::
DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi -
Website DPD PKS Kabupaten Bekasi
Mengenal PKS

Ayah, Pembuka Pintu Surga Kita


Setiap kita mempunyai kenangan tersendiri akan sosok ayah. Kerja kerasnya, ketegarannya, cinta
kasihnya selalu ada untuk kita. Walau kadang semua itu tak nampak. Ayah, sosok pahlawan keluarga
yang kerap menyimpan bebannya sendiri.


Ayah anugerah penuh makna yang Allah beri dalam hidup kita. Segala kelebihan dan kekurangannya
mewarnai hari-hari kita. Siapapun kita, tak mungkin bisa menghapus nama ayah dari relung hati
terdalam kita. Menjadi apa kita hari ini, merupakan buah lelah ayah kita yang disertai alunan do’a
penuh harapnya untuk kebaikan kita. Kalaupun ada kasihnya yang dirasa kurang, batin dewasa kita
tentu punya seribu satu alasan untuk memahami, bahwa ayah juga manusia biasa.
Dulu ayah mungkin nampak tak terlalu perhatian pada perkembangan kita. Tapi kita tahu, hatinya
selalu terpaut dengan tanyanya “Bagaimana anak kita?” pada ibu. Mungkin memori kita lebih banyak
merekam ibulah yang setia mengurus keperluan kita. Namun kita sadar, ayahlah yang rela bertaruh
“kepala jadi kaki, kaki jadi kepala” demi memastikan kebutuhan dan keperluan kita tersedia.


Nabi Saw bersabda: “Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai
Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika
mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR.
Muslim no. 2551)


Berbakti kepada ayah, tak perlu dibandingkan dengan bakti kepada Ibu. Karena pahala bakti pada ayah,
juga menjadi pembuka pintu surga yang harus diperjuangkan. Jika di luar sana ada yang tega melempar
tanggung jawab untuk mengurus dan membersamai ayah sepuhnya, jangan menjadikan kita gusar.
Tampillah kita merawat, membersamai dan membahagiakannya agar kelak kita tak menyesal.
Lipatgandakanlah bakti kita, walau ayah telah tiada. Sebesar apapun dan dengan cara apapun kita
berbakti, tak akan pernah bisa sebanding dengan murninya kasih dan besarnya pengorbanan ayah demi
kehidupan dan masa depan kita.


Kita, Dan Para Ayah Masa Depan


Dan kini, sebagaimana sunnatullah yang mempergilirkan segala sesuatu sesuai waktu dan ukurannya,
tibalah saat kita mendapat giliran menjalankan peran ayah ini. Peran Ayah, yang menjadi pemimpin
dalam keluarga, yang menjadi pahlawan bagi anak-anaknya, yang menjadi panutan sepanjang
kehidupan keturunannya. Peran mulia yang Allah titipkan kepada kita dalam satu kata penuh makna
yang disebut “Ayah”. Sudahkah amanah Ilahy itu kita lakonkan dengan baik sesuai pesan Sang
Pemberi Amanah? Sudahkah kita meningkatkan kualitas kepemimpinan kita sehingga kuat menjadi
lokomotif yang menarik gerbong keluarga menuju syurga-Nya? Atau…sudahkah kita tampilkan
keteladanan yang diikuti oleh anak keturunan kita sehingga mereka bersaksi bahwa keteladanan
berakhlak mulia mereka dapatkan dari sosok ayah ?

Setiap zaman ada pelakunya, dan setiap pelaku meiliki zamannya. Anak-anak kita hidup di masa kini.
Masa Ketika segala sesuatu berbeda jauh dari apa yang kita alami di masa kecil. Pengasuhan untuk
buah hati kita, tak bisa lagi mengandalkan copy paste dari didikan yang kita terima dari ayah kita dulu.
Kita perlu terus belajar dan meningkatkan berbagai skill kita, agar anak-anak kita mampu belajar dari
kita ayahnya, bagaimana menghadapi tantangan zaman yang dihadapinya.


Rasulullah SAW bersabda: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di
zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan
kalian diciptakan untuk zaman kalian”.


Sebagai pengingat diri, mari aktif berefleksi dalam poin berikut :


A. Ayah, Pemimpin Di Keluarga
“Lelaki (suami) itu pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah
memberikan nafkah dari hartanya….”. (QS An Nisa: 34)


Keberhasilan pengasuhan anak dimulai dari ibu yang bahagia. Stabilitas emosi dan rasa bahagia
seorang ibu akan memberikan energi positif pada keluarganya. Karenanya, salah satu upaya ayah
dalam memberikan pengasuhan terbaik adalah memastikan segala kewajiban ayah terhadap
keluarga, khususnya ibu, terpenuhi dengan baik.

