Perjuangan Saksi PKS di KPU, Ramadhanpun Tak Bisa Membersamai Keluarga



Bawaslu Jawa Barat memutuskan, KPUD Kabupaten Bekasi telah terbukti bersalah secara administratif dalam prosedur penyelenggaraan rekapitulasi suara Desa Jatimulya dan PPK Tambun Selatan.

Putusan Bawaslu ini akan menjadi bukti kuat bagi PKS agar KPU-RI dapat melakukan penghitungan suara ulang DPR-RI di Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan - Kab. Bekasi. 

Budi Purwanto selaku pelapor dari PKS Kabupaten Bekasi berharap, pembetulan perolehan suara bisa dilakukan sesegera mungkin sehingga perolehan suara Partai Nasdem dapat dikoreksi dan dikembalikan ke angka 1.430 dan bukan 7.525 suara. "Dengan pembetulan tersebut, nantinya KPU dapat menetapkan kursi ke-10 DPR Dapil Jabar 7 kepada PKS",tegasnya.

Sidang Pembacaan Keputusan Bawaslu Jawa Barat berlangsung pada Rabu, 15 Mei 2019. Dalam kesempatan itu hadir KPUD Kabupaten Bekasi sebagai terlapor dan Bawaslu Kabupaten Bekasi sebagai pihak terkait.

Budi menambahkan, pihaknya akan meneruskan hasil keputusan Bawaslu Jawa Barat ke KPU Pusat. "Besok akan langsung kami antar ke Jakarta." katanya sambil meninggalkan gedung Bawaslu Jabar. (BP)

Ini tulisan terakhir sahabat saya Budi Purwanto hari ini sesaat setelah pergantian tanggal ke 16 Mei 2019.
Paginya saya mendapat berita beliau sudah berhasil masuk ke gedung KPU pusat di Jakarta. Tentunya setelah melewati screening yang ketat. 
Maasyaa Allah, makanannya apa sih ya orang satu ini. Ilmu kesaktian apa yang dia punya hingga tahan bekerja selama lebih dari 20 hari tanpa jeda yang berarti.
Kalau saja ini kerja proyek di suatu perusahaan, pastilah sudah masuk kategori pelanggan hak karyawan atau buruh. Perusahaannya pasti kena sanksi berat.

Tapi ini kerja dakwah, perjuangan pembelaan perolehan suara dalam pileg. Dah ini bukan partai biasa. Ini PKS yang semua kadernya terdidik pada nilai keadilan dan kejujuran. 

Sekitar jam 10 di hari yang sama, saya dan beberapa kader mengunjungi rumah pak Budipur, demikian biasa ia dipanggil. Bertemu istri dan seorang balitanya. Alka sibayi sedang tidur,  dan ketiga kakaknya masih di sekolah.
Terkejut juga beliau melihat kehadiran kami, "Aduh, maaf nih gak bisa nyuguh apa-apa yaa" sambutnya ramah. 
"Hehe, haram Bu, janganlah" jawab saya. Kami sedang berpuasa. Obrolan santai seputar keadaan anak-anak pun mengalir lancar. Bu Tini istri Budipur menyatakan bahwa mereka baik-baik saja, "udah biasa ditinggal-tinggal begini" katanya ceria. Saya membatin, luar biasa wanita ini. Bulan Ramadhan dengan anak lima tanpa suami menemani bukanlah hal yang mudah. Tapi benar, wajahnya tenang dan selalu tersenyum. Bahagianya kau Budipur yang punya istri sesolehah ini.

Saya perhatikan tumpukan karton sarung dagangan rutin tahunannya, kurma, dan aneka kebutuhan Idul Fitri. Biasanya awal Ramadhan barang sudah banyak yang keluar. Tapi di hari ke 11 ini masih tinggi bertumpuk. 
"Santai aja Bu Evie, nanti langganan juga datang kok!" Kata Bu Tini menjawab tatapan mata saya pada barang dagangan ini. Maasyaa Allah.. saya nyebut lagi.

Pak Budipur menerima perlakuan kasar dari saksi partai lain semasa perhitungan suara di PPK. 
Sungguh berat perjuangannya. Perjalanan saya selama beberapa bulan di masa kampanye sebagai caleg menjadi tiada artinya dibandingkan dengan yang dihadapi pak Budipur.

Berikut beberapa link berita terkait: 
https://www.depoknews.id/miliki-c1-akurat-pks-yakin-kursi-dpr-ri-dapil-jabar-7-kembali-ke-pks/

https://bekasimedia.com/2019/05/15/sidang-di-bawaslu-jabar-pks-yakin-kursi-yang-diambil-nasdem-akan-kembali/

http://saluransatu.com/2019/05/15/terungkap-di-sidang-bawaslu-jabar-penggelembungan-suara-saan-mustofa-dari-1430-jadi-7525/

http://kabbekasi.pks.id/2019/05/pks-yakin-kursi-dpr-dapil-jabar-7.html?m=1

"Ummiii... Aku mau pisaang...!" Teriakan si Syamil 4 tahun lebih menghentikan obrolan kami. Hehe masa kritis rasa lapar sudah tiba. Biasanya anak tantrum pada masa-masa seperti ini. 
Kembali Bu Tini menenangkan balita yang sedang berlatih puasa ini.
Beberapa saat kemudian kami berpamitan, kami doakan keluarga muda ini tetap sabar, dan segera berkumpul dalam Ramadhan yang indah.

Pak Budipur bukan satu-satunya pejuang, masih ada beberapa yang juga bersamanya. 
Kami doakan semuanya sehat dan tetap sabar.
Jazaakumullah khoiron atas perjuangan antum.

Mohon maaf kami belum bisa mengunjungi antum sekarang. Atau ada kader lain yang mau temani saya besok, yuk! (DFL)

Baarakallahu fiikum Yaumil Milad 16 Mei, pak Budi Purwanto.







PESAN

0 Response to "Perjuangan Saksi PKS di KPU, Ramadhanpun Tak Bisa Membersamai Keluarga"

Posting Komentar