PKS Bekasi – Ketua DPP PKS Bidang Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Partai (BPPKP), Muhammad Iqbal, menyampaikan materi Kepemimpinan Strategis dalam kegiatan Kemah Bela Negara (Kembara) Anggota Pelopor PKS Kabupaten Bekasi di Bumi Kepanduan Sentul, Bogor, Sabtu (17/10).
Dalam pemaparannya, Muhammad Iqbal menegaskan bahwa tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar. Karena itu, seseorang yang ingin menjadi pemimpin harus siap menghadapi berbagai risiko, tantangan, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Menurutnya, kehidupan merupakan rangkaian pilihan yang menuntut keberanian untuk melangkah. Pengalaman, termasuk pengalaman menghadapi kegagalan, menjadi salah satu sumber pembelajaran penting yang membentuk ketangguhan seorang pemimpin.
“Ada tiga hal yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu bertanggung jawab, memiliki kepribadian yang supel, dan berani,” tegasnya.
Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa tanggung jawab merupakan karakter pertama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tanggung jawab tersebut bukan perkara mudah, terlebih bagi mereka yang mengemban amanah dakwah.
Ia mengingatkan bahwa dakwah merupakan amanah besar yang berkaitan dengan tugas para nabi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawabnya, tidak mudah menghindar ketika menghadapi persoalan, serta siap menanggung konsekuensi dari setiap keputusan.
Tanggung jawab kepemimpinan juga menuntut kesadaran bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberikan dampak kepada banyak orang. Karena itu, pemimpin harus mampu menempatkan amanah di atas kepentingan pribadi dan menjalankannya dengan penuh kesungguhan.
Karakter kedua yang disampaikan Muhammad Iqbal adalah kepribadian yang supel, yakni kemampuan membangun hubungan, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan berbagai kalangan.
Ia menekankan bahwa pengalaman menghadapi kekalahan dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam proses pendewasaan seorang pemimpin.
“Kekalahan itu adalah ilmu yang paling mahal. Pelajarannya adalah kita harus menjadi gentleman, siap menang dan siap kalah,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan dalam politik tidak pernah semata-mata merupakan hasil kerja satu orang. Ada kontribusi banyak pihak, kerja sama, dan proses kolektif yang turut menentukan pencapaian.
Karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki sikap terbuka, mampu menghargai kontribusi orang lain, serta menjadikan kemenangan maupun kekalahan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki langkah ke depan.
Karakter ketiga adalah keberanian. Muhammad Iqbal mengingatkan bahwa pemimpin tidak boleh hanya berdiam diri tanpa mengambil langkah nyata. Keberanian diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mengambil inisiatif, menghadapi risiko, dan tampil memberikan kontribusi di tengah masyarakat.
“Kalau kita diam saja, apa alasan rakyat akan memilih kita? Kita harus bersuara. Keberanian adalah modal bagi seorang pemimpin,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengambil kesempatan dan tidak takut menghadapi kemungkinan gagal.
“Lebih baik maju tetapi kalah daripada tidak maju sama sekali,” tegasnya.
Dalam konteks kepemimpinan politik, ia mendorong kader agar berani mengambil langkah strategis, termasuk mempersiapkan kader untuk tampil sebagai pemimpin di berbagai tingkatan. Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya keberanian PKS untuk mengusung calon presiden sendiri pada masa mendatang.
Menurutnya, keberanian bukan sekadar persoalan tindakan, tetapi juga berkaitan dengan kekuatan mental, kesiapan menghadapi konsekuensi, serta keyakinan untuk terus berikhtiar.
Lebih lanjut, Muhammad Iqbal mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh kehabisan akal ketika menghadapi persoalan. Kemampuan menghasilkan ide, mencari alternatif, dan menemukan solusi menjadi bagian penting dari kepemimpinan strategis.
Ia menyampaikan ungkapan, “Berpikir seperti orang Minang, bekerja seperti orang Jawa, dan berbicara seperti orang Batak,” sebagai ilustrasi tentang pentingnya memadukan kecakapan berpikir, etos kerja, dan keberanian berkomunikasi.
Menurutnya, kreativitas akan tumbuh ketika seseorang terus berusaha mencari kemungkinan dan tidak berhenti pada satu cara penyelesaian.
Namun, kreativitas saja tidak cukup. Pemimpin juga harus mampu mengambil keputusan berdasarkan data dan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata mengandalkan insting.
“Pemimpin tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan insting. Dia harus punya data, berpikir secara strategis, serta memahami apa risikonya dan apa dampaknya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa proses membangun kepemimpinan dapat dimulai dari orang-orang yang memiliki kemauan untuk terlibat, kemudian dibina agar memiliki kemampuan yang dibutuhkan.
Prinsip tersebut menekankan pentingnya inisiatif, pembinaan, dan pengembangan kapasitas kader secara berkelanjutan.
Dalam bagian lain pemaparannya, Muhammad Iqbal menyoroti pentingnya penokohan sebagai bagian dari proses membangun kepemimpinan. Menurutnya, setiap kader perlu memiliki kapasitas dan kontribusi yang jelas di bidang masing-masing agar kehadirannya dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kesibukan membangun penokohan tidak boleh membuat seseorang melupakan proses membangun kualitas diri.
“Kita sibuk dengan penokohan, tetapi lupa menokohkan diri. Antum harus menjadi tokoh di bidang masing-masing. Jadilah tokoh, jadilah pemimpin di masyarakat,” pesannya.
Ia menjelaskan bahwa penokohan juga berkaitan dengan proses membangun kesepahaman dan dukungan terhadap seseorang untuk mengemban peran kepemimpinan.
Dalam konteks politik elektoral, Muhammad Iqbal mengingatkan pentingnya mempersiapkan kader agar memiliki kesempatan untuk tampil sebagai calon pemimpin. Menurutnya, nama seseorang yang tercantum dalam surat suara membuka peluang untuk terpilih dan dilantik, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada proses pemilihan.
Karena itu, ia mengajak kader untuk mengidentifikasi dan membina talenta-talenta muda potensial yang dapat dikembangkan menjadi pemimpin di masa depan.
“Cari talenta-talenta yang akan kita orbitkan,” pesannya.
Menutup pemaparannya, Muhammad Iqbal mengingatkan bahwa keberhasilan dalam kepemimpinan dan perjuangan politik tidak hanya ditentukan oleh perencanaan dan usaha manusia. Ikhtiar harus dilakukan secara maksimal, disertai kesungguhan, keberanian, dan strategi yang tepat, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
“Kemenangan itu bukan hanya soal suara, tetapi juga soal takdir. Kemenangan itu di tangan Allah,” ungkapnya.
Materi Kepemimpinan Strategis ini menjadi bagian dari rangkaian Kembara Anggota Pelopor PKS Kabupaten Bekasi yang diikuti 325 peserta di Bumi Kepanduan Sentul, Bogor.
Melalui pembekalan tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya tanggung jawab, kemampuan membangun relasi, keberanian mengambil risiko, kreativitas, serta kecakapan berpikir strategis.
Kegiatan ini juga diharapkan mendorong lahirnya kader-kader yang siap mengambil peran kepemimpinan, mengembangkan potensi sesama, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sesuai bidang pengabdiannya.