Memaknai Kemerdekaan Dalam Al Qur'an




Pada tahun 2017 ini bangsa Indonesia kembali menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ke 72, Makna kemerdekaan sangat beragam, berbagai macam pengertian di kemukakan dari berbagai macam sudut pandang. Bahkan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno tidak secara eksplisit menerangkan apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang di dapatkan bangsa Indonesia, adalah kemerdekaan dari penindasan dan penjajahan kaum penjajah.

UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati. Setiap warganegara Indonesia dituntut menjadi manusia yang mampu mengharumkan bangsa melalui berbagai macam prestasi dan produktifitas yang tinggi dalam semua perannya.

Menarik apa yang di katakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS Mustafa Kamal di kantor DPP PKS di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (9/8/2017). Segenap anak bangsa memiliki kewajiban untuk menjaga Indonesia sebagaimana menjaga rumahnya sendiri. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengibaratkan Indonesia adalah rumah yang dibangun oleh para bapak dan ibu bangsa, dipertahankan, dirawat dan dipercantik oleh anak bangsanya sendiri. 

Memaknai kemerdekaan dapat di mulai dengan memaksimalkan peran anggota keluarga, menjalankan fungsinya dengan baik, serta memahami hak dan kewajibannya.

Begitupun halnya dengan struktur bangsa ini, semua tanpa terkecuali baik itu pemerintah, wakil rakyat, dan rakyat harus menjalankan fungsinya dengan baik dan tepat, dengan demikian pemaknaan kemerdekaan dapat secara tepat menjadi unsur penjagaan, merawat serta memperkokoh NKRI

Al-Quran sebagai rujukan utama umat Islam telah menunjukkan makna kemerdekaan di dalam berbagai kisah orang-orang terdahulu, sebagai inspirasi besar bagi umat Islam khususnya dan umumnya  untuk bangsa Indonesia yang telah mendapatkan nikmat kemerdekaan.

Yang Pertama, dapat kita lihat makna kemerdekaan dari kisah Nabi Ibrahim AS ketika membebaskan dirinya dari kehidupan bangsanya yang tersesat. Di kisahkan dalam Surat Al-An`am ayat 76-79 tentang perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan. Pencarian spiritual yang di lakukan Nabi Ibrahim AS merupakan usahanya  membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang salah , tetapi hidup subur di dalam kehidupan masyarakatnya ketika itu.

Kemudian berikutnya adalah makna kemerdekaan yang dapat diambil dari cuplikan kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan dan kekejaman rezim Firaun terhadap Bani Israil dikisahkan dalam berbagai ayat Al-Quran. Rezim Fir'aun yang merupakan simbol  kesombongan diri, merasa paling berkuasa di muka bumi.

Kesombongan Fir'aun  membuatnya tak segan untuk membunuh dan memperbudak kaum laki-laki Bani Israil dan menistakan kaum perempuannya. Bentuk Keangkuhan inilah yang membuat sosok Musa AS tergerak memimpin bangsanya memperoleh kembali kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia.  Kisah ini dapat kita baca dalam beberapa ayat yaitu, QS. Ibrahim: ayat 6, QS Al-A`raf: ayat 127, dan QS. Al-Baqarah: ayat 49.

Dan yang terakhir adalah kisah keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam mengemban Risalahnya di atas muka bumi. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al-Maidah: ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” 

Rasulullah Saw ketika itu setidaknya menghadapi masyarakat yang terjajah pada dua bentuk penjajahan yaitu : tidak benarnya tujuan hidup, dan penindasan pada aspek ekonomi.

Tidak benarnya tujuan hidup atau dalam istilah lain disorientasi hidup diwujudkan pada kegiatan menyembah patung. Rasulullah Saw berjuang siang dan malam mengajarkan masyarakatnya untuk menyembah Allah swt saja dan membebaskan penyembahan kepada patung-patung. Allah swt jelaskan dalam beberapa surah yaitu pada QS. Lukman: ayat 13, QS. Yusuf: ayat 108, QS. Adz-Dzariyat: ayat 56, dan QS Al-Jumuah: ayat 2.

Kemudian yang berikutnya adalah Penindasan pada aspek ekonomi yang Allah swt lukiskan dalam firmanNya sebagai kegiatan ekonomi yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja, lihat dalam QS. Al-Hasyr: ayat 7. Dan bahkan Rasulullah SAW mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa mau peduli kepada kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi, lihat pada QS. Al-Humazah: ayat 1-4, QS. Al-Maa`uun: ayat 2-3.

Dapatlah kita simpulkan bahwa ternyata kemerdekaan memiliki makna yang sangat luas, tidak hanya sebatas kemerdekaan dalam bentuk terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan, tetapi juga bermakna terbebasnya dari kesalahan orientasi hidup, dalam bentuk penyembahan kepada selain Allah swt, adanya pemerataan aspek ekonomi sehingga terwujud kesejahteraan masyarakat, serta terhindarnya kezhaliman yang dilakukan oleh segelintir manusia di sebuah bangsa.

Mari kita maknai HUT RI Ke 72 dengan menghadirkan prestasi dan produktifitas kerja, berupaya untuk bersungguh-sungguh menjaga, merawat dan mempercantik rumah Indonesia, dengan semangat memperkokoh bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Selamat HUT RI ke 72 Jaya Bangsaku Jayalah Negeriku, Merdeka !!!

                    


Rosandi Ardi Nugraha
Dosen dan Penggiat Sosial





PESAN

0 Response to "Memaknai Kemerdekaan Dalam Al Qur'an"

Posting Komentar