Hari ke Duapuluh Satu, Menuju Kebahagiaan Yang Hakiki

Bagikan

oleh Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi

Semoga di hari ke 21 ini sudah banyak nilai-nilai positif buah dari ibadah Ramadhan yg tertanam dalam diri kita. Dan sikap sikap negative sudah banyak terkikis. Ini penting karena, modal menuju kemenangan dakwah adalah banyaknya sifat positif yang tumbuh dalam diri. Insya Allah kita semakin bahagia, kebahagiaan dikarenakan iman yang bertambah dengan optimalisasi dan kekhusyu’an beribadah.

Setiap sesuatu memiliki tanda-tandanya, begitu juga orang yang bahagia memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri yang dapat dilihat dari berbagai hal positif yang muncul dari pribadinya.

Menurut para pakar, orang yang bahagia selalu tampil bersemangat, optimis,tidak mudah mengeluh, dan positif thinking. Orang yang bahagia aura wajahnya enak dipandang mata, keberadaannya bermakna bagi diri dan lingkungannya dan orang lain merasa gembira dengan kehadirannya.

Orang yang bahagia akan memancarkan semangat pada wajahnya, dan itu berasal dari perasaan nyaman yang ada pada dirinya sendiri. Perasaan itu mendorongnya untuk mencapai tujuan hidupnya dengan upaya yang maksimal. Biasanya, secara tidak sadar orang-orang seperti ini menjadi “center” atau motivator yang mampu menggerakkan dan memotivasi orang-orang di sekelilingnya.

Bahagia atau tidaknya seseorang tergantung pada orientasi hidupnya, yaitu bisa berupa hal yang bersifat materi, spiritual, atau peran yang ia inginkan.

Seorang ibu rumah tangga yang orientasi hidupnya pada perannya di rumah, maka boleh jadi ia puas dan bahagia jika bisa melayani suami dengan baik, dan anak-anaknya dapat makan dengan teratur.

Seorang Ahli Hikmah mengatakan,” Orang bahagia itu akan selalu menyediakan waktunya untuk membaca, karena membaca adalah sumber ilmu, menyediakan waktu untuk tertawa, karena tertawa seperti musiknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir, karena berfikir itu dasar kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal, karena beramal itu pangkal kesuksesan, menyediakan waktu untuk bercanda, karena bercanda itu akan membuat diri selalu muda, dan menyediakan waktu untuk beribadah, karena ibadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.”

Sebagian orang memiliki jiwa kemasyarakatan yang sangat kuat. Ia baru bahagia ketika mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Seperti pendidik, guru atau pendakwah, ia bahagia jika anak didiknya mengalami perubahan ke arah yang baik. Atau aktifis politik yang bahagia jika partainya telah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memiliki standar khusus untuk menilai apakah seseorang termasuk golongan yang bahagia atau tidak. Beliau berpendapat bahwa bahagia itu bukan sebuah kondisi tapi sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi orang yang bahagia meski pun kita tidak punya harta, tidak punya pangkat atau jabatan, dan tidak populer. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim )

Rasulullah menyebut istilah bahagia dengan kata ‘thuba’ yang berarti beruntung, sukses, dan bahagia. Dari kata thuba inilah kita bisa menemukan ciri-ciri orang yang bahagia untuk kita jadikan sebagai standar apakah diri kita sudah termasuk golongan orang yang sudah bahagia atau belum.

Maksudnya adalah orang tetap berlaku shaleh walaupun orang-orang di sekelilingnya durhaka kepada Allah. Ia tak bergeming dengan cibiran dan ejekan orang yang di sekelilingnya. Ia tetap istiqamah melaksanakan ibadah atau syariat di saat lingkungan nya tidak melakukan itu.

Seseorang yang istiqamah melaksanakn ibadah, di tengah lingkungan yang tak mengenal kebaikan. Karena ia tahu balasan bagi orang yang istiqamah dalam menjalankan syari’at. Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(Ash fushilat : 30 )

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menjelaskan terkait tafsir surah ini.” (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka) dalam ajaran tauhid dan lain-lainnya yang diwajibkan atas mereka (maka malaikat akan turun kepada mereka) sewaktu mereka mati (“Hendaknya kalian jangan merasa takut) akan mati dan hal-hal yang sesudahnya (dan jangan pula kalian merasa sedih) atas semua yang telah kalian tinggalkan, yaitu istri dan anak-anak, maka Kami ( Allah ) lah yang akan menggantikan kedudukan mereka di sisi kalian (dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.)

Dalam ayat ini Allah menjanjikan tiga hal kepada mereka yang istiqamah dalam menjalankan syari’at, yaitu ketenangan, tidak ada kesedihan dan syurga. Dan ketiga hal ini adalah kebahagiaan bagi seseorang. Setiap orang pasti ingin hidup tenang, tidak ada rasa sedih dan syurga yang penuh dengan kenikmatan. Rasulullah bersabda :
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya “wahai rasulullah siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.

Wallahu ‘alam bis showwab

Bagikan