Cerita Anak




Seperti biasa setiap perjalanan antar jemput sekolah anak - anak , saya , Faruqi dan Bening sering ngobrol tentang apa saja .

Biasanya dari percakapan isinya saya selipkan nasehat tentang nilai - nilai kehidupan sambil menikmati perjalanan dengan santai.

Terkadang tanpa saya duga anak - anakpun juga bisa menasehati saya apabila tanpa saya sadari ada yang salah dari sikap atau perkataan saya.

Dan saya menerima nasehat itu dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada anak anak karena saya sudah diingatkan.

Karena saya menanamkan kepada anak - anak bahwa saling nasehat menasehati itu penting dan berlaku kepada siapa saja. Anak bisa salah begitu pula orang tuapun juga bisa salah .

Karena pola itu sudah saya terapkan, sehingga anak - anak dengan santai menasehati saya karena tahu saya tidak akan marah atau berkelit karena saya tidak mengakui kesalahan .

Sampai pada suatu hari ketika perjalanan pulang sekolah Faruqi membuka pembicaraan " Umi..tadi Uqi ulangan harian bahasa Indonesia dapat 80, seharusnya aku tadi bisa dapat 100. Karena aku pikir jawabannya ditulis aja, ternyata harus ditempel ".

" Yang dapat 100 ada mas ?" tanya saya . Kemudian Faruqi menjawab " ada mi cuma satu orang " dia menjawab dengan menyebut nama temannya tersebut. ," tapi yang dapat dua ada juga mi " lanjut dia.

Entah kenapa dengan santainya saya menyahut " Siapa mas yang dapat dua ?" Faruqi tidak menyebut nama tapi hanya memberi kisi - kisi lokasi rumah . Dengan jawaban itu saya menjadi tahu siapa anak yang mendapat nilai dua.

" Ya umi ...Uqi jadi ghibah kan ! " Umi sih pakai tanya. Saat itu juga saya istighfar sambil minta maaf sama Faruqi.

Memang seharusnya saya tidak perlu tanya siapa orangnya yang berkaitan dengan kekurangan orang , lain halnya tidak masalah kalau tanya siapa berkaitan dengan kelebihannya atau kebaikannya.

Jadi definisi ghibah itu adalah kita membicarakan tentang kekurangan atau keburukan orang lain, jika orang tersebut tahu dia akan marah.

Perlu digaris bawahi bahwa membicarakan disini yang berkaitan permasalahan pribadi yang tidak merugikan orang lain.

Sementara bukan dikatakan ghibah apabila ada seorang pemimpin yang salah mengambil kebijakan , kemudian kita mengomentari karena kebijakan itu merugikan orang banyak dan bahkan membahayakan bangsa. Yang penting harus dengan cara yang baik dan benar .

Ketika kita mengkritisi yang kita bicarakan kinerjanya yang berkaitan kebijakan - kebijakannya bukan masalah pribadinya.

Adapun tujuan kita mengkritisi adalah kita niatkan kebaikan dalam rangka mencari solusi untuk kemaslahatan ummat.


Cikarang 18022019
PESAN

0 Response to "Cerita Anak "

Posting Komentar