Sholat Zuhur dan Mie Ayam Bersama Engkau



Kabar itu datang bak palu godam yang menghantam dinding jiwa, pagi ini. Seorang kawan mengabarkan engkau telah meninggal dunia karena serangan jantung. Aku setengah tak percaya...diam sejenak...membisu beberapa saat...kelu lidah ini...lalu teringat kebersamaan kita sekitar sebulan lalu.

Usai pengundian nomor urut pasangan calon dalam Pilkada Kabupaten Bekasi, kita berjalan beriringan menuju masjid untuk menunaiikan sholat zuhur. Sepanjang jalan, banyak hal yang kita bicarakan.

Lalu kita makan mie ayam. Bukan di restoran dengan meja dan kursi yang tertata rapi. Bukan di cafe dengan alunan musik yang merdu. Bukan pula di mal berhawa dingin. Engkau dan aku duduk di pembatas trotoar. Di tepi jalan sebuah kawasan elit di Cikarang tempat mangkal mie ayam gerobak.

Engkau berbaur dengan aku dan kawan-kawan. Penuh canda. Senyum tak pernah berhenti tersungging dari bibir engkau. Ramah.

"Mie ayamnya enak juga ya,"begitu engkau berujar ketika mulai menyantap mie ayam yang diberikan abang penjualnya.

Kita bercengkerama. Tak ada sekat. Tiada jarak. Padahal engkau adalah anggota dewan yang terhormat. Si Abang penjual tak percaya ketika diberitahu engkau adalah anggota dewan.

"Masa sih,"ujarnya.

Engkau begitu tawadhu. Saat teman-teman kami yang kebanyakan dari Humas DPD PKS Kabupaten Bekasi meminta engkau untuk difoto, ada penolakan dari engkau.

"Ga usah akhi,"kata engkau.

Tapi akhirnya engkau bersedia berfoto bersama kami. Sebuah peristiwa maha langka karena engkau adalah wakil rakyat yang kebanyakan seperti tak tersentuh oleh rakyatnya. Bagai menara gading.

Aku tak pernah menduga itu adalah kebersamaan kita yang terakhir. Allah telah memanggil Engkau. Dan foto ini menjadi saksi betapa engkau bukanlah sosok wakil rakyat kebanyakan.

Selamat jalan Ustadz Abdurrahman.

Dari Muridmu
Erwyn Kurniawan
PESAN

0 Response to "Sholat Zuhur dan Mie Ayam Bersama Engkau"

Posting Komentar