HARI KE DUA PULUH EMPAT, RAIH KETENANGAN BATIN DENGAN I’TIKAF

Bagikan

Oleh, Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Waktu terus bergulir tak terasa kita memasuki malam ke 25 dari malam-malam terakhir Ramadhan. Kita belum tentu punya kesempatan lagi untuk tahun depan. Karena waktu terus berjalan dan tak pernah mundur. Maka layak kita isi hari-hari dan malam-malam terakhir ini dengan sesuatu yang bernilai.

Jika kita meninggalkan Ramadhan tanpa ada peningkatan ibadah, tanpa ada ada prestasi, tanpa ada karya yang menginspirasi, tanpa ada kontribusi yang berarti sungguh kita telah zalim dengan diri kita sendiri. Karena nikmat Allah berupa kesempatan yang luang tidak kita gunakan dengan baik.

Di hari ke 24 sudahkah kita semakin bertaqwa dalam lisan. Lisan semakin terjaga dari syahwat al kalam ,semakin bertaqwa dalam hal makanan, artinya berkurang memburu makanan enak bagi para pecinta kuliner. Semakin bertaqwa kepada Allah dalam pendengaran dan penglihatan. Semakin bertaqwa pada tangan dan kaki kita. Tangan semakin memberi dan kaki semakin ringan untuk berjalan ke rumah Allah. Coba perhatikan diri kita sendiri..! adakah efek 24 hari Shaum terhadap diri…? Iya pada diri kita sendiri apakah kita tidak memperhatikan…? Itulah yang Allah ingatkan ….
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
[dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?]
Kebersamaan kita dengan Ramadhan seharusnya bisa membuat kita semakin yakin dengan pertolongan Allah. Karena Allah akan menolong orang-orang yang berbuat kebaikan. Keyakinan kita akan pertolongan Allah akan menghilangkan kekhawatiran kita terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi dalam hidup kita. Karena dalam diri kita kadang ada rasa takut yang tidak beralasan. Hati kita gundah oleh sebuah persoalan padahal itu sebenarnya bukan persoalan. Tetapi kita sendiri yang terlalu percaya bahwa itu adalah persoalan. Jadi kembali kepada mind set kita dan keyakinan kita pada Allah.

Setiap orang pasti pernah merasa ketakutan. Rasa takut kehilangan orang dicintai, rasa takut kehilangan pekerjaan, jabatan dan lainnya. Rasa takut bukan berarti kita lemah. Ketakutan adalah bagian dari naluri alami manusia untuk bertahan hidup. Rasa takut membantu menyadari adanya bahaya sehingga muncul keinginan untuk menjauh untuk melindungi diri dari bahaya tersebut. Namun, tidak semua rasa takut itu sama. Ketakutan berlebihan bisa juga berdampak negative, hingga suasana hati selalu gelisah, was-was dan tidak tenang. Akhirnya berefek dari psikis kepada fisik.
Terkadang sebagian dari kita pun senang mendramatisir masalah.

Mudah sedih oleh berbagai peristiwa yang harusnya bisa diatasi tanpa kesedihan. Mudah galau oleh persoalan atau masalah yang dibuatnya sendiri karena rasa takut yang berlebihan tadi, padahal sebenarnya masalah sepele, terapi difikirkan terlalu panjang.

Kita tak akan bisa menikmati hidup jika pikiran kita terus menerus dihantui oleh kekhawatiran, kitapun akan berat berkontribusi untuk kemenangan dakwah jika ketakutan, kekhawatiran dan rasa sedih terus.menggelayuti kita dari peristiwa yang terjadi dalam hidup kita selama ini.

10 hari terakhir, malam-malam I’tikaf bukan saja kita ingin mendapatkan Lailatul Qadr, tapi juga ingin mengubah sikap dan cara pandang kita dalam kehidupan ini.

Pasca Ramadhan kita ingin menjadi lebih produktif, lebih efektif dan efisien dalam berbagai aktifitas, tentu aktifitas dakwah kita yang utama.

Banyak di luar sana orang-orang yang memilki masalah hidup yang jauh lebih berat ketimbang kita. Tetapi mereka mampu mengatasinya. Menjalani hari-hari dengan ketenangan, ketabahan yang luar biasa. Mereka menghadapinya dengan sabar. Dan Ramadhan mendidik kita tentang kesabaran.

Banyak sekali manusia-manusia hebat yang mereka layak untuk mengeluh, pantas untuk menangis, berhak untuk curhat. Tetapi mereka tak melakukan semua itu, mereka memilih tegar,menikmati, lalu melewati masa-masa sulit dengan penuh kekuatan jiwa.

Di malam-malam terakhir Ramadhan ini, pastikan diri untuk meluruskan niat yang ada dalam hati, hingga setiap kerja keras, kerja-kerja dakwah baik di masyarakat, di struktur atau di Parlemen, tiap upaya dan tiap tarikan nafas kita hanya dalam rangka pengabdian kepada Allah Ta’ala. Hanya untuk menggapai RidhaNya dengan cacatan amal kebaikan yang terus bertambah.

Melalui I’tikaf yuk ubah diri menjadi pribadi yang tak hanya saleh tapi juga mensalehkan. Bukan hanya berilmu tapi juga memberi ilmu. Bukan hanya kaya tapi mengayakan orang lain. Bukan hanya baik tapi juga menjadi pelopor hadirnya kebaikan. Semoga I’tikaf kita berdampak positif bagi diri dan keluarga, juga bagi dakwah secara keseluruhan.

Selamat mengisi enam hari ke depan dari malam-malam terakhir Ramadhan dengan renungan terhadap perbaikan diri. Hingga kita mampu menginisiasi perubahan di masyarakat ke arah yang lebih baik.

Wallahu’alam bi showwab.

Bagikan