Cucu Sugiarti , Yang Meneladani Khadijah ra Sebagai Pahlawan Sepanjang Zaman



Mungkin beginilah rasanya bila rasa mulai terpanah. Hati mulai terpaut. Sekian waktu saja saya tak bertemu meski hanya sekejap dalam suatu acara, ada perasaan rindu yang menjalar. Pelan memasuki relung-relung jiwa. Rindu pada senyum hangatnya. Rindu pada sapa nya yang khas.

Dan siang ini, Alhamdulillah saya berkesempatan kembali bersapa, tak berjumpa tapi cukup mengobati haus akan kabarnya. Walau hanya lewat WA. Alhamdulillah dibalas dengan seketika. Sungguh bahagia.

Membaca untaian kata demi kata dari istri Bupati Bekasi 2007 - 2012, saya sedikit tergugu. Terbayang pelan kalimat-kalimat yang pernah terungkap dalam sebuah wawancara singkat. Inilah kiranya bakti seorang istri. Tiada bertepi. Selalu membawa energi. Yang baru dan terus terbarukan dalam jeri-jeri hari yang terlewati. Tiada mengenal kata lelah. Karena syurga yang dijanjikan Nya terlalu indah.

Pertanyaan saya diawali dengan apa definisi seorang pahlwan menurut ibu ???

" Pahlawan adalah seorang yang tulus, berperan aktif dan berkontribusi dalam menegakkan kebenaran demi kemaslahatan dan bermanfaat bagi umat. " Begitu jawab beliau mantap.
Lalu, siapakah yang pantas disebut sebagai pahlawan??
" Tidak ada batasan tertentu, siapapun bisa jadi pahlawan. Selama ia adalaj seorang hamba Allah yang taat pada perintahNya. Laki-laki atau perempuan, yang bergelar nabi atau bukan "

Dan ketika saya bertanya, siapakah yang ibu anggap sebagai pahlawan dalam kehidupan ibu?? Dan mengapa ia bisa ibu jadikan ia pahlawan??

Lalu, tanpa saya duga, perempuan bergelar S3 yang sangat konsern pada dunia pendidikan ini memaparkan ssbuah fakta yang sangat berharga buat saya.

Cucu Sugiarti mengatakan dengan lugas, seseorang yang dianggap sebagai pahlawan dalam hidupnya adalah, seorang wanita luar biasa. Dan satu-satunya yang pernah ada didunia. Wanita yang dengannya Rasulullah mulia menaruh cinta walau ia telah tiada.

Ialah Bunda Khadijah ra, sang wanita penghulu syurga, yang jiwa dan hartanya dipersembahkan bagi tegaknya Islam disaat tiada orang yang mampu memberi peran.

Sungguh Bu Cucu telah membuka mata saya yang tersisa setengah watt menyusuri jalan raya yang panas bikin penat. Jarak yang lumayan membawa motor butut saya dari Planet Setu ke ruko dikawasan Kalimas. Lalu untaian-demi untaian kata itu terus saya tusuri dengan nikmat.

" Betapa halus dan lembutnya tutur kata Bunda Khadijah. Lembut namun mampu memberi energi dosis tinggi kepada sang suami yang belum lama melewati pengalaman tak terduga. Didatangi makhluk utusan Allah azza wa jalla, Malaikat Jibril yang agung lagi perkasa.

Dalam gigil tubuhnya. Tak banyak tanya Khadijah kepada suaminya. Dia hanya menyelimutinya dengan rapat, melayani sebaik-baik marifat. Agar ketentraman yang hanya Rasulullah dapat. Dari seorang istri yang lembut, bijaksana, murah hati lagi shalihat.

Dengarlah perkataan Khadijah yang penuh keyakinan, membakar gelora dawah yang mulai berkobar. Dalam dada Rasulullah saw sang pembawa risalah Allah nan Akbar.
" Wahai Muhammad, engkau tidak akan mendapat sesuatu yang mudhorot dengan kejadian tadi, karena engkau adalah orang yang gemar bersilaturahmi, dan gemar menolong orang lain "

Dan bukanlah wanita biasa yang mampu berucap demikian, kecuali seorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, berjiwa tegar, memiliki kesensitifan yang positif, dan bijak dalam beriteraksi. Dan dengan kata-kata itulah, seorang suami yang mendapat beban berat, yang gunungpun tak sanggup memikulnya, bangkit dengan energi semangat beramal yang lebih dari sebelumnya. Yang dengan semangat itu, menyebarlah risalah Allah keseluruh penjuru bumi sampai detik ini.

Allahuyarham. Sebuah catatan-catatan kecil yang bermakna besar saya peroleh siang ini.

Bersama rinai gerimis yang menerpa tubuh letih menyusuri aspal Bekasi menuju pulang kembali, Bu Cucu telah memberi arti baru bagi sebuah kepahlawanan yang sejati. Dia yang memberi, tanpa lelah dengan setulus hati dan diri. Namun tak pernah lupa pada potensi dan kelebihan orang lain. Lalu membuat sebuah energi besar menjadi bangkit. Semangat bertarung, lalu menjadi karya-karya baru bagi sebesar-besarnya kepentingan umat. Inilah kiranya jiwa kepahlawanan itu jadi berarti. Kokoh mengukir namanya pada setiap peradaban yang terus berganti. Zaman boleh bergulir, namun cerita tentang kepahlawanan tak pernah berhenti mengalir. Seperti Khadijah ra yang bagi Bu Cucu Sugiarti adalah pahlawan sepanjang zaman yang terus menjadi inspirasi. Juga buat saya, atau calon pahlawan-pahlawan baru dizaman nanti. In syaa Allah.


Sri Suharni
Ketua Relawan Literasi Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Cucu Sugiarti , Yang Meneladani Khadijah ra Sebagai Pahlawan Sepanjang Zaman "

Posting Komentar