::
DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi - DPD PKS Kabupaten Bekasi -
Website DPD PKS Kabupaten Bekasi
Mengenal PKS

Di Antara Tenda, Doa, dan Ujian: Kisah Malam yang Menguatkan Ukhuwwah

Malam itu, udara di Bumi Qur’an Al Fath,Bogor terasa lebih dingin dari biasanya. Deretan tenda berdiri rapi, lampu-lampu temaram menggantung, dan suara tilawah bersahut pelan dari sudut kegiatan. Para kader DPD PKS Kabupaten Bekasi tengah larut dalam rangkaian Kembara (Kemah Bela Negara) Dasar Dua untuk anggota pratama, Sabtu–Ahad, 31 Januari–1 Februari 2026.

Namun di tengah khusyuknya agenda tarbiyah, Allah menghadirkan sebuah ujian yang membuat makna kebersamaan malam itu terasa begitu nyata.

Kembara: Bukan Sekadar Kemah

Bagi kader PKS, kembara atau mukhayam bukan hanya kegiatan luar ruang. Ia adalah ruang pendidikan ruhiyah, mental, dan ukhuwah. Di sanalah kebersamaan ditempa, ego diluruhkan, dan ketaatan diuji. Tidak heran jika kegiatan ini disebut sebagai kewajiban tarbiyah yang tak tergantikan.

Ponsel para peserta pun disita selama acara, agar fokus terjaga. Dunia luar seakan dijeda, diganti dengan zikir, materi, dan kebersamaan.
Sampai kemudian sebuah pesan darurat masuk ke panitia

Pesan di Tengah Lailatul Katibah

Saat sebagian peserta tengah mengikuti agenda malam, Lailatul Katibah, panitia menerima kabar bahwa istri salah satu peserta, Hasanuddin dari DPC PKS Cibitung mendadak sakit. Ia mengalami diare dan muntah hebat di rumah. Kondisinya melemah.

Peserta itu dipanggil keluar dari barisan. Dengan suara pelan namun jelas, panitia menyampaikan kabar tersebut.Ia berusaha tegar. Tapi raut wajah tak bisa berbohong. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat mencoba menghubungi anaknya di rumah—namun tak tersambung. Rasa cemas makin menjadi. Sebagai suami, nalurinya ingin segera pulang malam itu juga.Ia memohon izin untuk kembali saat itu juga.

Namun panitia mencoba menenangkannya. Jarak tempuh menuju rumah sekitar tiga jam, dengan medan yang cukup ekstrem di malam hari. Keputusan terburu-buru justru bisa menambah risiko. Di titik inilah, makna struktur dan ukhuwah bergerak.

Gerak Cepat yang Menyelamatkan

Komunikasi segera dilakukan dengan kader setempat. Tanpa menunggu lama, Bang Namin Ketua DPRa setempat dan Bang Juneb sigap menuju rumah Pak Hasanuddin di Perumahan LBS. Mereka mendapati sang istri dalam kondisi pucat dan lemas.

Malam itu juga, pukul 23.00, beliau diantar ke Klinik Larisso untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah diperiksa dokter, diberi obat, dan dipastikan kondisinya stabil, beliau diperbolehkan pulang.

Kabar itu segera disampaikan ke lokasi kembara.

“Alhamdulillah sudah ditangani, sudah dapat obat, dan sudah boleh pulang.”Kalimat itu menjadi penenang. Bukan hanya bagi sang suami, tapi bagi banyak hati yang ikut berdebar malam itu.

Ujian yang Menguatkan

Bisa jadi, jika kita berada di posisi yang sama meninggalkan rumah dalam cuaca tak menentu, bahkan sebagian rumah masih terdampak banjir—rasa takut, cemas, dan panik akan menguasai. Bisa jadi pula, ada istri yang sempat “merayu” agar suaminya tidak berangkat.

Namun di situlah kesabaran dan pengorbanan diuji. Dan di saat yang sama, Allah menunjukkan bahwa kita tidak pernah sendiri.Saat satu kader diuji, kader lain bergerak.

Saat satu keluarga cemas, keluarga besar yang lain menguatkan

Kesimpulan dan Hikmah

Kisah malam itu mengajarkan bahwa kembara bukan hanya mendidik fisik dan mental, tetapi juga memperlihatkan wajah nyata ukhuwah Islamiyah. Solidaritas bukan slogan, tapi aksi. Struktur bukan sekadar organisasi, tapi jaring pengaman yang Allah hadirkan lewat tangan-tangan saudara seiman.

Dari tenda-tenda sederhana di Bumi Qur’an Al Fath, kita belajar:

ujian boleh datang tiba-tiba, tetapi pertolongan Allah sering kali datang melalui kepedulian sesama.

Penulis : SahabatBaik

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com