Nurani Jurnalis



Belum setahun saya ikut pelatihan jurnalistik. Dari nol besar. Tapi saya udah berada ditengah derasnya arus aktivitas orang-orang yang berkutat didunia jurnalistik. Ilmu mereka secara teori dan praktek dilapangan ga usah diragukan lagi. Meskipun masih wara wiri lokalan saja. Tapi kiprah mereka buat saya luarrr biasah. Seringnya jadi penonton, sesekali ikut nyicipin terjun kelapangan, kadang jajal bikin hardnews hasil data orang lapangan. Sering hasilnya teronggok merana disudut fast notepad. Bersanding dengan puisi baper buatan saya setelah tau hardnews saya ketendang pasrah. Nasiiibbbb.....😂.

Kalo inget deretan peristiwa tahun 2012 sampe 2014 sungguh hati saya seolah diobrak-abrik badai tornado. Liat share-share liar yang bertebaran di wall facebook, timeline twitter, sampe broadcast yang menyapa whatsapp saya. Ngeri. Saya cuma bisa nga-nga, ngelus dada, sedih, geram tak terkira. Ini fenomena apa ?? Kok ya adaaa gitu, orang yang kerja nya cuma bikin tulisan sampah, ga ada guna, menyebarkan kebencian, udah gitu ngajak orang lain merasakan kebencian yang sama. Trus memprovokasi mereka buat ikutan benci juga. Hilang sudah budaya tabayyun dan akhlak husnudzhon. Dan yang lebih sedih lagi, itu dilakukan sama ikhwah yang nota bene pada ngaji. #nampolin muka bolak-balik.

Padahal efeknya luar biasa, begitu ada penjelasan lebih lanjut, tambah nga-nga juga. Infonya hoak, menjebak, opini liar yang ga bisa dipertanggungjwabkan kebenarannya. Hayooh dah. Mau minta maaf gimana ?? Udah kelewat nyebar itu berita kayak wabah. Berharap aja itu korban fitnah dan ghibah ga nuntut kita dipengadilan Allah. Bangkrut bisa. Amalan ga seberapa di rampok habis-habisan terkuras korban-korban berita hoak yang terlanjur kita sebar. Jangankan salahkan jempol. Salahkan kita yang ayakannya kurang halus.

Semengerikannya kita yang terlalu semangat asal sebar, lebih mengerikan lagi para pembuat berita, pemilik ide untuk bikin berita, juga yang membiayai website spesialis berita hoak. O..my God. Pak Ecep, wartawan senior sekaligus jajaran pemred Republika bilang dengan gemas, wartawan itu jangan menjadi pihak yang merusak masyarakat !!!!!

Jurnalis kudu sadar, dia adalah corong, juru bicara orang banyak. Jurnalis harus sadar, fungsi media yang dia bawa-bawa identitasnya itu punya misi mulia, yaitu memberi informasi yang benar, mengedukasi juga sebagai kontrol sosial. Bukan jadi juru bicara penguasa apalagi pengusaha, atau bajingan yang beruntung punya duit banyak hingga memanfaatkan sarana media sebagai jarum-jarum setan yang menyuntikkan virus merusak dan menyebarkannya secara massal keseluruh bangsa.

So, jangan bayangkan apa dan berapa materi yang didapat dari melacurnya jurnalis demi kesenangan semata, tapi bayangkan apa yang bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Allah setiap huruf, kata dan berita dusta yang sudah tersebar dan merusak tatanan kemasyarakatan. Meracuni sendi kehidupan umat. Membunuh karakter sosok yang disasar untuk ditumbangkan oleh pemilik modal. Menjadikan fitnah sebagai fakta. Ah. Sulit rasanya untuk menarik nafas dengan leluasa. Sesak dada.

Jurnalis kita harus dihidupkan lagi hati nuraninya. Dibuat lagi nyaring alarm kebatinannya. Diingatkan lagi tentang hakikatnya sebagai seorang hamba. Bahwasannya, dunia ini hanya sementara. Takutlah pada hari dimana setiap perbuatan kita akan punya konsekuensi besar dihadapan Allah. Sang Hakim sejati yang keadilanNya tak bisa dibeli oleh dunia dan seisinya.

Jurnalis adalah dai-dai yang menyuarakan kebenaran lewat pena dan tinta. Juru dawah dengan tampilan beda namun memiliki fungsi yang sama dengan para pejuang dawah yang sudah diakui keberadaannya. Maka, membina jurnalis, adalah membina dai-dai baru yang akan saling bekerja sama memperbaiki umat dan bangsa.

Semoga, kita adalah salah satunya.

*Sri Suharni
Ketua Relawan Literasi Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Nurani Jurnalis "

Posting Komentar