Saduddin Dari Santri Menjadi Bupati




Peran santri dalam perjuangan bangsa pada masa kemerdekaan tidak bisa dipungkiri atau dihapus dalam buku sejarah. Santrilah seorang nasionalis sejati, ketika bangsa dan negara terjajah maka mereka tak segan untuk turut bertempur merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Santri adalah sebutan untuk pelajar muslim yang mondok di pesantren mempelajari ilmu agama. Sepertinya halnya mahasiswa, mereka juga tidak berdiri di menara gading keilmuannya. Seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak. Selain menimba ilmu agama,santri juga memang dipersiapkan untuk memimpin masyarakat.

Kelak ketika mereka kembali lingkungan masing masing setelah selesai mendapatkan ilmu yang dia pelajari dipesantren mereka diwajibkan untuk menularkan dan mempraktekan ilmunya kepada masyarakat setempat, bahkan bisa jadi mereka akan membuat pesantren baru atau meneruskan sebuah pesantren ditempat itu. Intinya adalah mereka akan menjadi calon pemimpin atau tokoh masyarakat di wilayah tersebut.

Santri Jadi Bupati

Saduddin, adalah salah satu contoh dari santri yang dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Latar belakang beliau dari keluarga santri, dari seorang ayah, Haji Marzuki Saad yang menjadi pemuka agama atau Amil di kampung Gabus Tambun Utara. Berkeinginan kelak Saduddin menjadi orang yang sholeh dan mensyiarkan agama Islam.

Sang ayah, telah menanamkan nilai nilai keislaman dari semenjak kecil dan sangat keras jika sudah menyangkut ikhwal agama.

Kehidupan keagamaan selain didikan orang tua langsung juga dimulai dengan mengaji pada dua orang guru, selepas Isya di Mushollah Al Barkah bersama Kyai Rohiman dan KH Amir Hamzah di Masjid Nurul Huda. Disanalah saduddin banyak menguasai ilmu kitab.

Kehidupan pesantren dan menjadi santri dimulai setelah dari MI di Kampung Gabus Saduddin melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren At Taqwa yang diasuh oleh KH Noer Ali, Pahlawan Nasional Bekasi.

KH Noer Ali menjadi seorang kyai panutan bagi Saduddin, dimatanya sang kyai merupakan figur ulama yang komplit,pemahaman agamanya mumpuni,prilakunya santun dan berwibawa, dikenal sebagai pejuang yang pemberani, juga pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi pengikutnya.

Tak heran, walaupun tingkat MTS tidak pernah diajar langsung oleh KH Noer Ali, biasanya sehabis sholat kyai Noer ali menyempatkan diri untuk memberikan ceramah di masjid, disitulah saduddin berada di barisan depan mendengarkan ceramah sang kyai.

Apabila dalam ceramah ada yang tidak dimengerti, Saduddin memberanikan diri kepada kyai panutannya untuk minta penjelasan tentang isi ceramah tersebut.

Jenjang pendidikan berikutnya, saduddin melanjutkan sekolah ke MA (Madrasah Aliyah) YAPINK. Kegemarannya akan membaca dan menuntut ilmu membawanya untuk mempelajari ilmu tasawuf di MA Yapink dibawah bimbingan langsung KH Mahfudz hingga berbagai macam kitab dia khatamkan.

Selepas MA YAPINK untuk memperdalam ilmu agamanya, Saduddin berangkat ke Banten untuk mendalami tafsir quran dan kitab kuning di pondok pesantren tradisional Syarif Abdurrahman Ki Jayabaya atau di kenal Pondok Rombeng yang berada di Kampung Kejaban, Desa Kepandain Kecamatan Cisaruas, Kabupaten Serang Banten.

Tak cukup hanya ilmu dari pesantren saduddin pun menjalani kehidupan keilmuannya dengan berkuliah di IAIN Banten. Di IAIN ini Jiwa sosial dan organisasinya di tempa dengan bergabung dan aktif di oranisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). Di organisasi inilah kelak ia bertemu dengan sang istri, Cucu Sugiarti yang juga seorang santriwati.

Kehidupan pesantren itu tak lepas ketika masa sekolah maupun menuntut ilmu dipesantren dan kampus. Dalam berpolitikpun saduddin bergabung dengan partai politik yang identik dengan partai dakwah, PKS ( Partai Keadilan Sejahtera), yang terdiri dari kaum terpelajar dan juga para santri.

Bergabungnya Saduddin di PKS membawanya pada perjalan dakwah melalui parlemen dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Bekasi satu satu dari PKS pada periode 1999 - 2014.

Atas takdir Allah, PKS mengajukan Saduddin pada pilkada Kabupaten Bekasi untuk maju menjadi Bupati Bekasi Periode 2007 - 2012 berpasangan bersama Darip Mulyana dan tampil sebagai pemenang dengan mengalahkan lima orang pesaingnya.

Sang Santri yang menjadi Bupati itu, kemudian mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh masyarkatkan kabupaten bekasi baik dari sisi sosial, kemasyarakatan dan keagamaan, antara lain adanya tunjungan kematian, ada tunjangan untuk marbot masjid,dll.

Dengan takdir Allah pula pada periode kedua dalam pilkada 2012 - 2017, Saduddin yang berpasangan dengan Jamalullail harus kalah dalam pilkada tersebut. Namun Masyarakat masih mempercayainya untuk berkhidmat di parlemen dengan terpilih menjadi anggota DPRRI periode 2014 - 2019.

Kini atas permintaan masyarakat yang menginginkan agar apa apa yang dulu pernah dilakukan saat memimpin yang kemudian hilang pada saat dia tidak memimpin, maka PKS pun turut mengusungnya untuk Pilkada Kabupaten Bekasi 2017 - 2022.

Sang santripun menatap jalannya untuk meraih kembali menjadi Bupati Bekasi berpasangan dengan Ahmad Dani seorang musisi yang terjun kedunia politik.

Banyak hal yang dia sampaikan berkait pencalonannya sebagai bupati, antara lain :

"Jabatan adalah amanah yang harus saya jaga segenap jiwa raga. Sejak awal dicalonkan,saya sudah siap mewakafkan diri saya untuk Kabupaten Bekasi," pungkasnya saat menjabat sebagai Bupati Bekasi periode 2007 - 2012.

"Saya ingin mengembalikan apa yang menjadi hak hak rakyat yang kini telah hilang," ungkapkan ketika dicalonkan Kembali untuk menjadi Bupati Bekasi periode 2017 - 2022.

By : SahabatBaik
Member Relawan Literasi Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Saduddin Dari Santri Menjadi Bupati"

Posting Komentar