::
DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi -
Website DPD PKS Kabupaten Bekasi
Mengenal PKS

Peradaban Literasi Kita, Quo Vadis?

Disini, ditempat ini!” Tunjuk seorang teman sembari menjelaskan,: Disinilah saya bertemu pertama kali dengan istri saya”. Tempat ini dulu adalah toko buku. Sekarang jadi warung bakso. “Kami bersua tak sengaja. Ada perasaan lain, saat kami sekilas bertemu pandang. Hingga entah bagaimana caranya wanita itu kini menjadi pendamping hidup saya hampir seperempat abad lamanya,” kenangnya. Cinta memang selalu punya jalannya sendiri!

Tapi, tulisan ini tak hendak bercerita tentang romantisme cinta. Catatan ini justru ingin mencerna ulang fenomena banyak toko buku yang akhirnya gulung lapak. Awal tahun 2000-an adalah masa keemasan toko buku. Penaka cendawan dimusim penghujan. Dikalangan aktivis dakwah, ada nana-nana besar semisal Al-I’tisham, Fatahillah, Senyum Muslim, Wali Songo, Bahkan ada toko buku kecil tapi sangat mewarnai perjalanan dakwah di kota kecil Cikarang Barat, toko buku Abata.

Sejak era media sosial dengan beragam platform membanjiri ruang publik kita, seolah menjadi gelombang disrupsi yang menghempas tradisi membalik halaman buku menjadi budaya scrooling FB, Instragram, Tik-tok, dll. Hingga panorama indah orang membaca buku saat di halte bus, di dalam angkutan kota, dan tempat-tempat lain sangat jarang kita lihat kini. Demikian juga tradisi tulis- menulis yang kian melemah. Disamping soal maraknya praktek bajak-membajak juga karena kian surutnya animo baca.

Padahal para sejarawan membagi dua periodesasi perjalanan sejarah manusia, era prasejarah dan sejarah. Ciri dominan fase prasejarah yang terbentang sejak era Palaeolitikum hingga Neolitikum adalah belum ditemukannya tradisi menulis. Karenanya masa ini disebut “Nirleka”, tak ada tulisan. layakah kita sebut masa kini kita sebut kemunduran peradaban?

Tengoklah biografi para Founding Father kita. Niscaya kita akan temukan panorama indah tentang relasi manusia dengan buku. Saat bung Karno dibuang ke Ende, Ia membawa serta buku-bukunya. Demikian juga Bung Hatta. Bahkan beliau menjadikan buku karyanya, Alam Fikiran Yunani, sebagai mahar perkawinan dengan istrinya. Begitulah orang-orang besar punya selera dan citarasa tentang buku dan cinta.

Begitu pulalah dengan Syaikh Al-Qharadhwy, beliau menjalani hari-hari berat di dalam penjara Thanta bersama kitab I’Lamul Muwaqiin  karangan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (1292-1350 M).

Juga Tahukah kita, bahwa sebagian tulisan yang menjadi Magnum opus para pemikir besar juga lahir dimasa- masa sulit. Semisal Majmuatul Fatawa sebagiannya ditulis Ibnu Taimiyah  (1263-1328 M) didalam penjara yang ditulisnya dengan arang sisa-sisa pembakaran api unggun pengusir hawa dingin.  Bahkan dari penderitaan berat Imam As-Sarakhsi Al-Hanafi saat diasingkan didalam sumur lahirlah 15 jilid kitab Al- Mabsuth!

Akhirnya, tulisan ini hanya hendak mengajak agar kita kembali pada ekosistem ilmiyah kita. Kembali pada peradaban kutub (kitab-kitab), bukan peradaban YouTube.

#GoresanAkhirPekan

Rusdi Haryadi

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com