Banjir adalah musibah yang tidak memilih siapa korbannya. Banjir datang tanpa undangan, menyentuh rumah-rumah sederhana maupun yang kokoh, menguji kesabaran orang biasa hingga para aktivis yang terbiasa melayani. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada satu pun di antara kita yang pantas merasa paling kuat, dan tidak pula layak menghakimi siapa yang sedang lemah.
Sebagai kader PKS, kita diajarkan sejak awal bahwa musibah bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ruang pendidikan ruhani. Islam mengajarkan tawakal tanpa mematikan ikhtiar, serta kesabaran tanpa kehilangan harga diri. Maka, ketika banjir datang, yang pertama kali perlu kita jaga bukan hanya harta dan keselamatan keluarga, tetapi juga cara pandang dan sikap batin kita.
Dalam situasi sulit, bantuan adalah hal yang manusiawi. Islam pun mengajarkan ta’awun, saling tolong-menolong dalam kebaikan. Namun, ada perbedaan yang halus tetapi penting antara menerima bantuan dan memelihara mental meminta-minta. Yang pertama adalah bentuk ukhuwah, sedangkan yang kedua perlahan bisa menggerus kemandirian dan martabat perjuangan.
Mental meminta-minta bukan selalu tentang tangan yang menengadah, tetapi tentang hati yang terlalu bergantung. Ketika musibah menjadikan kita kehilangan daya juang, lalu merasa bahwa solusi hanya datang dari luar diri kita, di situlah kewaspadaan perlu dihadirkan. Kader adalah subjek perubahan, bukan objek belas kasihan. Bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun, identitas itu tetap melekat.
Bantuan boleh datang dan patut disyukuri. Namun, hendaknya hanya diposisikan sebagai penopang sementara, bukan sandaran utama. Kita tetap berusaha membersihkan rumah, menyelamatkan barang yang tersisa, saling bergotong royong dengan tetangga, dan mencari jalan bangkit sesuai kemampuan. Di situlah nilai kaderisasi bekerja, bahwa krisis tidak mematikan kontribusi, justru menajamkannya.
Lebih dari itu, musibah adalah momen untuk memperkuat solidaritas, bukan memperlemah kepercayaan diri. Kader yang tertimpa banjir tetaplah kader yang punya peran, suara, dan teladan. Cara kita bersikap di tengah kesempitan akan menjadi pelajaran bagi masyarakat sekitar bahwa orang beriman bisa terluka, tetapi tidak kehilangan arah. Juga bisa kekurangan, tetapi tidak kehilangan kehormatan.
Semoga banjir yang kita alami menjadi sebab naiknya derajat, bukan turunnya semangat. Menjadi ladang pahala, bukan pintu ketergantungan. Dan menjadikan kita semakin yakin bahwa pertolongan Allah selalu dekat, sering kali datang melalui tangan sesama, tetapi tetap menuntut kaki kita untuk melangkah.
Penulis : Ustadz Ahmad Fadhilah















