HARI KE DUA PULUH DELAPAN,BUAH RAMADHAN TERHADAP LISAN

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Di penghujung Ramadhan, dengan doa, munajat dan istighfar yang kita lakukan semoga ampunan Allah dapat kita raih, dan kemudian Allah memberikan kepada kita kenikmatan yang baik di dunia, dan Allah menganugerahkan keutamaanNya kepada kita di akhirat. Firman Allah :
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ
“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [ Hud : 3 ]
Lidah adalah salah satu dari nikmat Allah. Manusia wajib memeliharanya dari dosa dan kemaksiatan, menjaganya dari ucapan-ucapan yang bisa menimbulkan penyesalan dan kerugian. Lidah akan menjadi saksi pada hari kiamat. “

Allah SWT berfirman :
“Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. 24:24)

Lidah juga termasuk nikmat Allah SWT yang sangat besar bagi manusia. Kebaikan yang diucapkannya akan melahirkan manfaat yang luas dan kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor keburukan yang panjang. Karena dia tidak bertulang, dia tidak sulit untuk digerakkan dan dipergunakan. Dia adalah alat paling penting yang bisa dimanfaatkan oleh syaithan dalam menjerumuskan manusia.
Dalam hadits disebutkan :
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat”. (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)

Dan lidah juga merupakan sarana mempermudah manusia menyampaikan maksud yang diinginkan kepada orang yang diajak bicara sehingga dengan itu orang yang diajak bicara akan memahami maksud dari orang tersebut. Jika lisan tidak ada maka seseorang akan sulit berbicara dan menyampaikan sesuatu yang diinginkan kecuali dengan bahasa isyarat.
Di penghujung Ramadhan sudahkah lisan kita berubah…? Sudahkah lisan kita terkontrol..? Sudahkah lisan kita mampu mengerem dengan rem yang semakin pakem, karean kanvasnya sudah dibubut dengan ibadah shaum. Atau masih gak ada pengaruh…masih seperti yang dulu sebelum
Ramadhan. Yuk… kita bermuhasabah. Untuk mengukur salah satu keberhasilan ibadah shaum kita.

Masihkah lisan kita seperti di bawah ini….?

  1. Alkalaamu fimaa laa ya’nihi (Ungkapan yang tidak berguna)
    Nabi Saw. telah bersabda: “Barang siapa mampu menjaga apa yang terdapat antara dua janggut dan apa yang ada di antara dua kaki, maka aku jamin dia masuk surga. ( Muttafaq ‘alaih, dari Sahl bin Sa’ad)

Bila seseorang telah mengerti bahwa ia akan dihisab dan dibalas atas segala ucapan lidahnya, maka dia akan tahu bahaya kata-kata yang diucapkan lidah, dan dia pun akan mempertimbangkan dengan matang sebelum lidahnya dipergunakan. Allah berfirman :

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan, kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan ‘Atid.” (QS.Qoof: 18)

  1. Fudhulul Kalaam (Berbicara yang berlebihan)

Lidah memiliki kesempatan yang sangat luas untuk taat kepada Allah dan berdzikir kepadanya, tetapi juga memungkinkan untuk digunakan dalam kemaksiatan dan berbicara berlebihan dan ini racun bagi lisan kita. Semestinya kita mampu mengendalikan lidah untuk berdzikir dan taat kepada Allah, sehingga bisa meninggikan derajat kita. Sedangkan banyak berbicara tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati, dan menjauhkan diri dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Tiada akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tiada akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya.”

Allah telah memberikan batasan tentang pembicaraan agar arahan pembicaran kita bermanfaat dan berdampak terhadap sesama, sebagaimana firman-Nya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Annisa :114)

  1. Al-khoudh fil baathil (Ungkapan yang mendekati kebatilan dan maksiat)
    Orang-orang sufi lebih tekun menggunakan mulutnya untuk berdzikir dari pada berbincang-bincang, memperingatkan dengan prihatin; Manusia paling sering tertimpa bahaya dan paling banyak mendapatkan kesusahan adalah lidahnya terlepas dan hatinya tertutup. Ia tidak dapat berdiam diri, dan kalau berkata tidak bisa mengungkapkan yang baik-baik.
  2. Al-Miraa’ wal-jidaal (Berbantahan, bertengkar dan debat kusir).

Jidaal adalah menentang ucapan orang lain guna menyalahkan secara lafadz dan makna. Perdebatan dalam isu-isu agama dan ibadah tidak banyak faedah yang didapat kecuali jika dilangsungkan dengan etika debat yang benar, saling menghormati antar peserta dan dengan kekuatan ilmiah yang meyakinkan. Biasanya debat yang tidak dikawal oleh akhlak lebih banyak mengundang kepada pertengkaran dan permusuhan yang merugikan.

Tidak dinafikan debat merupakan salah satu uslub (cara) yang sangat efektif dan berkesan dalam menyebarkan Islam, dakwah dan kebenaran, tetapi ia adalah langkah ketiga dan terakhir, yaitu setelah terjadi kebuntuan dimana pendekatan dengan hikmah dan nasihat/pengajaran yang baik tidak berhasil. Itupun dilangsungkan dengan akhlak dan adab yang tinggi.

Allah berfirman :
“Serulah ke jalan Tuhanmu wahai Muhammad dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik” (Al-Nahl: 125).

Semoga Ramadhan dapat mengikis kebiasaan buruk kita selama ini, terkait dengan kebiasaan dalam lisan yang buruk dan tidak terkontrol. Sehingga yang keluar dari lisan kita adalah qaulan Kariima dan qaulan Ma’rufa.

Wallahu ‘alam bi showwab

Bagikan

HARI KE DUA PULUH TUJUH,YANG SUDAH LEWAT TAK AKAN KEMBALI

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Hari ke dua puluh delapan, berarti telah lewat di hadapan kita 27 hari dari hari-hari Ramadhan.

Semoga tak terlewatkan hari-hari itu dengan amal dan kebaikan, kita beristighfar jika terlewat dan bersyukur jika mampu mengisi hari-hari dan malam-malamnya dengan kebaikan.