  1. Bertanggungjawab dalam nafkah keluarga.
    • Jabir bin Abdillah RA menyampaikan bahwa dalam haji wada, Rasulullah SAW
    menyampaikan pesan: “…Para istri memiliki hak atas kalian pada rezeki dan pakaian dengan
    ma’ruf.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah).
    • Imam Syafi’I menjelaskan cakupan ma’ruf adalah memberi kelebihan rizki kepada istri baik
    diminta ataupun tidak, secara ikhlas memenuhi segala kebutuhan tanpa paksaan dan tidak
    memperlihatkan kekesalan saat memberikannya. Kapan saja seorang suami mengabaikan hal
    itu, ia telah berbuat dzalim dengan menangguhkan hak orang lain.
    • Tidak hanya untuk istri, ayah juga bertanggung jawab atas nafkah untuk anak-anaknya. Setiap
    anak memiliki hak untuk memperoleh taraf kehidupan yang layak untuk perkembangan tubuh,
    akal, jiwa, agama dan sosialnya.
  2. Ringan membantu mengerjakan urusan rumah tangga.
    • Ketika ditanya tentang apa saja yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah, Aisyah RA
    menjawab, “Beliau terbiasa membantu melakukan urusan rumah tangga. Tapi bila waktu
    shalat tiba maka beliau pergi untuk menunaikan shalat.”
    • Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Aisyah RA berkata, “Beliau adalah manusia
    pada umumnya yang mengurusi pakaiannya dan memeras air susu kambingnya dan
    memenuhi kebutuhannya sendiri.”
    • Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau menjahit pakaian nya, membetulkan sandalnya, dan
    mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dikerjakan kaum laki-laki pada umumnya di rumahrumah mereka.”
  3. Saling menunaikan hak dengan pasangan.
    Untuk mendapatkan keharmonisan keluarga, pasangan suami istri juga harus menunaikan hak
    masing-masing, di samping menunaikan kewajiban tadi. Di antaranya hak untuk mendapatkan
    kasih sayang, hak dimuliakan, hak nafkah batin, hak mendapat keturunan, dan berbagai hak
    lainnya yang akan menambah ketenangan jiwa. Sehingga menumbuhkan suasana kondisif dalam
    penguatan kepribadian anak.

B. Ayah Menanamkan Hal-hal Prinsip Kehidupan


QS At Tahrim 6 : “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”


Apapun kondisinya, ayah sebagai kepala keluarga wajib memastikan bahwa hal-hal prinsip
berikut sudah ia tanamkan pada anak:


1) Pengokohan Aqidah
Pembentukan aqidah adalah cara menanamkan rasa cinta kepada Allah, meminta pertolongan
kepadaNya, memperdalam serta menanamkan pengawasan Allah dalam setiap gerak
kehidupan. Juga menanamkan iman kepada qadha dan qadar, sehingga anak mampu
menghadapi berbagai dinamika kehidupan di masa depannya.


2) Pembiasaan Ibadah
• Rasulullah Saw telah memberikan kabar gembira untuk anak-anak yang tumbuh dengan
ibadah, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu Umamah r.a
bahwa Rasulullah Saw bersabda, ” Tidak seorang pun anak yang tumbuh dengan ibadah
sampai dia meninggal dunia kecuali Allah akan memberikannya pahala 99 orang jujur
kepadanya.”
• Ibnu Abdul Barr meriwayatkan bahwa Umar r.a berkata, “Kebaikan anak kecil dicatat
sedangkan amal keburukannya tidak dicatat.


C. Ayah, Menunaikan Hak Anak


Umar bin Khatab didatangi seorang ayah yang hendak mengadukan anaknya yang ia nilai durhaka
kepadanya? Sebelum diputuskan bersalah, sang anak menanyakan dulu apa hak anak terhadap
orangtuanya? Umar menjawab, “Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang baik, dan
mengajarkan Al Qur’an kepada anaknya.”
Sang anak pun menjawab tegas, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah
melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan
yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum
pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (Al-Qur’an).”
Umar pun menegur si Ayah, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu.
Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat
baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”
Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran bahwa orangtua pun khususnya Ayah bisa durhaka
kepada anak ketika tidak menunaikan 3 kewajiban tadi.


D. Ayah Membangun Kelekatan Emosi dan Keharmonisan Keluarga


Kelekatan emosi adalah rasa aman dan penuh kehangatan yang dapat diberikan oleh orang tua dan
keluarga kepada anaknya. Adanya kelekatan emosi anak dengan orang tua berguna untuk
membentuk kepercayaan sebagai pondasi sosial pertama dalam kehidupan individu. Dengan
kepercayaan kepada orang tua, anak belajar mempercayai orang lain. Oleh karena itu kelekatan
emosi menjadi penting dalam menumbuhkan kompetensi kepercayaan dirinya. Anak yang tumbuh
diasuh dengan kasih sayang dan kehangatan akan tumbuh menjadi anak yang juga penuh kasih
sayang kepada orang lain.


E. Ayah Menjaga Keshalihan Diri


Keshalihan orang tua bermanfaat bagi anak dan memiliki pengaruh besar terhadap jiwa anak untuk tumbuh dalam ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Dalam surat Al Kahfi Allah Swt berfirman,
“Dan orang tua mereka berdua adalah orang shalih.” Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa kakek ke-7
dari mereka adalah orang yang shalih dan memberikan manfaat bagi cucunya. Maka dari itu salah
seorang shalih berkata, “Wahai anakku sesungguhnya aku memperbanyak shalat untuk kamu.”
Said bin Al-Musayyab dalam suatu kesempatan juga berkata, “Aku salat selalu teringat akan anak
cucuku, maka aku tambahi lagi shalatku.”


Diriwayatkan bahwa Allah menjaga orang shalih dalam tujuh keturunannya. Inilah yang
ditunjukkan dalam firman Allah Swt, “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah
menurunkan alkitab Al Qur’an dan melindungi orang-orang yang shalih.” Dalam tafsir tafsir Al
qurthubi menyebutkan hal ini. Intinya, ayah yang baik adalah ayah yang menyiapkan dirinya
dengan persiapan wawasan keilmuan, mental emosi, psikis dan spiritual, terutama doa dan ketaatan
kepada Allah.


Tak ada Ayah yang sempurna, namun akan selalu ada sejuta cinta untuk ayah.


Selamat Memaknai Hari Ayah Tahun 2021.
Jakarta, 11 November 2021


Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga
DPP Partai Keadilan Sejahtera
Dr. Kurniasih Mufidayati, M.Si

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com