Ahad, 30 Agustus 2026.
Pagi itu, peserta LATANSA mulai bersiap untuk berangkat dari DPD PKS Kabupaten Bekasi menuju Gunung Pancar, Bogor.
Ada banyak cara untuk menikmati perjalanan.
Bisa duduk nyaman di dalam mobil, berbincang bersama teman, atau sekadar menikmati pemandangan sepanjang jalan.
Bahkan, sebenarnya sudah ada mobil panitia yang menawarkannya untuk ikut.
Tapi Sri Suharni memilih jalan yang berbeda.
Ia justru mengambil posisi di bagian belakang tengah tronton, dan bertahan di sana sejak awal pemberangkatan.
Awalnya mungkin ada yang bertanya-tanya,
“Kenapa tidak ikut mobil saja? Bukankah lebih nyaman?”
Ternyata jawabannya sederhana.
Ia sedang memulai liputan.
Dari titik keberangkatan hingga perjalanan menuju Gunung Pancar, ia ingin merekam setiap cerita yang terjadi. Bukan hanya saat peserta sudah sampai di lokasi, tetapi juga perjalanan menuju ke sana—suasana di dalam kendaraan, wajah-wajah penuh semangat, kebersamaan, dan momen-momen kecil yang mungkin akan terlupakan jika tidak diabadikan.
Duduk di belakang tronton tentu bukan pilihan yang paling nyaman.
Tetapi bagi seorang yang bertugas mendokumentasikan perjalanan, kenyamanan terkadang harus dikesampingkan demi mendapatkan cerita.
Dari DPD PKS Kabupaten Bekasi, kamera mulai merekam.
Kilometer demi kilometer dilewati.
Dan tanpa banyak yang menyadari, dari belakang tronton itu, Sri Suharni sedang mengumpulkan kepingan-kepingan cerita LATANSA.
Karena sebuah liputan yang baik bukan hanya tentang merekam apa yang terjadi di panggung utama.
Tetapi juga tentang hadir sejak perjalanan dimulai.
Dan hari itu, dari Bekasi menuju Gunung Pancar, Sri Suharni membuktikan satu hal:
Untuk mendapatkan sebuah cerita, terkadang kita harus bersedia menempuh perjalanan dari sudut yang tidak biasa.
🎥 LATANSA 2026 — bukan sekadar perjalanan menuju lokasi, tetapi perjalanan yang penuh cerita. (“)















