Setiap Sabtu malam, seperti biasa, saya bertugas menyampaikan ta’limat untuk kegiatan LIQO (UPA) pekanan melalui grup WhatsApp, termasuk informasi jadwal dan tempat berkumpul.
Kebetulan pada saat itu, lokasi kegiatan terjadwal di rumah Akh Supriyatno (Segara Jaya).
Hari Ahad tersebut cuaca cukup cerah, yang tentunya menambah semangat untuk beraktivitas dan mengisi waktu libur akhir pekan. Namun, sore harinya menjelang Maghrib, langit tiba-tiba mendung dan kemudian turun hujan.
Tentu saja, hujan merupakan sebuah keberkahan bagi kita semua atas nikmat yang Allah turunkan. Namun di sisi lain, hal itu juga menjadi sebuah ujian bagi kita terhadap janji atau kesepakatan yang telah ditetapkan.
Pada saat itu, saya mencoba mengonfirmasi ulang kesiapan Akh Supriyatno sebagai tuan rumah, dan ternyata beliau sudah siap dengan segala persiapannya.
Namun, tiba-tiba menjelang Isya, ada ta’limat susulan dari murabbi bahwa kegiatan UPA pada saat itu diliburkan karena situasi dan kondisi. Entah mengapa, saat itu saya sangat respek dalam menyikapi hal tersebut. Saya pun mencoba membalas ta’limat tersebut melalui pesan pribadi dengan isi:
“Afwan, Ustaz. Seharusnya UPA tidak diliburkan. Biarkan saja jika ada teman-teman yang tetap bisa hadir atau memilih izin. Karena waktu pembatalannya sudah sangat mepet, kecuali memang sejak sore hari.”
Pada masa itu, fasilitas HP belum memungkinkan untuk daring atau Zoom Meeting seperti sekarang.
Yang ada dalam benak saya saat itu adalah rasa kecewa dari tuan rumah yang sudah bersusah payah menyiapkan segala sesuatunya. Kita mungkin bisa memohon maklum kepada saudara-saudara kita atas ketidakhadiran tersebut, tetapi apakah kita bisa mengobati kekecewaan istrinya yang sudah berlelah-lelah menyiapkan waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk menyenangkan saudara-saudaranya dalam jamuan tersebut?
Maka pada saat itu, saya sampaikan kepada beliau bahwa saya akan tetap datang, meskipun hujan menggoda untuk rebahan di pembaringan.
Dan ternyata benar, pada saat itu beliau telah menyiapkan hidangan istimewa untuk menjamu saudara-saudaranya, yang seharusnya bisa dirasakan bersama dengan penuh keberkahan.
Akhi, lakukan yang terbaik dalam setiap peran, dan berusahalah menjadi yang terbaik dalam setiap waktu. Jangan berharap agar orang lain selalu ada, karena yang tulus akan selalu ada tanpa diminta.
Salah satu hadiah terindah dalam hidup adalah ketika orang-orang baik selalu hadir di dalamnya
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Bekasi, 16/7/2025
B. Setiawan Jundurrahman















