

PKS BEKASI, CIBITUNG – Senja mulai turun di kawasan Villa Mutiara, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Di sebuah kios sederhana yang berada di jalur alternatif para pekerja menuju kawasan industri, aroma harum ubi Cilembu yang baru matang dari oven menggoda siapa saja yang melintas.
Di balik usaha kecil tersebut, tersimpan kisah tentang kerja keras, ketekunan, dan semangat kemandirian ekonomi seorang kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bernama Rochim.
Pria kelahiran 1975 ini bukanlah pengusaha yang memiliki banyak waktu luang. Sudah 31 tahun ia mengabdikan diri sebagai karyawan di sebuah perusahaan otomotif ternama. Dengan masa pensiun yang diperkirakan tinggal sekitar empat tahun lagi, Rohim justru memilih untuk tidak berpangku tangan menunggu hari tuanya tiba.
Baginya, masa pensiun bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, ia ingin mempersiapkan kehidupan yang tetap produktif melalui usaha yang dirintis sejak masih aktif bekerja.
“Saya ingin menambah penghasilan sekaligus menjalankan sunnah dengan berdagang, sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah,” tutur Rochim menjelaskan motivasinya membuka usaha sampingan.
Tak Ingin Pensiun Hanya Berdiam Diri
Ada kegelisahan yang mendorong Rochim untuk mulai berwirausaha. Selama puluhan tahun bekerja, ia menyaksikan sejumlah rekannya yang telah memasuki masa pensiun justru kebingungan menentukan aktivitas setelah tidak lagi bekerja.
Orang-orang yang sebelumnya terbiasa bergerak dan memiliki rutinitas padat mendadak kehilangan kesibukan sehari-hari.
Menurut Rochim, perubahan drastis dari kehidupan aktif menjadi kurang produktif bisa berdampak pada kondisi fisik maupun mental seseorang.
Karena itu, ia bertekad untuk memiliki kegiatan yang menghasilkan sekaligus membuat dirinya tetap aktif setelah pensiun.
Ia juga melihat berdagang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan hanya mengandalkan penghasilan bulanan.
Meski keuntungan yang diperoleh tidak selalu besar, aktivitas jual beli memungkinkan seseorang mendapatkan pemasukan secara rutin.
Bagi Rochim, yang terpenting bukan sekadar besarnya keuntungan, melainkan keberanian memulai dan konsistensi menjalankan usaha.
Dari Ikan Hias hingga Menemukan Peluang Ubi Cilembu
Perjalanan Rochim dalam dunia usaha ternyata tidak dimulai dari ubi Cilembu.
Jauh sebelumnya, sekitar tahun 2010 hingga 2017, ia pernah membuka kios ikan hias. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk memahami seluk-beluk berdagang, melayani pelanggan, hingga menghadapi berbagai tantangan usaha.
Setelah beberapa waktu, Rochim kembali mencoba peruntungan melalui komoditas yang berbeda.
Sekitar tahun 2024, ia mulai menjual ubi Cilembu mentah. Saat itu, usahanya masih sederhana dan belum memiliki proses pengolahan sendiri.
Melihat peluang pasar yang cukup menjanjikan, pada September 2025 ia mulai mengembangkan usahanya dengan menjual ubi Cilembu matang hasil pemanggangan.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Menurutnya, usaha ubi Cilembu relatif mudah dipelajari, tidak membutuhkan modal awal terlalu besar, dan proses pengolahannya bisa dikuasai secara otodidak.
Dengan kemauan belajar dan keberanian mencoba, ia perlahan menemukan cara menghasilkan ubi panggang dengan tekstur lembut dan rasa manis khas yang disukai pelanggan.
Di Balik Aroma Ubi Panggang, Ada Perjuangan Sang Istri
Kesuksesan sebuah usaha keluarga tentu tidak bisa dilepaskan dari kerja sama orang-orang di dalamnya. Begitu pula dengan usaha Rohim.
Di balik kesibukannya sebagai karyawan, ada sosok istri yang menjadi mitra sekaligus penyemangat dalam menjalankan bisnis ubi Cilembu tersebut.
Sang istri memiliki peran penting, mulai dari menyiapkan ubi yang akan dipanggang hingga melayani para pembeli ketika Rohim masih berada di tempat kerja.
Biasanya, selepas waktu Asar, istrinya sudah mulai membuka kios kecil mereka di kawasan Villa Mutiara.
Lokasinya cukup strategis karena berada di jalur alternatif yang kerap dilalui pengendara sepeda motor, khususnya para pekerja yang beraktivitas di kawasan industri Kabupaten Bekasi.
Ketika jam kerja usai, Rohim tidak langsung beristirahat di rumah. Ia menyempatkan diri datang ke kios untuk menemani istrinya berjualan.
Terkadang keduanya bergantian menjaga kios, menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing.
Bagi pasangan ini, usaha bukan semata-mata tentang mencari tambahan penghasilan. Ada kebersamaan, saling mendukung, dan semangat membangun masa depan keluarga di dalamnya.
Rahasia Ubi Cilembu Lembut dan Manis
Di tangan Rohim, ubi Cilembu tidak sekadar dimasukkan ke dalam oven lalu ditunggu hingga matang.
