Belajar Menjadi Pendengar Yang Baik

Rosandi Ardi N


Acara halal bihalal, di Jakarta, 25 Juli yang lalu, Ketua FPKS DPR RI, Dr. Jazuli Juwaini,MA memberikan kata sambutan yang menarik, beliau katakan, "Kami sadar kami lahir dari umat, maka kami harus mendengar umat. Kami lahir dari rakyat, maka kami ingin mendengar rakyat. Kami lahir dari doa para ulama, maka kami harus mendengar doa dan nasihat para ulama" 

Ya, apa yang di sampaikan oleh Ketua Fraksi PKS DPR RI memang menarik dan penting, untuk menjadi perhatian kita semua, walaupun pada kenyataan tidak mudah memang menjadi pendengar yang baik. Perlu kemauan yang kuat serta latihan yang terus menerus.  

Jika kita perhatikan, umumnya orang lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Kenapa bisa seperti itu ?  menurut penelitian yang di lakukan oleh para ahli, bahwa kecepatan berbicara rata-rata 125 kata per menit, sedang proses berpikir paling sedikit empat kali lipat kecepatan berbicara. Ini berarti di waktu yang sama, yang diperlukan pembicara untuk mengucapkan 100 kata, sedangkan kapasitas mendengarkan audien 400 kata. Sehinggga jelaslah ada selang waktu pendengar untuk melakukan duplikasi pemikiran di luar pembicaraan. Ini membuktikan bahwa berbicara lebih mudah dan di sukai orang daripada mendengarkan.

Ada sebuah riwayat dalam hadits yang penting untuk kita jadikan pelajaran, suatu hari sahabat Nabi Saw bernama Atabah bin al-Walid, ketika duduk di samping Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau berkata,
“Wahai Abul Walid, katakan apa yang hendak engkau ucapkan.” Kemudian Atabah berkata, “Dia tidak mengucapkan apa pun hingga ketika aku selesai dari ucapanku.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Apakah engkau sudah selesai?” Ia menjawab, “Sudah.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun melanjutkan, ”Maka dengarkanlah apa yang aku ucapkan.

Hadits di atas menunjukan bahwa Rasulullah saw adalah seorang pendengar yang baik. Beliau tidak akan memotong pembicaraan seseorang yang berbicara kepadanya.

Ini hikmahnya kenapa Allah swt menciptakan satu lisan dan dua telinga pada manusia,  agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. 
Mendengar dengan baik adalah sebuah upaya yang serius untuk memahami kebenaran dan perasaan yang tersembunyi dalam sebuah ucapan.

Tidak mudah memang karena hasrat lisan kita untuk bicara jauh lebih besar daripada hasrat untuk mendengar. Karena itulah Allah swt memerintahkan kita untuk menjaga ucapan 
Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Berkata yang benar dalam ayat tersebut maknanya adalah tidak berdusta, ghibah, kasar, kotor, berbohong termasuk berlebih-lebihan ketika berbicara, meninggikan suara dengan kesombongan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

Mulailah bersungguh-sungguh menjadi pendengar yang baik, menghargai lawan bicara, simak dan pahami dengan baik lawan apa yang dikatakan,  karena menjadi seorang pendengar yang baik, kita akan banyak menyerap ilmu, pengetahuan, pengalaman dan nasehat, Insya Allah.

Wallahu'alam bisshowwab

Rosandi Ardi N

Dosen & Pengiat Sosial



PESAN

0 Response to "Belajar Menjadi Pendengar Yang Baik"

Posting Komentar