Jika seseorang berusia 40 th, maka telah lewat hari-hari selama 39 th yg lalu, dengan segala kekurangan dan kekosongan atau dengan segala kelebihan dan penuhnya amal. Dan semua waktu-waktu yang pernah lewat itu tak pernah akan kembali. Ia akan menjadi catatan sejarah yang mencerahkan para penerus atau menjadi cacatan kelam untuk menjadi ibrah bagi generasi mendatang. Allah berfirman :
كَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. “ [ QS. Al Hadid : 23 ]

Hidup bukan untuk ditangisi, tapi hidup untuk diisi dengan kata-kata dan amal memotivasi. Iya..memotivasi diri sendiri dan orang yang lain agar kita mendapatkan amunisi untuk meraih obsesi kita “وَٱدْخُلِى جَنَّتِى. [ masuk Jannah ]

Maka tak ada gunanya kita menangisi masa lalu kita yang mungkin tak elok dijadikan sebagai kisah, karena tak terisi dengan sesuatu yang menginspirasi. Lebih layak kita mempersiapkan diri untuk meniti keberhasilan dan kesuksesan yang tertunda gegara sikap dan attitude kita selama ini.
Menangisi masa lalu hanya akan menghabiskan waktu dan energy positif kita.

Padahal kita saat ini dihadapkan oleh tantangan yang membutuhkan jiwa pemenang untuk mengatasi situasi. Kita harus yakin pada Allah, bahwa apa yang telah terjadi hari pada diri kita, adalah buah akumulasi apa yang kita tanam pada masa lalu, dan Allah memberikan hasilnya pada hari ini. Dan pasti Allah Ta’ala lebih tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.
Dalam sebuah atsar disebutkan,”Ya Allah jadikan aku rela dengan qadha-Mu hingga aku tahu bahwa yang menjadi bagianku pasti datang padaku dan yang bukan bagianku tidak akan pernah menimpaku.”

Kehidupan ini terlalu singkat untuk disia-siakan, terlalu pendek untuk kita perpendek dengan permusuhan, kebencian dan kekosongan amal. Kehidupan ini terlalu kecil dibandingkan nikmat Allah yang lain. Bahkan kekuasaan seorang raja, atau seorang penguasa tak lebih dari segelas air saja.

Suatu hari Harun Al Rasyid berburu ke hutan, namun persediaan air telah habis padahal ia dan Ibnu Sammak sang penasehat sudah jauh masuk ke dalam hutan. Saat Harun Al Rasyid merasa kehausan ia meminta segelas air. Maka Ibnu Sammak berkata,”Seandainya anda di cegah untuk minum air itu, apakah anda akan menebusnya dengan separuh kerajaan?” Harun menjawab,”Iya.” Ibnu Sammak pun berkata lagi,”Jika anda dicegah untuk megeluarkan air yang telah anda minum dari perutmu, apakah anda rela membayar dengan separuh kerajaanmu yang lain..?” Harun menjawab,”Iya.” Ibnu Sammak pun berkata,”Tidak ada artinya kerajaan yang nilainya tidak lebih berharga dari segelas air.”

Tak pernah akan kembali waktu yang telah berlalu.
Seseorang berkata,” Jangan kau menangisi susu yang telah tumpah.” Bergegaslah mengambil keputusan untuk mengisi sisa hidup yang tak pernah tahu kapan dan dimana titik perhentiannya. Isi dengan iman ad daqiiq, akhlak yang apik, ilmu yang luas, dan amal yang mutawasil, maka Insya Allah hidup akan menjadi asyik.

Dan di penghujung Ramadhan, jika kita selama ini ditimpa ketakutan, dihimpit kesedihan, dicekik kerisauan, hati penuh kegelisahan, akibat masa lalu yang temaram dan kelam, maka segeralah bangkit untuk menunaikan shalat niscaya jiwa kita kembali tenang dan tentram. “

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [ QS. Al Baqarah : 153 ]

“tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal.” Begitulah Rasulullah saw selalu meminta kepada Bilal, lalu Bilal adzan. Shalat menjadi penyejuk hati dan sumber kebahagiaan bagi Rasulullah saw dan ummatnya. Selamat mengisi hari-hari dan malam-malam Ramadhan yang sebentar lagi berakhir.

Wallahu ‘alam bis showwab.

Bagikan

HARI KE DUA PULUH LIMA, KESELAMATAN ITU BERSAMA SIKAP RIDHA

Bagikan

Ramadhan membentuk diri kita menjadi pribadi yang memiliki karakter luar biasa. Karakter yang akan membuat kita selamat dalam menapaki kehidupan. Inilah sikap ridha terhadap ketentuan dan qadha dari Allah Ta’ala. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)

“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya.” [ HR. Muslim ]

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan ridha kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan agama Islam, bahkan sifat ini merupakan pertanda benar dan sempurnanya keimanan seseorang.
Imam an-Nawawi – semoga Allah Ta’ala merahmatinya – ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata: “Orang yang tidak menghendaki selain (ridha) Allah Ta’ala, dan tidak menempuh selain jalan agama Islam, serta tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat (yang dibawa oleh) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang memiliki sifat ini, maka niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya sehingga dia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut (secara nyata)”. [ Syarh Shahih Muslim ]

Keridhaan akan membukakan jalan pada pintu keselamatan. Keridhaan membuat hati menjadi semakin bersih dari tipu daya kebusukan dan kedengkian. “Karena hanya orang yang berhati bersih sajalah yang selamat dari azab Allah. Hati yanh bersih adalah yang jauh dari syubhat dan syahwat, dari menyekutukan Allah, dari jerat-jerat Iblis yang menyesatkan.” Demikian DR. Aidh Al Qarny menjelaskan dalam salah satu kitabnya.

Semakin seorang hamba ridha kepada ketentuan Allah, maka semakin bersih hatinya. Kotoran hati, kedengkian, hasad, dan tipu daya merupakan kaitan dari sikap tidak ridha terhadap apa yang Allah tetapkan. Karena sikap ridha adalah kebersihan, kelurusan, kemuliaan hati, menerima dan lapang dada jauh dari penolakan terhadap ketentuan Allah.

Ibarat pohon, ridha adalah pohon yang baik, yang disirami dengan air keikhlasan dan ditanam dalam kebun tauhid. Akarnya adalah keimanan, dahan-dahannya adalah amal saleh, dan buahnya sangat manis.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.”Yang akan mencicipi rasa manisnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.
Kebalikan dari sikap ridha adalah sikap tidak menerima. Sikap ini akan membuka pintu keraguan kepada Allah, kepada Qadha’Nya, qadarNya, kepada hikmah dan kepada Ilmu-Nya. Sikap tidak ridha adalah akibat Dha’ful Iman. Imannya telah teracuni dan tercemar dengan polutan syubhat dan syahwat.

