Yang Dipersatukan Oleh Iman dan Cinta (Bagian 1)



" (juga) Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami. beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
( QS Al Hasyr : 8-10 )

Ayat 8,9, dan 10 surat Al Hasyr berkisah tentang persaudaraan, jalinan ukhuwwah indah yang terjalin antara kaum muhajirin yang berhijrah dari Mekkah dengan kaum Anshar ,warga asli Madinah. Jalinan yang mustahil bisa lahir dan tercipta bila tidak tanpa ikatan kuat yang menjadikan hati-hati mereka begitu ikhlas,tulus, ridha untuk memberi dan menerima keberadaan saudara-saudara mereka dari tempat yang berlainan. Ikatan itu adalah ikatan Imandan cinta mereka kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw.

Kaum Muhajirin,tak mungkin mampu dan mengikhlas kan diri meninggalkan harta bahkan sebagian keluarga mereka,meninggalkan tanah kelahiran mereka,untuk berhijrah ke tempat lain,bila bukan karena kekuatan dan keteguhan hati mereka dalam berpegang pada keimanan dan kecintaan mereka,hanya kepada Allah dan RasulNya.

Demikian pula kaum Anshar. Mereka tak kan mungkin mampu menyambut kedatangan orang-orang dari tempat lain, yang sebelumnya tak pernah mereka kenal,untuk tinggal ditempat mereka, berbagi kamar,makanan,dan rezeki lainnya, bahkan menempatkan mereka ditempat yang terbaik dalam rumah-rumah mereka jika tidak karena keimanan dan cinta mereka kepada Allah dan RasulNya.

Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu wa ta' ala menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin, dan setelah itu baru menyebutkan keutamaan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mendapat gelar ”orang-orang yang benar”, karena telah mentaati perintah Allah untuk berhijrah, dan kaum Anshar mendapat gelar ”orang-orang yang beruntung", karena keterbukaan hati dan tangan-tangan mereka dalam menyambut orang-orang yang telah berhijrah menjadikan mereka memperoleh pahala , karunia yang besar, bahkan syurga dari Allah swt.

Tampak jelas sekali bahwa Allah juga tidak menghilangkan pengelompokan di dalam ummat Islam. Baik kaum Muhajirin maupun kaum Anshar, mereka adalah dua kaum yang berbeda, tidak sama, memiliki keutamaan masing-masing, dan mereka pun saling membantu satu sama lain.


Maka, lahirlah kisah-kisah indah yang tertoreh dengan tinta-tinta emas dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan Allah swt mengukir keindahan ukhuwwah yang terjalin antara mereka dalam surat Al Hasyr ayat 9. Ayat yang berkisah tentang keikhlasan kaum anshar yang rela berkorban demi saudara mereka kaum Muhajirin.

Bahkan malaikat Jibril pun menyampaikan kabar bahwa Allah swt tersenyum melihat kisah keluarga Anshar tersebut dalam memperlakukan saudara mereka, kaum Muhajirin.

Bahkan bukan cuma dalam hal makanan,dalam hal tempat tinggal dan harta rampasan perang yang terdapat hak mereka di dalamnya,mereka dengan rela hati mengikhlaskannya untuk diberikan kepada saudara mereka kaum Muhajirin.

Ummul A'la Al-Anshari meriwayatkan, ketika mendapatkan rampasan perang dari Bani Nadhir, Rasulullah saw. memanggil Tsabit ibn Qais,

"Datangkanlah kaummu kepadaku," kata Rasululllah saw.

Tsabit bertanya, ”Kaum Khazraj-kah?"

”Seluruh kaum Anshari” tegas Rasulullah saw.

Maka Tsabit memanggil suku Aus dan Khazraj. Setelah seluruh kaum Anshar hadir, Rasulullah saw memuji Allah dan menyebutkan kebaikan-kebaikan kaum Anshar yang telah memberikan tempat tinggal dan harta benda mereka kepada kaum Muhajirin. Juga tentang sifat mereka yang selalu mendahulukan kaum Muhajirin ketimbang diri mereka sendiri. Lalu Rasulullah saw. bersabda,

”Jika kalian suka, aku akan membagikan harta yang dititipkan Allah kepadaku dari Bani Nadhir (harta rampasan) ini untuk kalian (kaum Anshar) dan kaum Muhajirin. Adapun bagian kaum Muhajirin adakah untuk mengganti biaya hidup dan tempat tinggal yang kalian tanggung selama ini. Atau, jika kalian setuju, aku akan memberikan bagian mereka semuanya, dan setelah itu mereka harus keluar dari rumahrumah kalian."

Mendengar tawaran itu, Sa'ad ibn Ubadah dan Sa'ad ibn Mu'adz berkata, ”Ya Rasulullah, engkau bagikan saja semua harta rampasan itu kepada Muhajirin dan biarkan mereka tetap tinggal di rumah-rumah kami seperti saat ini."

Dan seluruh kaum Anshar yang hadir mengamini ucapan dua orang itu.

Mereka berkata, ”Kami rela menerima keputusan itu, ya Rasulullah."

Rasulullah saw. pun berkata, ”Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar dan keturunannya."

Lalu Rasulullah saw. membagikan semua harta pampasan perang itu secara merata kepada kaum Muhajirin. Adapun kaum Anshar, mereka tidak mendapatkan bagian, kecuali dua orang, yaitu Abu Dujanah dan Sahl ibn Hunaif yang begitu membutuhkan.

Sikap kaum Anshar itu begitu membekas dalam jiwa kaum Muhajirin. Mereka mengakui keutamaan kaum Anshar itu di hadapan Rasulullah saw. " Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendatangi kaum yang sedermawan dan begitu setia kawan melebihi kaum Anshar. Mereka telah mencukupi kebutuhan hidup kami dan mengikutsertakan kami dalam setiap kegembiraan mereka. Karena itu, kami khawatir semua pahala Allah akan jatuh kepada mereka "

Rasulullah saw bersabda, "Tidak. Niscaya kalian akan memperoleh pahala dari Allah, yaitu selama kalian tetap memuji kebaikan mereka dan mendoakan mereka kepada Allah "

Oleh : Sri Suharni,
Ciketing Udik.
PESAN

0 Response to "Yang Dipersatukan Oleh Iman dan Cinta (Bagian 1)"

Posting Komentar