::
DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi -
Website DPD PKS Kabupaten Bekasi
Mengenal PKS

Ketika Seekor Ayam Lebih Mahal daripada Masa Depan Seorang Anak

PKS Bekasi — Ada berita yang selesai dibaca dalam hitungan menit. Tapi ada berita yang meninggalkan luka panjang di hati. Salah satunya adalah kisah seorang anak yang kehilangan ayahnya setelah sang ayah diduga mencuri seekor ayam.

Entah bagaimana proses hukum akan membuktikan benar atau tidaknya dugaan itu. Yang pasti, seorang anak telah kehilangan sosok yang seharusnya menjadi tempat ia bersandar. Dan kita pun kembali bertanya, apakah hukum kita sudah benar-benar menghadirkan keadilan, atau sekadar menghukum?Hukum memang harus ditegakkan. Tidak boleh ada pembenaran terhadap pencurian, sekecil apa pun nilainya. Sebab jika kejahatan dibiarkan, masyarakat akan kehilangan rasa aman.

Namun, hukum yang baik bukan hanya tegas. Ia juga memiliki hati. Ia mampu membedakan antara penjahat yang merampas hak orang lain demi keserakahan dengan orang yang terjerat kemiskinan, kebodohan, atau keadaan yang menghimpit.

Rasa keadilan masyarakat sering terusik bukan karena hukum ditegakkan, tetapi karena hukum terasa tumpul kepada yang kuat dan tajam kepada yang lemah. Ketika kasus-kasus besar berjalan lambat, sementara perkara kecil begitu cepat berakhir dengan penderitaan, masyarakat pun bertanya: apakah timbangan hukum benar-benar seimbang?

Islam telah memberikan teladan yang luar biasa dalam menegakkan hukum.

Suatu ketika, seorang perempuan dari Bani Makhzum melakukan pencurian. Karena berasal dari keluarga terpandang, sebagian orang ingin agar hukum tidak dijalankan. Mereka meminta Usamah bin Zaid menyampaikan permohonan kepada Rasulullah ﷺ.

Namun Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah apabila orang terpandang mencuri mereka membiarkannya, tetapi apabila orang lemah mencuri mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan kupotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan beliau sangat jelas: tidak boleh ada diskriminasi dalam penegakan hukum.

Namun di sisi lain, Islam juga mengajarkan bahwa hukuman tidak boleh dilepaskan dari keadilan sosial.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, pernah terjadi musim paceklik yang hebat. Banyak orang kelaparan. Dalam kondisi itu, beliau tidak menerapkan hukuman potong tangan kepada pencuri yang terdorong oleh kelaparan. Bukan karena menganggap mencuri itu benar, tetapi karena negara dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Ketika sebab-sebab kezaliman belum diselesaikan, penegakan hukuman harus mempertimbangkan seluruh aspek keadilan.

Inilah indahnya syariat. Tegas terhadap kejahatan, tetapi juga peka terhadap kemanusiaan.

Kisah anak yang kehilangan ayahnya hendaknya menjadi cermin bagi kita semua. Jangan sampai ada keluarga yang hancur hanya karena kita gagal membangun sistem yang adil. Negara harus menghadirkan hukum yang tidak pandang bulu. Masyarakat harus saling peduli agar kemiskinan tidak mendorong seseorang melakukan pelanggaran. Dan kita semua harus belajar bahwa keadilan bukan sekadar menghukum, tetapi juga mencegah orang terpaksa berbuat salah.

Semoga tidak ada lagi anak yang harus tumbuh dengan air mata karena kehilangan ayahnya. Semoga hukum di negeri ini benar-benar menjadi pelindung bagi yang lemah, penindak bagi yang zalim, dan menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat.

Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa keras hukum ditegakkan, tetapi seberapa adil hukum itu dirasakan oleh setiap orang.

-BIRO KASTRA BIPEKA DPD PKS Kabupaten Bekasi –

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com