Dalam hati orang yang tidak ridha atau tidak menerima Qadha dan Qadr Allah, tersimpan perasaan dendam dan terselip amarah, walaupun tidak mengungkapkannya. Dalam fikirannya ada pertanyaan yang muncul,”Mengapa begini…? Mengapa begitu…? Mengapa semua ini bisa terjadi..?

Padahal jika saja sikap ridha ada pada dirinya, Allah akan memenuhi hatinya dengan ketenangan, kekayaan, rasa aman dan qana’ah. Allah pun akan menjadikan hatinya penuh cinta, inabah dan tawakal kepadaNya. Sedang mereka tidak memiliki sikap ridha hatinya akan penuh dengan kebencian, kemungkaran, rasa marah, dan fikirannya penuh dengan hal-hal yang negative.

Banyak sikap ridha yang harus kita tumbuhkan dalam diri. Diantaranya adalah sikap Ridha orang tua terhadap anak. Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua sesuai sabda Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wa salam, “Ridha Allah Subhana wa Ta’ala tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim).

Ridha suami kepada istrinya. “Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga.” (HR at-Tirmidzi). Isteri sangat membutuhkan ridha suami jika ingin mendapatkan syurga.

Ridha dalam transaksi jual beli. Disebutkan dalam firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan ridha di antaramu.” (QS an-Nisaa: 29).

Begitupun dalam muamalah hutang piutang, jangan sampai saudara kita menjadi tidak ridha dengan sikap kita yang menunda-nunda pembayaran, juga dalam kaitan kewajiban personal maupun dalam kewajiban terhadap institusi yang kita berkewajiban melaksanakannya.

Keridhaan akan membuahkan rasa syukur yang merupakan level keimanan yang tinggi dan merupakan hakikat dari keimanan itu sendiri. Dalam tahapan iman, rasa syukur adalah puncaknya. Orang yang tidak ridha terhadap Qadha dan QadarNya, penciptaanNya, pengaturanNya, terhadap yang diambil dan yang diberikanNya, tidak akan bisa bersyukur kepada Allah.

Maka di hari-hari terakhir Ramadhan ini, yuk kita evaluasi dan kita muhasabah sikap ridha kita selama ini, agar kita mendapat keselamatan dalam kehidupan dunia akhirat. Keridhaan menyehatkan hati, menenangkan jiwa, dan memberi semangat untuk meraih kemenangan dakwah.

Wallahu’alam bi showwab.

Bagikan

HARI KE DUA PULUH EMPAT, RAIH KETENANGAN BATIN DENGAN I’TIKAF

Bagikan

Oleh, Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kabupaten Bekasi

Waktu terus bergulir tak terasa kita memasuki malam ke 25 dari malam-malam terakhir Ramadhan. Kita belum tentu punya kesempatan lagi untuk tahun depan. Karena waktu terus berjalan dan tak pernah mundur. Maka layak kita isi hari-hari dan malam-malam terakhir ini dengan sesuatu yang bernilai.

Jika kita meninggalkan Ramadhan tanpa ada peningkatan ibadah, tanpa ada ada prestasi, tanpa ada karya yang menginspirasi, tanpa ada kontribusi yang berarti sungguh kita telah zalim dengan diri kita sendiri. Karena nikmat Allah berupa kesempatan yang luang tidak kita gunakan dengan baik.

Di hari ke 24 sudahkah kita semakin bertaqwa dalam lisan. Lisan semakin terjaga dari syahwat al kalam ,semakin bertaqwa dalam hal makanan, artinya berkurang memburu makanan enak bagi para pecinta kuliner. Semakin bertaqwa kepada Allah dalam pendengaran dan penglihatan. Semakin bertaqwa pada tangan dan kaki kita. Tangan semakin memberi dan kaki semakin ringan untuk berjalan ke rumah Allah. Coba perhatikan diri kita sendiri..! adakah efek 24 hari Shaum terhadap diri…? Iya pada diri kita sendiri apakah kita tidak memperhatikan…? Itulah yang Allah ingatkan ….
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
[dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?]
Kebersamaan kita dengan Ramadhan seharusnya bisa membuat kita semakin yakin dengan pertolongan Allah. Karena Allah akan menolong orang-orang yang berbuat kebaikan. Keyakinan kita akan pertolongan Allah akan menghilangkan kekhawatiran kita terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi dalam hidup kita. Karena dalam diri kita kadang ada rasa takut yang tidak beralasan. Hati kita gundah oleh sebuah persoalan padahal itu sebenarnya bukan persoalan. Tetapi kita sendiri yang terlalu percaya bahwa itu adalah persoalan. Jadi kembali kepada mind set kita dan keyakinan kita pada Allah.

Setiap orang pasti pernah merasa ketakutan. Rasa takut kehilangan orang dicintai, rasa takut kehilangan pekerjaan, jabatan dan lainnya. Rasa takut bukan berarti kita lemah. Ketakutan adalah bagian dari naluri alami manusia untuk bertahan hidup. Rasa takut membantu menyadari adanya bahaya sehingga muncul keinginan untuk menjauh untuk melindungi diri dari bahaya tersebut. Namun, tidak semua rasa takut itu sama. Ketakutan berlebihan bisa juga berdampak negative, hingga suasana hati selalu gelisah, was-was dan tidak tenang. Akhirnya berefek dari psikis kepada fisik.
Terkadang sebagian dari kita pun senang mendramatisir masalah.

Mudah sedih oleh berbagai peristiwa yang harusnya bisa diatasi tanpa kesedihan. Mudah galau oleh persoalan atau masalah yang dibuatnya sendiri karena rasa takut yang berlebihan tadi, padahal sebenarnya masalah sepele, terapi difikirkan terlalu panjang.

Kita tak akan bisa menikmati hidup jika pikiran kita terus menerus dihantui oleh kekhawatiran, kitapun akan berat berkontribusi untuk kemenangan dakwah jika ketakutan, kekhawatiran dan rasa sedih terus.menggelayuti kita dari peristiwa yang terjadi dalam hidup kita selama ini.

