Tahun 2001 menjadi kali pertama aku menetap di Bekasi. Saat itu, aku benar-benar tidak mengenal wilayah ini. Seumur hidup, aku belum pernah sekalipun bermain atau singgah di Bekasi.
Lalu, bagaimana aku bisa “nyasar” hingga akhirnya mengambil rumah di Bekasi?
Semuanya bermula dari kebiasaan iseng membaca mading kantin di tempat kerja. Mataku tertuju pada kolom iklan di harian Pos Kota yang mengabarkan adanya perumahan baru di kawasan Pondok Ungu. Dari situlah cerita ini dimulai.
Setelah bertanya kepada teman yang lebih dulu tinggal di PUP (Pondok Ungu Permai) dan melalui hasil musyawarah keluarga, aku pun memutuskan untuk mengambil rumah di Bekasi. Berbekal peta lokasi yang tertera di koran, aku meluncur sendiri ke lokasi menggunakan RX King kesayanganku.
Aku masih ingat, uang muka (DP) saat itu sebesar Rp500.000,00. Meski harus tersasar ke sana kemari, akhirnya aku sampai juga di lokasi. Setelah berkonsultasi di kantor pengembang, kami sepakat untuk memesan satu unit rumah. Namun, entah mengapa, uang DP yang telah disiapkan justru tertinggal di rumah.
Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta guna mengambil uang tersebut—meski harus bolak-balik Jakarta–Bekasi dua kali dalam satu hari. Agar rumah tersebut tidak diberikan kepada orang lain, aku menyerahkan tanda jadi sebesar Rp50.000,00.
Dari jerih payah itu, ternyata Allah menghadirkan hikmah. Aku justru ditawari pindah ke rumah yang posisinya lebih dekat dengan masjid karena ada pembatalan dari konsumen sebelumnya.
Alhamdulillah, tinggal di dekat masjid membuatku merasa sangat nyaman. Aku bisa selalu siaga untuk mengumandangkan azan ketika berada di rumah. Sejak saat itu, aku mulai mengamati berbagai kegiatan yang ada di lingkungan sekitar.
Perhatianku tertarik pada kegiatan pengajian keliling dari rumah ke rumah yang diasuh oleh almarhum Ustaz Latif. Saat itu, beliau masih tinggal di area SDN Setia Asih, Tarumajaya. Kebetulan ada warga satu RT denganku yang telah lebih dulu mengikuti pengajian tersebut, sehingga aku pun tertarik untuk bergabung.
Namun, jawaban yang kuterima saat itu justru mengatakan bahwa pengajian tersebut “berat”, banyak tugas, dan bersifat khusus. Alih-alih mundur, hal itu justru membuat rasa penasaranku semakin besar. Meski demikian, selama setahun berikutnya aku belum aktif mengikuti kegiatan apa pun—hanya bolak-balik dari rumah ke masjid.
Hingga akhirnya, ketika almarhum Ustaz Latif pindah dan menetap di Puri Harapan, Bekasi, aku memberanikan diri untuk bergabung dalam pengajian tersebut. Ternyata, jauh sebelumnya, pada tahun 1998 saat aku masih tinggal di Jakarta, aku pernah diajak teman kerja untuk mengikuti pengajian serupa—masih di masa PK sebelum deklarasi—yang bertempat di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Namun, karena jarak yang jauh, aku belum sempat bergabung saat itu.
Alhamdulillah, sejak bergabung hingga hari ini aku masih terus aktif dalam sarana tarbiyah ini. Sebuah jalan pembinaan yang membawa perubahan bagi siapa saja yang ikhlas untuk tumbuh, berkembang, dan berubah ke arah yang lebih baik.Dan karena kenyamanan yang kurasakan dalam jamaah ini, sejak saat itu aku berazam untuk tidak meninggalkan puasa Senin–Kamis, kecuali jika ada uzur syar‘i.
Jazakumullahu khairan katsiran kepada seluruh ustaz yang telah membimbing kami selama ini. Semoga kita semua senantiasa dipersatukan dalam bingkai ukhuwah, hingga persaudaraan ini berlanjut sampai ke jannah. Aamiin.
Hikmah dari Coretan Kecil Ini
1. Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Sampaikan kabar gembira, jangan membuat orang lari
2. Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda lima tahun mendatang, kecuali karena dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku yang Anda baca.
3. Ingat, siapa pun bisa menjadi apa pun. Semua membutuhkan proses, bukan protes.
Bekasi, 22 November 2022
B. Setiawan Jundurrahman