Ada proses yang harus diperhatikan agar tekstur dan cita rasanya sesuai harapan.
Ia mengawali proses pengolahan dengan memanaskan oven hingga mencapai suhu sekitar 150 derajat Celsius.
Sambil menunggu suhu oven stabil, ubi yang telah disiapkan dipotong sedikit pada kedua bagian ujungnya.
Setelah oven mencapai suhu yang diinginkan, ubi dimasukkan dan disusun secara berbaris dengan arah yang sama.
Rohim kemudian menggunakan pengatur waktu untuk memastikan proses pemanggangan berlangsung terkontrol.
Setiap 30 menit, ubi dibalik agar panas merata. Proses pembalikan dilakukan hingga tiga kali atau disesuaikan dengan tingkat kematangannya.
Ketika teksturnya sudah empuk dan aroma khas ubi panggang mulai tercium, ubi siap diangkat dan disajikan.
Ketelatenan itulah yang menjadi salah satu kunci kualitas dagangannya.
Salah seorang pelanggan bernama Heri mengaku menyukai cita rasa ubi Cilembu olahan Rohim.
“Ubinya lembut dan madunya berasa banget,” ujar Heri memberikan testimoni.
Untuk harga, Rohim menawarkan ubi Cilembu matang sebesar Rp26.000 per kilogram atau Rp13.000 untuk kemasan setengah kilogram. Sementara ubi mentah dijual Rp16.000 per kilogram.
Selain melayani pembelian langsung di kios, ia juga menerima pesanan melalui layanan pesan antar atau delivery order pada jam-jam tertentu, khususnya ketika ubi sudah matang dan siap dikonsumsi.
Menariknya, sebagian pelanggan berasal dari lingkungan pertemanan dan kegiatan keagamaan, seperti peserta halaqah maupun pengajian atau taklim yang diselenggarakan di rumah.
Kader PKS Ini Bermimpi Memiliki Delapan Cabang
Meski usaha yang dijalankan masih tergolong sederhana, Rohim menyimpan cita-cita yang tidak kecil.
Saat ini, ia mengaku sudah berhasil membuka satu cabang tambahan di lokasi berbeda yang dikelola oleh seorang rekannya.
“Alhamdulillah, saya sudah membuka satu cabang ubi Cilembu di tempat lain yang dikelola oleh ikhwah kita juga,” ungkapnya.
Namun, langkah tersebut baru awal dari rencana pengembangan usahanya.
Rohim menargetkan suatu hari nanti bisnis ubi Cilembu yang dirintis bersama istrinya bisa berkembang hingga memiliki delapan cabang.
Menariknya, konsep pengembangan yang ia rencanakan cukup sederhana dan memungkinkan orang lain ikut menjalankan usaha serupa.
Bagi calon mitra yang ingin membuka kios ubi Cilembu, Rohim berencana membantu menyediakan oven sekaligus memberikan panduan teknik pemanggangan agar kualitas produknya tetap terjaga.
Calon mitra cukup menyiapkan tempat berjualan yang berada di lokasi cukup ramai. Tidak harus berupa toko besar, kios berukuran kecil pun dinilainya sudah memadai untuk memulai.
Dengan konsep tersebut, Rohim berharap usahanya tidak hanya berkembang bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat membuka peluang penghasilan bagi orang lain.
Pesan Rohim untuk Kader PKS: Jangan Terlalu Lama Berpikir, Segera Eksekusi
Rohim memiliki latar belakang kehidupan yang menarik. Meski keluarganya berasal dari Jawa Tengah, ia lahir di Jakarta dan menghabiskan sekitar 24 tahun masa awal kehidupannya di kawasan Kemayoran.
Tak heran jika logat Betawi masih terasa kental dalam percakapannya sehari-hari.
Pengalaman hidup di lingkungan perkotaan, puluhan tahun bekerja di industri otomotif, hingga jatuh bangun mencoba usaha menjadi bagian dari proses yang membentuk karakter pekerja keras dalam dirinya.
Kini, di tengah tanggung jawab pekerjaan dan keluarga, Rohim terus berusaha membuktikan bahwa membangun usaha tidak harus menunggu memiliki modal besar ataupun menanti masa pensiun.
Sebagai kader PKS di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, ia berharap pengalamannya bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya sesama kader, untuk mulai membangun kemandirian ekonomi dari peluang-peluang sederhana di sekitar mereka.
Baginya, sebuah usaha yang besar selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Rohim menyampaikan pesan sederhana, tetapi penuh makna.
“Jangan berpikir panjang untuk memulai usaha. Fokus satu usaha, lalu eksekusi.”
Sebuah pesan yang lahir bukan sekadar dari teori, melainkan dari pengalaman seorang pekerja yang memilih tetap produktif, bahkan sebelum masa pensiunnya tiba.
Dari sebuah kios kecil dan aroma ubi Cilembu yang mengepul setiap sore, Rohim sedang merajut mimpi besar: membangun kemandirian ekonomi keluarga sekaligus membuka jalan rezeki bagi sesama.
Penulis: Kang Holil