10 hari terakhir, malam-malam I’tikaf bukan saja kita ingin mendapatkan Lailatul Qadr, tapi juga ingin mengubah sikap dan cara pandang kita dalam kehidupan ini.

Pasca Ramadhan kita ingin menjadi lebih produktif, lebih efektif dan efisien dalam berbagai aktifitas, tentu aktifitas dakwah kita yang utama.

Banyak di luar sana orang-orang yang memilki masalah hidup yang jauh lebih berat ketimbang kita. Tetapi mereka mampu mengatasinya. Menjalani hari-hari dengan ketenangan, ketabahan yang luar biasa. Mereka menghadapinya dengan sabar. Dan Ramadhan mendidik kita tentang kesabaran.

Banyak sekali manusia-manusia hebat yang mereka layak untuk mengeluh, pantas untuk menangis, berhak untuk curhat. Tetapi mereka tak melakukan semua itu, mereka memilih tegar,menikmati, lalu melewati masa-masa sulit dengan penuh kekuatan jiwa.

Di malam-malam terakhir Ramadhan ini, pastikan diri untuk meluruskan niat yang ada dalam hati, hingga setiap kerja keras, kerja-kerja dakwah baik di masyarakat, di struktur atau di Parlemen, tiap upaya dan tiap tarikan nafas kita hanya dalam rangka pengabdian kepada Allah Ta’ala. Hanya untuk menggapai RidhaNya dengan cacatan amal kebaikan yang terus bertambah.

Melalui I’tikaf yuk ubah diri menjadi pribadi yang tak hanya saleh tapi juga mensalehkan. Bukan hanya berilmu tapi juga memberi ilmu. Bukan hanya kaya tapi mengayakan orang lain. Bukan hanya baik tapi juga menjadi pelopor hadirnya kebaikan. Semoga I’tikaf kita berdampak positif bagi diri dan keluarga, juga bagi dakwah secara keseluruhan.

Selamat mengisi enam hari ke depan dari malam-malam terakhir Ramadhan dengan renungan terhadap perbaikan diri. Hingga kita mampu menginisiasi perubahan di masyarakat ke arah yang lebih baik.

Wallahu’alam bi showwab.

Bagikan

HARI KE DUA PULUH TIGA,RAMADHAN DAN EFEK SUJUD

Bagikan

Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi
Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Sungguh apapun yang tersembunyi dalam jiwa, akan muncul dalam mimik wajah. Ekspresi wajah dapat berarti apa adanya atau ada makna tersembunyi di dalamnya.

Anda mungkin bisa berbohong lewat kata-kata, tapi tidak bisa dengan ekspresi wajah. Pasalnya, ekspresi wajah adalah bentuk komunikasi nonverbal yang bisa muncul begitu saja tanpa mungkin kita kontrol sebelumnya.

Ekspresi wajah yang digunakan oleh manusia memiliki sejuta makna dan mungkin berbeda bila diaplikasikan dalam konteks yang berbeda pula. Rentang makna dari ekspresi tersebut bisa sangat sederhana (misalnya terkejut) atau mencerminkan situasi yang lebih kompleks (seperti tidak peduli).Ekspresi wajah yang umumnya kita kenal, misalnya marah, sedih, senang, kaget, maupun jijik.

Namun secara lebih rinci, ada ekspresi lain yang sifatnya tersembunyi dan menyimpan arti emosi yang lebih beragam. Ilmunya adalah Makro dan Mikro Ekspresi.

Seorang mukmin bila menyimpan perkara yang benar dalam hubungannya kepada Allah Azza Wa Jalla, pasti Allah memperbaiki penampilan yang tampak di hadapan manusia. “Tidaklah seseorang merahasiakan sesuatu, melainkan Allah Subhana wa Ta’ala akan menampakkannya pada mimik mukanya dan spontanitas ucapan lisannya.” Demikian di sampaikan oleh Sahabat Ustman bin Affan ra.

Sebagian ulama berkata,”Sungguh kebaikan memiliki efek, yaitu sinar dalam hati, cahaya di wajah, kelapangan dalam rezeki, dan cinta dalam hati manusia.” As Sa’adi berkata,” Shalat menjadikan wajah mereka indah.”

Sejak baligh sudah berapa kali kita sujud…? Ada yang bisa menghitung…? Jika umur kita 40 tahun. Anggap kita mulai shalat umur 10 tahun, maka kita telah melakukan sujud dalam shalat sebanyak puluhan ribu bahkan ratusan ribu kali sujud. Banyak juga ya…

Bersyukurlah kita masih diberikan kesempatan dapat bersujud hingga hari ke 23 Ramadhan ini. Karena saat sujud adalah saat-saat yang berharga bagi seorang hamba. Saat sujud adalah saat paling dekat seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Maka semakin banyak sujud seseorang akan semakin dekat dengan Allah. Sujud meninggikan derajat dan menhapus dosa. Syekh Abdul Hamid Al Bilali dalam bukunya Bara”Waahaat al iiman.” Mengatakan,”Barangsiapa yang banyak mendekat kepada Allah, maka ia telah mecari sebab terbesar untuk meninggikan derajatnya dan menghapus dosanya. Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada Allah, maka Dia pasti meninggikannya.”

Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga’.” Atau Ma’dan berkata, “Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.” Ketika ditanya, Tsauban malah diam.
Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
‘Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim no. 488)

Lalu bagaimana dengan bekas sujud yang tampak hitam di dahi atau jidat seseorang…? Dalam hal ini Allah berfirman :
…Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…..” [ QS. Al Fath : 29 ]. Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan tentang “tanda sujud yang berbekas karena sujud tadi adalah sifat yang baik.” Imam Mujahid dan yang lain berkata,” yang di maksud bekas sujud adalah kekhusyu’an dan kerendahan hati.”

Jadi tanda tersebut bukan warna hitam di jidat sebagaimana persangkaan sebagian orang. Bahkan Syekh Abdul Hamid Al Bilali menyebut,” ada sebagian orang yang menyetrika jidatnya agar tampak bagi orang lain sebagai orang saleh.

Sayyid Quthub dalam Fii Zhilalnya berkata,”Mengomentari ayat [ Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud ] adalah bekas cahaya, kebeningan dan kejernihan hati, kecerahan dan jejak kepenatan dari ibadah yang semangat, bercahaya dan lembut. Dan ia bukanlah jidat hitam yang dikenal sebagai tanda oleh sebagian orang yang dipahami secara sederhana dan langsung dari makna ayat. [ dari bekas sujud ].

