Sempurna mu Saudaraku




PKSBekasi, Dalam sebuah kajian kecil, ustadzah mengutip nasihat dari buku Tazkiyatun Nafs-nya Said Hawwa. Ada lima hal, yang dapat membuat seseorang menderita sepanjang hidupnya:

1. Menyesali masa lalu
2. Mengkhawatirkan masa depan
3. Tidak menerima masa kini
4. Tidak mampu memaafkan orang lain
5. Terlalu mendengarkan perkataan orang lain.

Suatu pengingat yang sangat bagus untuk hati
gersang, yang melangkah di muka bumi ini.
Berkali-kali mendengarnya pun masih terasa sulit untuk melaluinya. Poin nomor lima
misalnya. Apa perlu mendengarkan orang lain ??  Perlu. Tapi jangan terlalu. Terlalu mendengarkan bisa
berdampak buruk, apalagi kalau yang didengarnya negatif, bisa kena beban psikis.

Tapi, ada yang mengganjal dalam pikiran ini. Bagaimana engkau, wahai pemimpin? Banyak
sekali, pastinya yang engkau dengar. Banyak pujian, menyenangkan namun dapat menghancurkan !!!

“Celaka engkau, engkau telah memotong
leher temanmu (berulang kali beliau
mengucapkan perkataan itu). Jika salah
seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia
menganggapnya demikian-. Adapun yang
mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Hr. Bukhari)

Banyak makian-hinaan yang menjatuhkan.
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah  mereka yang dahulunya
(di dunia) mentertawakan orang-orangy ang beriman. Dan apabila orang-orang
beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.
Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya
mereka itu benar-benar orang-orang yang
sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. [Al
Muthaffifin:29-33].

Aaah, betul kiranya, tidak mudah menjadi pemimpin. Baru pribadi saja yang diserang, kadang sudah lemah-rapuh jiwa ini.

 Karenanya, salut saya dengan para pemimpin Islam ini, mulai dari Rasulullah, para khalifah yang mulia, para ulama, para pemimpin-pemimpin bangsa di era berita-berita benar dan palsu, mereka sanggup memimpin dirinya, keluarganya dan juga ummatnya.

Tak salah memang, Allah hadiahkan bagi pemimpin yang adil, keutamaan tertinggi.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. yang bersabda:
Ada tujuh macam orang yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan melainkan naungan Allah , yaitu: Pemimpin yang adil , pemuda yang tumbuh dalam
beribadah kepada Allah 'Azzawajalla, seseorang yang hatinya tergantung
kepada masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya
berkumpul atas keadaan yang sedemikian serta berpisahpun atas keadaan yang sedemikian, seorang laki- laki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan serta kecantikan
wajah, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku ini takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu menyembunyikan amalannya itu, sehingga dapat dikatakan bahawa tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang ingat kepada Allah
di dalam keadaan sepi lalu kedua matanya berlinang air mata. (Muttafaq 'alaih).

Tuntutan kesempurnaan pemimpin memang diharapkan, salah sedikit, hina ia dihadapan umatnya. Namun, inilah dia, jalan orang-orang yang diberi nikmat (Al fatihah; 7), yaitu
jalannya para nabi, para sahabat, para ulama.

Sangat sukar, namun berujung cita yang mulia.
Salah manusia adalah keniscayaan, karena kata
al-insan itu sendiri, berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. Namun, selalu ada sela untuk memperbaiki diri. Untuk berdiri tegak setelah
jatuh, memilih jalan yang lebih baik dan menjadi
pribadi bijak dari hari ke hari.
Do'a kami untuk kalian, para pemimpin ummat ini, semoga ridha Allah senantiasa bersamamu
dan ummat yang engkau pimpin.


~Teruntuk, ustadz kami, DR. H Sa'duddin, MM, semoga dimudahkan jalanmu, menghantar kami,
bersama-sama meraih naungan Allah di hari
akhir~


Written Ni Nyoman Puji Astuti





PESAN

0 Response to "Sempurna mu Saudaraku"

Posting Komentar