Maulid Nabi SAW, Momentum Bagi Politisi Belajar Cara Berpolitik Rasulullah SAW






Maulid Nabi SAW,  Momentum Bagi Politisi Belajar Cara Berpolitik Rasulullah SAW

oleh : Imam Hambali
Ketua FPKS DPRD 
Kabupaten Bekasi.

Setiap bulan Rabiul Awal Hijriyah, umat Islam memperingati maulid atau kelahiran Nabi Muhammad saw, sosok yang menjadi teladan seluruh dunia dan sepanjang zaman. Keteladanan kepemimpinan Nabi SAW  sangat relevan untuk dibicarakan di ranah perpolitikan nasional.

Aspek keteladanan Nabi SAW didasari pada peran utamanya selaku pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Posisi sebagai kepala negara tersebut menjadi menarik dibicarakan, kaitannya dalam melakukan revitalisasi kepemimpinan politik kontemporer, tidak terkecuali pada siklus per 5(lima) tahunan politik di Indonesia yang mengiringi pemilihan anggota legislatif melalui sistem kepartaian.

Masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin negara yang berpusat di Madinah, tidak membuat garis pembatas antara agama dan negara, keduanya justru terintegrasikan. Relasi agama dan negara menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal yang berbeda dengan realitas politik saat ini, agama berjarak dengan negara dalam konteks tertentu. 

Pada masa Nabi SAW, totalitas nilai-nilai agama mewarnai konstitusi pemerintahan Nabi dalam Piagam Madinah.
Dalam perspektif politik, posisi Nabi sebagai seorang politisi, pemimpin politik dan negara berhasil meletakkan sistem politik yang mengedepankan kemaslahatan umatnya. Seluruh aspek dan sendi-sendi kehidupan masyaraskat berjalan dinamis. Kunci keberhasilan Rasulullah SAW terletak pada keteladannya dalam memimpin.  

Aspek keteladanan inilah yang menjadi penting diwarisi para politisi. Sosok kenegarawan Nabi acapkali diabaikan karena semata diposisikan sebagai pemimpin spiritual belaka. Akibatnya dunia politik berjarak dari spirit agama, justru yang sering dijumpai hanya menjadi alat, bukan mewarnai apalagi menjadi tujuan politik.

Maulid Nabi SAW,  momentum bagi politisi belajar cara berpolitik Rasulullah SAW. Karena pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang paripurna baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah.” [Al-Ahzaab/33: 21]

Keteladanan yang di maksud adalah keteladan pada semua dimensi kehidupannya, termasuk didalamnya bagaimana berpolitik yang benar, sudah saatnya setiap politisi menyempurnakan peneladanan itu dengan meneladani Rasul saw khususnya dalam aspek politik dalam dan luar negeri, pemerintahan, pidana dan sanksi, sosial, perekonomian, pendidikan dan berbagai urusan publik lainnya.

Marilah kita membaca sholawat kepada Rasulullah SAW, dan terus berupaya untuk mengamalkan semua keteladanannya dalam semua aspek kehidupan,semoga berkah, rahmat, taufiq dan hidayah dari Allah swt senantiasa meliputi seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara, menuju negeri yang baldatun toyyibatun warrobbun ghofuur.  Aamiin

Allahumma sholly a'laa syaidinaa Muhammad,Allahumma sholly alaihi wa salam.

Bekasi,  25 Oktober 2020




  PESAN

0 Response to "Maulid Nabi SAW, Momentum Bagi Politisi Belajar Cara Berpolitik Rasulullah SAW"

Posting Komentar