Maka efek dari sujud itu adalah hilangnya kesombongan, kecongkakan, dan kebanggaan. Dan berganti menjadi kerendahan hati, kejernihan hati, keceriaan yang tenang, semangat dan aura kesuksesan.

Di sisa hari dari 10 hari terakhir Ramadhan ini, katsroti as sujud menjadi penting untuk kita maksimalkan. Karena ia akan memberi pengaruh terhadap jiwa kita, akhlak kita, pandangan kita terhadap kehidupan, dan sikap kita dalam menghadapi ujian kehidupan, dan semangat kita meraih kemenangan.

Maksud katsrotin sujud [memperbanyak sujud] adalah memperbanyak shalat sunnah dan keutamaan amalan sunnah disebutkan dalam hadits qudsi, :
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku pun mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia gunakan untuk menyentuh, dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan akan Aku beri taufik” (HR. Al Bukhari no. 6502).

Wallahu’alam bi showwab

Bagikan

HARI KE DUA PULUH DUA, RAMADHAN DAN FENOMENA GANJIL GENAP

Bagikan


Sudah 22 hari kita membersamai Ramadhan dengan izin Allah. Sebuah karunia yang besar, patut kita bersyukur. Semoga memberikan Ampunan, Berkah dan RahmatNya kepada kita semua.

Fenomena ganjil genap telah ada sejak Al Qur’an di turunkan. وَٱلْفَجْرِ.[ Demi fajar], وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ dan malam yang sepuluh] وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ. [ dan yang genap dan yang ganjil ]. Hingga saat ini, bahkan teori genap ganjil di pakai oleh manusia untuk mengatur kemacetan di sebuah kota. Uniknya fenomena genap ganjil dipakai pula oleh sebagian kaum muslimin di 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. “Ah… malam genap..” besok aja deh ibadahnya. Eh ..ini malam ganji lho…yuk I’tikaf…!

Begitulah keadaannya.
Sahkah..? sah-sah saja. Wong…Lailatul qadr menurut sebuah hadits yang shahih jatuh pada malam ganjil. Yang jadi masalah adalah saat kita mendapati genap akan sampaikah usia kita ke malam ganjil…?
Rasulullah shalallahu ‘ alaihi wa salam bersabda :

كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

Saat kita berada di malam genap, apakah kita pasti bisa bertemu malam ganjil…? Maka wahai pengejar Lailatur Qadr…., jangan engkau hitungan-hitungan dalam beribadah. Malam genap Allah memberimu nikmat yang banyak, malam ganjil pun Allah memberikan lebih banyak lagi. Jangan engkau terjebak. Ingat….tak ada yang tahu jatah umur kita.
Jangan kita terbuai oleh kenikmatan, kesenangan dunia yang sedikit dana mat singkat. Dan janganlah kita terlalu bersedih dengan kesengsaraan dan penderitaan dunia yang juga sebentar saja. Dibandingkan dengan apa yang akan kita rasakan di akhirat, semua itu tak ada apa-apanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya” (HR. Muslim no. 2807).

Siapa orang yang paling mendapatkan kenikmatan di dunia ini. Punya harta banyak seperti Bill Gates misalnya, Warren Buffet atau yang lain. Yang punya pulau indah , pesawat pribadi, rumah mewah, isteri cantik, anak buah banyak pula. Atau Jabatan tinggi dengan bergelimang harta dan kenikmatan lain. Namun durhakan kepada Allah Ta’ala.

Siapa manusia yang paling sengsara di dunia, mungkin orang yang dengan tangan dan kaki buntung, mata buta, telinga tuli, buruk rupa karena, bahkan yang melihatnya lari karena takut dan seram melihat wajahnya, hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, tak punya harta, tak punya teman. Makan susah hanya mengais dari sisa sampah makanan. Namun hamba ini bersabar dan imannya kepada Allah kuat, dan tetap bersyukur pada Allah.

Maka, keduanya akan mengalami hal yang berbeda. Orang yang paling mendapatkan kenikmatan di dunia tadi, dengan satu celupan neraka saja, dia merasa tidak pernah menikmati kebaikan dan karunia yang pernah ia rasakan di dunia, bayangkan…satu celupan saja…hanya celupan. Lihat …! Betapa dahsyatnya siksa neraka. Lalu kita pilih-pilih ganjil genap dalam beribadah…? Betapa ruginya kita.

Sedang orang yang kedua yang paling sengsara di dunia, tapi ia bersabar dan beriman kepada Allah, maka dengan satu celupan surga saja, hilang dan tak pernah lagi ingat kesengsaraan di dunia, padahal hanya satu celupan saja. Lihat..! betapa besar nikmat dan karunia Allah berupa syurga.

Di sisa malam 10 terakhir dari Ramadhan, wahai pencari kebaikan… Malam Genap menunggumu…! Malam Ganjil pun menunggumu….! Dan Malam Kematianpun menunggumu…! kita berpacu dengan waktu perhentian yang telah Alah tetapkan. Di sisa kehidupan yang kita tak pernah tahu apakah kita dapat kesempatan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan hingga akhir. Yuk gass poll…jangan kasih kendor,….!
Wallahu’alam bi showwab.

Bagikan

Hari ke Duapuluh Satu, Menuju Kebahagiaan Yang Hakiki

Bagikan

oleh Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi

Semoga di hari ke 21 ini sudah banyak nilai-nilai positif buah dari ibadah Ramadhan yg tertanam dalam diri kita. Dan sikap sikap negative sudah banyak terkikis. Ini penting karena, modal menuju kemenangan dakwah adalah banyaknya sifat positif yang tumbuh dalam diri. Insya Allah kita semakin bahagia, kebahagiaan dikarenakan iman yang bertambah dengan optimalisasi dan kekhusyu’an beribadah.

Setiap sesuatu memiliki tanda-tandanya, begitu juga orang yang bahagia memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri yang dapat dilihat dari berbagai hal positif yang muncul dari pribadinya.

Menurut para pakar, orang yang bahagia selalu tampil bersemangat, optimis,tidak mudah mengeluh, dan positif thinking. Orang yang bahagia aura wajahnya enak dipandang mata, keberadaannya bermakna bagi diri dan lingkungannya dan orang lain merasa gembira dengan kehadirannya.

