Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.[ HR Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami.]

Fitnah syahwat adalah mengikuti nafsu perut dan kemaluan, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat. Kedua fitnah inilah yang pernah menimpa ummat terdahulu dan akhirnya membinasakan mereka. Bahkan amalan mereka menjadi sia-sia.
Dan mereka menjadi orang yang merugi. Allah berfirman :
“(keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu.

Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. [ At Taubah : 69 ]

Coba kita renungkan sejenak, setan menggunakan dua senjata ini untuk meluluh lantakkan akhlaq kita dan akhlaq kaum muslimin dengan berbagai sarana yang ada sekarang. Semua media digunakan oleh setan untuk merusak akhlak dari berbagai sisinya. Waspadalah….!

Fitnah syahwat akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak dan perbuatan yang tertimpa penyakit ini. Rakus terhadap harta, kegilaan terhadap popularitas, senang dengan citra dan pujian, tidak mau menyuruh yang makruf, berlaku zalim, berbuat keji dan kemaksiatan lain.

Penyakit syubhat akan merusakkan ilmu dan keyakinan. Syahwat dan kebatilan dibuat samar dan kabur. Sehingga orang tak lagi melihat sebagai kebatilan dan perbuatan jahat, karena dikemas dengan kemasan yang apik dan menawan. Perkara yang makruf juga menjadi samar dengan kemungkaran. Orang memandang yang makruf sebagai yang munkar dan sebaliknya. Al Haq sebagai yang batil dan yang batil sebai al haq.

Di Ramadhan dan pasca Ramadhan selayaknyanya perbanyak dan focus untuk kita memperbaiki dan biacara tentang akhlak. Karena bicara Akhlaq lebih menyatukan umat. Kalau kita bicara tentang pemikiran akan ada banyak sudut pandang. Jika bicara fiqh maka akan banyak pendapat. Kalau kita focus bicara akhlaq dan perbaikan ummat kita tidak masuk dalam perbedaan dengan kelompok dan pandangan apapun. Akhlak yang baik umumnya lebih diakui dan disenangi, juga diterima oleh hati semua orang. Itulah mengapa Allah Ta’ala mengutus Rasululullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Akhlaq yang buruk, sejatinya juga diakui keburukannya dan efeknya oleh semua orang. Dan ini berlaku universal, berlaku untuk semua ummat. Maka dari sinilah kita menyempitkan dan meminimalisir perbedaan. Orang yang kita cintai, bisa lari dan menjauh ketika kita berlaku kasar dan tidak menjaga akhlak. Orang yang paling kita benci, bisa datang mendekat ketika kita bersikap dengan akhlak yang terpuji. Allah berfirman :
Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan an-tara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. [ QS. Fussilat : 34 – 35 ]

Semoga dengan akhlak yang baik yang ditampilkan oleh para pengemban dakwah ini, semakin menunjang dan mempercepat kemenangan dakwah di kemudian hari.
Wallahu’alam bis showwab.

Bagikan