PKS Bekasi – Di banyak keluarga Muslim hari ini, kesungguhan orang tua dalam mendidik agama tidak perlu diragukan. Anak-anak disekolahkan di pesantren, dibiasakan sholat berjamaah, dan diarahkan untuk menghafal Al-Qur’an sejak dini. Dari luar, semua tampak berjalan ideal sesuai dengan visi-misi yang tertanam dalam setiap rumah tangga muslim.
Namun di balik kesungguhan orang tua dalam mendidik agama, muncul satu pertanyaan penting: Mengapa sebagian anak justru menjauh ketika mereka dewasa, bahkan sampai merasakan Islam sebagai pengalaman yang traumatis?
Banyak orang tua merasa berhasil karena anak terlihat patuh. Namun kepatuhan tidak selalu lahir dari kesadaran. Tidak sedikit anak patuh karena justru takut dimarahi, takut dicap durhaka, atau takut kehilangan cinta dari orang tuanya.
Kepatuhan semacam ini sifatnya rapuh. Anak belajar menyembunyikan perasaan, bukan mengelolanya. Mereka memang taat secara lahir, tetapi memendam luka secara batin. Ketika dewasa dan memiliki kemandirian, jarak pun pada akhirnya tercipta antara orangtua dan anak.
Menurut Dra. Ani Rukmini, M.Ikom, pendidikan Islam sejatinya diberikan secara bertahap melalui proses pembiasaan. Misalnya, anak diajarkan shalat sejak usia tujuh tahun, lalu pada usia sepuluh tahun diperbolehkan diberi sanksi jika tidak melaksanakannya. Namun, pendidikan Islam tidak berhenti pada aturan semata. Ia berdiri di atas tiga fondasi utama: kognisi (pengetahuan), afeksi (rasa dan tanggung jawab), serta psikomotorik (keterampilan).
Menghafal Al-Qur’an, misalnya, adalah bagian dari keterampilan anak. Tetapi yang kerap terabaikan adalah aspek afeksi, bagaimana orang tua menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kedekatan batin anak terhadap nilai-nilai Islam. Padahal, afeksi inilah yang menjadi jembatan agar ketaatan tumbuh dari dalam, bukan karena semata paksaan dari orangtua maupun tuntutan-tuntutan dari sekitar.
Menumbuhkan afeksi membutuhkan upaya yang tidak instan: pendekatan yang persuasif, komunikasi yang sesuai dengan usia anak, serta kesediaan orang tua untuk memahami karakter dan keunikan setiap anak.
Sayangnya, fenomena yang banyak terjadi hari ini adalah anak dipandang sebagai angka. Orang tua kerap berbangga ketika hafalan anak sudah sekian juz atau rajin shalat berjamaah, sementara kualitas relasi dan kedalaman makna justru terabaikan.
Tidak sedikit orang tua yang mengira bahwa kedekatan anak dengan Allah cukup dibangun dengan memasukkannya ke pesantren atau mewajibkannya menghafal Al-Qur’an. Padahal, yang sesungguhnya dibutuhkan agar ketaatan menjadi nilai yang hidup dalam diri anak adalah pembiasaan yang bertahap, istimrār (berkesinambungan), disertai keteladanan dan hubungan emosional yang aman.
Dengan pemahaman ini, orang tua diharapkan mampu melihat kebutuhan anak secara lebih komprehensif. Orang tua juga perlu bijak dalam menetapkan ekspektasi, yakni menyadari bahwa tidak semua anak mampu menghafal Al-Qur’an sekaligus unggul secara akademik. Yang terpenting bukanlah memaksakan pencapaian, melainkan menjaga keintiman anak dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam, misalnya dengan menghadirkan guru ngaji, sembari terus membangun ikatan yang hangat dan penuh penerimaan antara orang tua dan anak.
Maka sebagai orangtua, barangkali yang perlu selalu kita renungkan dan refleksikan adalah bukan sebesar apa pencapaian anak terlihat di mata orang lain, melainkan seberapa anak dekat dengan nilai-nilai Islam di dalam hatinya. Sebab iman yang tumbuh bersama rasa aman akan bertahan dan tertanam kuat menjadi bagian dalam dirinya daripada iman yang lahir dari sebuah ketakutan.
Oleh : Iffah Ruhiyah, S.Ip
BPU-KB PKS Kab. Bekasi