Orang yang bahagia akan memancarkan semangat pada wajahnya, dan itu berasal dari perasaan nyaman yang ada pada dirinya sendiri. Perasaan itu mendorongnya untuk mencapai tujuan hidupnya dengan upaya yang maksimal. Biasanya, secara tidak sadar orang-orang seperti ini menjadi “center” atau motivator yang mampu menggerakkan dan memotivasi orang-orang di sekelilingnya.

Bahagia atau tidaknya seseorang tergantung pada orientasi hidupnya, yaitu bisa berupa hal yang bersifat materi, spiritual, atau peran yang ia inginkan.

Seorang ibu rumah tangga yang orientasi hidupnya pada perannya di rumah, maka boleh jadi ia puas dan bahagia jika bisa melayani suami dengan baik, dan anak-anaknya dapat makan dengan teratur.

Seorang Ahli Hikmah mengatakan,” Orang bahagia itu akan selalu menyediakan waktunya untuk membaca, karena membaca adalah sumber ilmu, menyediakan waktu untuk tertawa, karena tertawa seperti musiknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir, karena berfikir itu dasar kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal, karena beramal itu pangkal kesuksesan, menyediakan waktu untuk bercanda, karena bercanda itu akan membuat diri selalu muda, dan menyediakan waktu untuk beribadah, karena ibadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.”

Sebagian orang memiliki jiwa kemasyarakatan yang sangat kuat. Ia baru bahagia ketika mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Seperti pendidik, guru atau pendakwah, ia bahagia jika anak didiknya mengalami perubahan ke arah yang baik. Atau aktifis politik yang bahagia jika partainya telah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memiliki standar khusus untuk menilai apakah seseorang termasuk golongan yang bahagia atau tidak. Beliau berpendapat bahwa bahagia itu bukan sebuah kondisi tapi sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi orang yang bahagia meski pun kita tidak punya harta, tidak punya pangkat atau jabatan, dan tidak populer. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim )

Rasulullah menyebut istilah bahagia dengan kata ‘thuba’ yang berarti beruntung, sukses, dan bahagia. Dari kata thuba inilah kita bisa menemukan ciri-ciri orang yang bahagia untuk kita jadikan sebagai standar apakah diri kita sudah termasuk golongan orang yang sudah bahagia atau belum.

Maksudnya adalah orang tetap berlaku shaleh walaupun orang-orang di sekelilingnya durhaka kepada Allah. Ia tak bergeming dengan cibiran dan ejekan orang yang di sekelilingnya. Ia tetap istiqamah melaksanakan ibadah atau syariat di saat lingkungan nya tidak melakukan itu.

Seseorang yang istiqamah melaksanakn ibadah, di tengah lingkungan yang tak mengenal kebaikan. Karena ia tahu balasan bagi orang yang istiqamah dalam menjalankan syari’at. Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(Ash fushilat : 30 )

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menjelaskan terkait tafsir surah ini.” (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka) dalam ajaran tauhid dan lain-lainnya yang diwajibkan atas mereka (maka malaikat akan turun kepada mereka) sewaktu mereka mati (“Hendaknya kalian jangan merasa takut) akan mati dan hal-hal yang sesudahnya (dan jangan pula kalian merasa sedih) atas semua yang telah kalian tinggalkan, yaitu istri dan anak-anak, maka Kami ( Allah ) lah yang akan menggantikan kedudukan mereka di sisi kalian (dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.)

Dalam ayat ini Allah menjanjikan tiga hal kepada mereka yang istiqamah dalam menjalankan syari’at, yaitu ketenangan, tidak ada kesedihan dan syurga. Dan ketiga hal ini adalah kebahagiaan bagi seseorang. Setiap orang pasti ingin hidup tenang, tidak ada rasa sedih dan syurga yang penuh dengan kenikmatan. Rasulullah bersabda :
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya “wahai rasulullah siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.

Wallahu ‘alam bis showwab

Bagikan

Hari Keduapuluh, Ramadhan Dan 10 Hari Terakhir

Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kab Bekasi
Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua Majlis Pertimbangan Daerah (DPD) PKS Kabupaten Bekasi

Hidup adalah perjalanan yang telah Allah takdirkan memiliki dua macam rasa, senang dan susah, manis dan pahit, lapang dan sempit, nikmat dan musibah. Keduanya ujian, yang setiap kita akan merasakannya. Bahkan mereka yang dicintai Allah Ta’ala, sperti para nabi dan rasulNya. Memang makin besar nikmatNya yang dirasakan oleh seorang hamba, kian besar pula ujian dan musibah yang mengiringinya. Semakin iman bertambah, semakin bertambah pula ujiannya.

Sepuluh hari terakhir kini kita bertemu dan sekaligus ujian bagi kita. Saudara kita yang lain telah ada yang dipanggil Allah lebih dulu ketimbang kita. Tapi yakin kitapun akan dipanggil. Kapan panggilan itu datang, dimana dan pada saat apa kita, tak pernah kita tahu.

Maka sepuluh hari terakhir, boleh jadi menjadi benar-benar yang terakhir untuk kita. Walau kita terus berharap pada Allah diberi umur panjang dalam ketaataan.

Di 10 hari terakhir apa yang ingin kita renungkan, kita muhasabah, kita evaluasi dari perjalanan hidup kita. Allah Subhana wa Ta’ala dalam surat Al Ahzab ayat 35 mengingatkan tentang 10 golongan yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar. Ini bisa menjadi alternative patokan kita dalam memuhasabahi diri selama 10 Malam.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Pertama, Laki-laki dan perempuan yang berserah diri pada Allah. Malam ke 21 kita bermuhasabah sejuah mana kepasrahan kita kepada Allah Ta’ala dalam permasalahan kehidupan. Jika dalam skala 1 sd 10 dimana kadar kepasrahan kita. Allahumma laka aslamna… Sejauh mana kita bertawakal kepada Allah. Allahumma alaika tawakkalna…

Kedua, Laki-laki dan perempuan yang beriman. Malam ke 22 sejauh mana kadar keimanan kita kepada Allah. 60% kah, 80 % kah, dalam masalah rezeki, jodoh, dan kematian. Juga keimanan kepada Malaikat, kepada Kitab, kepada Rasul, kepada Hari Kiamat, dan kepada Qadha’ dan Qadar Allah.

