Oleh : Ustadz Sunardi (Ketua MPD PKS Kab Bekasi)
Allah telah memuliakan kita dengan Al Qur’an, sebagaimana Allah Ta’ala telah memuliakan dengan seorang Nabi yang diutus, sebagaimana Firman Allah :
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian. Maka apakah kalian tidak memahami?” [ QS. Al Anbiya : 10 ].
Syekh DR. Yusuf Al Qaradhawi dalam sebuah kesempatan pernah berkata,”Sebagai muslim kita harus bersyukur kepada Allah, karena hanya kita yang memiliki ikatan perjanjian yang kuat dengan langit, yang di dalamnya yang tertera kalimat-kalimat Allah yang menuntun manusia dan menjaga manusia dari penyimpangan.”
Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an untuk menunjuki manusia kepada Ghayah yang paling utama dan Thariqah yang paling lurus. Allah berfirman :
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” [ Al Isra : 9 ]
Al Qur’an merupaka cahaya dari Allah bagi para hambaNya, disamping cahaya lain yaitu cahaya fitrah dan akal. Hingga sebagian ulama mengatakan,” inilah makna firman Allah ,”Cahaya di atas cahaya.” Allah Ta’ala juga menamakan Al Qur’an dengan sebutan cahaya, diantaranya ialah :
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)
[QS. An Nisaa : 174 ]
Cahaya adalah sesuatu yang menerangi apa yang ada di sekelilingnya. Cahaya menyingkap hal yang tersembunyi, menjelaskan hakikat, menolak syubhat dan membimbing orang yang kebingungan karena tak ada rambu. Al Qur’an akan membuat hati kita bercahaya dan mempertautkan kita dengan Allah. Membersihkan jiwa kita agar kita saling mengenal, saling berbagi, saling bertenggang rasa dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.
Ramadhan bulan diturunkannya Al Qur’an, saatnya kita berinteraksi dengan Al Qur’an lebih intensif, karena inilah hak Al Qur’an. Kita membaca, menghafal, mendengarkan, mentadaburkannya dan mengamalkannya.
Generasi awal dari ummat ini menjadi mulia, menaklukkan negeri, menggapai kemenangan dan membangun peradaban berkat interaksi mereka yang baik dengan Al Qur’an.
Kemudian datang sesudah mereka generasi lain yang menjauhi Al Qur’an. Mereka mengenal dan hafal huruf-hurufnya, tapi mereka mengabaikan hukum-hukumnya. Tidak memahami ayat-ayatnya dengan baik. Tidak mendahulukan apa yang mestinya didahulukan. Tidak mengagungkan apa yang mestinya diagungkan. Diantara mereka ada yang tidak peduli, walau riba, korupsi, zina, minuman keras dilarang, tetap saja ditabrak dan dilanggar. Mereka tidak peduli dengan Allah yang telah menciptakan mereka.
Mereka mengaku membuat perbaikan padahal mereka membuat kerusakan.
Tidak ada cara untuk menyelamatkan umat, masyarakat dan bangsa ini dari keterpurukkan, dari keterperosokkannya, dari perpecahannya kecuali dengan kembali kepada Al Qur’an. Menjadikannya sebagai rujukan, dalil dalam setiap persoalan.
Maka Ramadhan sebagai moment untuk melakukan perbaikan hubungan kita dengan Al Qur’an, karena hanya dari sinilah kita akan mendapat kemuliaan dan kekuatan untuk mengemban amanah-amanah dakwah. Meniti perjuangan menuju kemenangan yang kita cita-citakan. Tanamkan dalam diri semboyan“ Hidup mulia dengan Al Qur’an” dan “Hidup sengsara tanpa Al Qur’an.”
Wallahu’alam bi showwab.















