Merah Putih : Di Kepala, Jiwa dan Tindakan

Ahmad Syaikhu Ketua DPW PKS Jawa Barat

Tadi malam, Kamis (3/10) saya menjadi saksi terpilihnya Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR periode 2019-2024. Berakhir dengan aklamasi. Bukan voting.

Yang menarik dari proses tersebut adalah ketika kita semua yang hadir sepakat untuk menggunakan jalan musyawarah mufakat. Tanpa pemungutan suara. Berbeda dengan pemilihan-pemilihan pucuk pimpinan MPR sebelumnya. 

Malam tadi secara sempurna pengejawantahan sila keempat Pancasila terlihat. Mengedepankan hikmah kebijaksanaan dalam mengambil sebuah keputusan penting bagi bangsa dan negara.

Saya membayangkan jika sila-sila lainnya juga demikian. Dipraktekkan dalam kehidupan. Bukan sekadar jargon atau slogan lips service.

Jika Sila Pertama dilaksanakan, maka tak akan ada lagi upaya-upaya menjadikan negeri ini tak bertuhan dan tak beragama. Produk UU yang dihasilkan pun selalu mengacu pada nilai-nilai agama. Tidak liberal dan sekuler.

Jika Sila Kedua dilaksanakan, tiada lagi sikap dan perilaku Para Pemangku Jabatan yang berlawanan dengan kemanusiaan. Tak ada kekerasan. Mengedepankan pendekatan persuasif. Agar lahir rasa adil dan beradab.

Jika Sila Ketiga dilaksanakan, tak akan ada pembiaran terhadap upaya adu domba, memecah belah bangsa. Konflik horisontal terhindarkan. Kerusuhan beraroma suku, ras, golongan, kelompok dan agama tak terjadi.

Jika Sila Kelima dilaksanakan, maka hukum akan berkeadilan. Tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tiada diskriminasi. _Equality before the law._

Dua hari lalu, saya dan rekan-rekan Fraksi PKS memakai ikat kepala Merah Putih. Sebagai sebuah simbol bahwa kami cinta NKRI. Bermakna pula bahwa kami menjadikan Merah Putih sebagai panduan ide atau gagasan kami, menghujam pada jiwa dan terlihat dalam tindakan.

Insya Allah kami bisa melakoninya. Bukan semata-mata pencitraan dan janji. Sebab, PKS sebagai partai Islam memiliki tarikan nafas yang sama dengan Pancasila.

Saya teringat dengan Mohamad Natsir. Dengan nada retoris beliau bertanya saat berpidato pada acara Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Mei 1973. Tanya Natsir:

Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang memancarkan tauhid dapat apriori (bertentangan) dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?

Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan ‘ijtima’iyah bisa apriori (bertentangan) dengan keadilan sosial?

Bagaimanana mungkin ajaran al-Qur’an yang justru memberantas feodal dan pemerintahan sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan, dapat apriori (bertentangan) dengan apa yang dinamakan Kedaulatan Rakyat?

Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang menegakkan istilah islahu bainan naas sebagai dasar-dasar pokok yang harus ditegakkan umat Islam, dapat apriori (bertentangan) dengan apa yang disebut Perikemanusiaan?

Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan, dapat apriori (bertentangan) dengan Kebangsaan?

Bapak Mosi Integral itu benar. Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila. Karena itu, saya sangat yakin dan percaya diri, Merah Putih tak akan hanya jadi hiasan di kepala, tapi juga menghujam ke dalam jiwa dan tindakan.

Aamiin.


Ahmad Syaikhu




PESAN

0 Response to "Merah Putih : Di Kepala, Jiwa dan Tindakan"

Posting Komentar