Ketiga, Laki-laki dan perempuan yang taat. Malam ke 23 sejauh mana ketaatan kita pada perintah Allah. Bagaimana istijabah kita terhadap perintah Allah dan Rasulnya. Apakah kita sudah sami’na wa atho’na…? Termasuk dalam pelaksanaan tugas-tugas dan amanah dakwah yang kita pikul.

Ke empat, Laki-laki dan perempuan yang benar. Malam ke 24 kita muhasabah sejauh mana Shidqul niyat kita, shidqul lisan dan shidqul ‘amal kita. Dan apakah kita sudah sering berkumpul dengan orang-orang yang benar, sebagaimana firman Allah, wa kunuu ma’a shadiqiin.

Ke lima, Laki-laki dan perempuan yang sabar. Malam ke 25 sejauh mana kualitas kesabaran kita dalam menghadapi ujian-ujian kehidupan yang menerpa kita dari kanan dan kiri. Karena sesungguhnya apa yang ada di sekeliling kita adalah ujian kehidupan.

Ke Enam, Laki-laki dan perempuan yang khusyu’. Malam ke 26 kita evaluasi kekhusyu’an kita dalam beribadah. Sudah fokuskah atau sudah tafarugh ilallah saat kita beribadah.

Ke tujuh, laki-laki dan perempuan yang bersedekah. Malam ke 27 kita muhasabah sejauh mana sedekah kita. Walaupun kecil tapi usahakan untuk bersedekah. Boleh jadi 1000 rupiah, mengalahkan 10 juta, sebagaimana 1 dirham mengalahkan 1000 dirham.

Ke Delapan, Laki-laki dan perempuan yang berpuasa. Malam ke 28, kita evaluasi bagaimana kualitas puasa kita. Apakah sekedar puasa Ammah atau puasa Khasshah. Dan sudah mampukah puasa kita berbuah akhlak yang mulia, atau mengikis sifat-sifat buruk kita,

Ke Sembilan, Laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya. Malam ke 29 kita muhasabah kualitas pengendalian kita terhadap nafsu syahwat di bawah perut.

Dan ke sepuluh. Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir. Malam ke 30 kita evaluasi kualitas dan kuantitas dzikirullah. Sudahkah zikir kita membuat hati menjadi tenang menghadapi permasalahan kehidupan.

Dengan ini semua, semoga kita mendapatkan Ampunan Allah dan pahala yang besar.Aamiin

Wallahu’alam

Bagikan

Hari Kesembilan Belas, Ramadhan dan Kemampuan Beradaptasi

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Sudah hari ke sembilan belas, semakin kita beradaptasi dengan kebiasaan yang baik di Bulan Ramadhan. Beradaptasi dengan ibadah yang optimal, dan tubuhpun beradaptasi dengan pengaturan jadwal makanan yang masuk . Hikmahnya adalah bahwa kita punya kemampuan beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Termasuk dengan semua objectifikasi istilah-istilah organisasi kita, seperti, pelopor, pembimbing, adaptasi dengan mars dan hymne baru. Juga adaptasi dengan sarana zoom atau google meet dalam acara-acara jarak jauh. Dan mari kita sambut semua hal yang baru dari organisasi kita dengan sikap positif. Karena semua perubahan ini pasti punya maksud baik, yang sudah difikirkan secara matang.

Andrew Grove dari Intel Cooperation pernah mengatakan bahwa sebuah organisasi masa kini, tidak mempunyai pilihan selain harus beroperasi di dunia penuh perubahan yang dibentuk oleh globalisasi dan revolusi informasi. Hanya ada dua pilihan ketika organisasi ingin tetap eksis pada era saat ini, yaitu ADAPTASI atau MATI.

Pilihan ini sangat mengerikan dan tidak mudah untuk diputuskan. Ketika memilih untuk beradaptasi, berarti dihadapkan pada kemampuan belajar yang tinggi dan tingkat fleksibilitas yang tinggi pula. Kemampuan belajar harus meningkat karena ada pemberdayaan intelektual dan kreativitas.

Namun adaptasi bagi kita bukan seperti yang disampaikan oleh Grove, yang hanya melakukan penyesuaian dengan lingkungan dan mengikuti arus yang berkembang. Adaptasi bagi kita adalah proses untuk senantiasa mengamati perubahan lingkungan sambil tetap perpegang teguh dengan prinsip yang telah kita yakini dan telah di tetapkan. Dan memang ini unik dan tantangan berat bagi organisasi kita.

Kemampuan beradaptasi bukan berarti mengendorkan spirit ruhiyah, justru membutuhkan ruhiyah yang sangat kuat. Maka karenanya 10 hari terakhir Ramadhan menjadi penting agar ruhiyah kita mencapai level maksimal. Dalam Jihad misalnya, perubahan adaptasi psikologis kaum muslimin saat perang Badar, yang semula hanya ingin menghadang kafilah dagang kaum kafir Qurays, berubah menjadi perang bukan sesuatu yang ringan. Motivasi para sahabat dalam perang Badar adalah buah dari Kematangan dan Kekuatan ruhiyah. Hanya ada dua pilihan Hidup Mulia atau Mati sebagai Syuhada.

Keraguan Rasulullah saw terhadap kondisi psikologis pasukan kaum muslimin terlihat oleh tokoh Anshar Sa’ad bin Muadz ra. Rasulullah menyadari bahwa beradaptasi dari penyergapan ke peperangan terbuka bukan persoalan mudah.

Hingga Sa’ad bin Muadz berkata,”Sepertinya engkau ragu kepada kami, wahai Rasulullah. Sepertinya engkau juga khawatir bahwa orang-orang Anshar sebagaimana yang tampak dalam pandanganmu, tidak akan menolongmu, kecuali di negerinya. Saya bicara atas nama orang Anshar. Berangkatlah bersama kami sesuai dengan apa yang engkau kehendaki. Ikatlah tali siapapun yang engkau kehendaki. Ambilah dari harta kekayaan kami siapa yang engkau kehendaki. Demi Allah seandainya engkau menempuh perjalanan bersama kami hingga ke barak Al Ghamad [ Kota Habasyah ] kami semua akan tetap bersamamu. Demi Allah, kalau seandainya engkau mengajak kami untuk menyeberangi lautan sekalipun, pasti kami akan lalui bersamamu.”

Masya Allah…itulah buah dari kematangan dan kekuatan ruhiyah yang luar biasa dari para sahabat anshar, untuk beradaptasi dari penyergapan ke peperangan. Lalu bagaimana dengan kita..? Hanya beradaptasi dengan istilah-istilah baru saja, dengan pemimpin baru, dengan mars baru, dengan aturan baru, kadang sudah keluar kata-kata sumbang dan tak membuat semangat.

Justru kemampuan kita beradaptasi dengan situasi baru terlihat dari kegesitan kita, istiqamahnya kita, semakin kreatifnya kita, semakin solidnya kita dan semakin optimisnya kita menyambut kemenangan di 2024.

Kita harus menempatkan diri kita sejajar dengan mereka yang sudah besar saat ini. Bahkan melebihi mereka. Kita memiliki falsafah, prinsip, etika, strategi, konsep dan resep untuk meraih kemenangan. Maka lalukanlah internalisasi terhadap prinsip-prinsip organisasi dan siapkan diri untuk bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Perubahan akan terus terjadi karena jihad siyasi itu dinamis. Dan karena kita petarung bukan pecundang, maka pastikan kita memiliki semangat seperti kaum Ashar tadi, insya Allah kemenangan dakwah Allah izinkan untuk kita raih. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

Di malam-malam 10 terakhir marilah kita mengadu pada Allah. Mengadu kepada Allah di saat menghadapi tantangan

Saat menghadapi penolakan dan penganiayaan dari orang-orang Thaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdoa:

“اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك ، أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك”

“Ya Allah kepadamu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya kesanggupanku, kerendahan diriku berhadapan dengan manusia, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkau adalah Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkau juga Pelindungku, kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.

Aku berlindung pada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridha (kepadaku), dan tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (Lihat: Ibnu Hisyam 1/420).

Wallahu’alam

Bagikan

Hari Ke Delapan Belas, Ramadhan dan Kata Kata Motivasi

Bagikan

Oleh : Ustadz Sunardi Ketua MPD PKS Kabupaten Bekasi

Semakin dekat kita malam-malam 10 terakhir Ramadhan, semoga Allah menyampaikan usia kita dan dapat beribadah di malam-malam yang penuh berkah itu.

Selama 17 hari kita sudah terlatih mengatakan kata-kata yang baik dan kata-kata yang memotivasi, dari doa-doa yang kita lantunkan setiap hari dalam setiap munajat kita pada Allah.

Memilih kata dan kalimat dalam sebuah pembicaraan sangat penting, karena sebagian besar dari keyakinan manusia terbentuk dari kata dan kalimat yang keluar melalui lisannya.

Bahkan para pemimpin besar kerap menggunakan kata dan kalimat untuk mengubah emosi dan perasaan untuk meyakinkan kita tentang sebuah gagasan yang dibangunnya.

Setiap bangsa memiliki ungkapan yg mengabdi sepanjang sejarahnya. Dan hanya sedikit orang yang mengetahui kadar kekuatannya ketika ia menggunakan sebuah kalimat untuk memotivasi semangat dalam jiwanya dan lalu meraih keberhasilan.

Dalam Perang Yamamah, ketika tanda kekalahan mulai terasa dipihak kaum muslimin, Panglima Khalid bin Wahid berseru di tengah pasukannya agar mereka membentuk kelompok dengan kabilah mereka masing-masing. Dan ketika setiap kabilah berhasil memperlihatkan keberanian, kepahlawanan dan keunggulan, akhirnya mereka dapat menghancurkan pasukan Si Nabi Palsu Musailamah Al Kadzab.

Juga saat perang Ain Jalut melawan bangsa Tartar, pasukan muslim diambang kekalahan, Panglima mereka, Qutz segera berseru di tengah pasukan,” Wa Islamah !” Ternyata seruan itu berhasil memompa semangat juang mereka sampai akhirnya bangsa Tartar yang kejam dan bengis dapat dikalahkan.

Kata dan kalimat yang kita pilih sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di suatu tempat, akan memiliki pengaruh sesuai dengan cara yang kita lakukan pada diri kita sendiri.

Orang yang menggunakan kosakata miskin dan terbatas, juga akan merasakan kehidupan emosional yang sama dengan apa yang dikatakannya. Begitu pula sebaliknya.

Penggunaan kata kata yang hangat, lembut dapat mengubah kondisi atau sikap seseorang secara menakjubkan.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ ۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Kata-kata yang kita gunakan menggambarkan emosi kita dalam kehidupan, dan pada waktu yang sama mengungkap fikiran dan perasaan kita.

Maka sebagai sebuah pasukan yang sedang berjuang menuju kemenangan dakwah, sudah seharusnya kita mengubah cara kita berkata dan berbicara. Kata-kata kita harus memotivasi diri kita, bahwa kita mampu memberikan kontribusi dan berperan aktif dalam meraih kemenangan.

Kita lihat, Rasulullah ketika menjenguk orang sakit saja beliau berkata, ” Semoga tidak membawa mudharat bagimu. Ya Allah Pelindung manusia, jauhkanlah penyakitnya, sembuhkanlah ia.

Kadang sebagian kita berkata,” saya tidak punya kemampuan”. Kalimat ini akan mematikan potensi kita. Ubahlah dg kata ” saya akan mencobanya, doakan saya.”

Atau sebagian lagi berkata,” saya tidak punya apa-apa..” Hidup saya susah terus ” . Ini kalimat yang akan membuat kita meremehkan potensi yg telah Allah berikan. Padahal banyak potensi pada diri kita belum dikeluarkan.

Dari pada mengatakan,” Kehancuran itu akan menimpaku.” Lebih baik berkata,” Saya tak akan hancur, saya siap mengerahkan kekuatan saya.”

Islam sebagai agama yg luhur memperhatikan dengan serius tentang bahasa dan kalimat, karena bahasa menunjukkan tabiat akal dan mempengaruhi jati diri yg menggunakannya. Karenanya Islam juga memotivasi kita untuk berbicara dengan bahasa yang baik dan kalimat-kalimat pilihan.
Allah berfirman :
” Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada Manusia.” ( QS. AL BAQARAH : 83 )

Semoga kita terus termotivasi untuk berkata yang baik dan memilih kalimat yg memberikan semangat, agar kemenangan dapat kita raih.

Wallahu’alam

Bagikan