Ada Apa Dengan Siyasi



Malam sudah larut, jam dinding di kamar sebelah berbunyi hanya sekali.
Mata perih, seakan membagunkan.
Sejenak menepi di pinggir tempat tidur dan memandangi tumpukan tugas yang harus diselesaikan.
Cukup menguras energi, saat diri mengeluhkan beratnya tugas-tugas itu.
Sesekali melirik lagi, dan diraihnya satu buku tentang asasi tanpa mempedulikan yang lain. Dorongan keingintahuan yang lebih, karena sempat satu pernyataan ibu-ibu di tukang sayur tempo hari, jika politik itu haram.

Tidak serta merta mengiyakan pernyataan itu, disadari atau tidak, suka tidak suka kita sudah masuk dalam lingkaran politik ini. Lihat saja tempe dan tahu yang tadi di pilih sang ibu. Kedelai sebagai bahan bakunya itu adalah hasil politik pemerintahan yang berkuasa.

Asasi atau siyasah menurut Zakarin dalam buku Tarbiyah Siyasiyah adalah segala upaya untuk memperhatikan urusan kaum muslimin, dengan jalan menghilangkan kezaliman penguasa dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka.
Sebuah manajemen atau tata kelola pemerintahan, serta bagaimana memberdayakan umat untuk turut serta dalam memperbaiki terhadap kekurangan dari sistem yang sudah ada dalam pemerintah saat ini.

Yang menjadi prioritas adalah segala hal yang berhubungan dengan dunia, seperti takdir, kebaikan, keburukan, bermuamalah, perdagangan, perkawinan, warisan, berorganisasi, menunjuk pemimpin, taat dan mengkritik pemimpin, hukum ekonomi baik kapitalisme maupun sosialisme.

Ingatlah kita, islam itu rahnatan lil 'alamin. semua aspek kehidupan yang berhubungan dengan pencipta dan sesama yang diciptakan diatur dengan sedemikian rupa. Termasuk tentang politik.

Mengapa kita sebagai umat muslim juga perlu atau bahwan wajib ikut dalam pergulatan politik yang kata banyak orang politik itu kotor, bahkan haram bagi sebagian orang.
Apakah sekedar ingin mencapai kekuasaan, mengganti atau hijrah dari pemerintaan saat ini menjadi pemerintahan islam, tidak, ada serangkaian perjalanan panjang. Butuh pemahaman lebih ttg hal ini.

Namun kita soroti makna sebuah kekuasaan. Jika kita mendengar orang berkuasa, nilai rasa negatif lebih mendominasi dibanding nilai rasa positif. Kata kekuasaan sering membuat bulu kuduk manusia berdiri. Jika siempunya tidak menyikapinya dengan hati nurani dan tentunya maknawiyah yang kuat.

Kekuasaan, oleh syeih dan murabbi kita almarhum Ustadz Rahmat Abdullah mengiaskan seperti truk besar yang bermuatan penuh dan berlari cepat, memelantingkan beberapa muatannya dan memporak porandakan kendaraan-kendaraan kecil yang dilaluinya hanya dengan terpaan angin. Ia dimaki-maki, tetapi banyak yang setia menunggu karena pasokan beras dan sayurannya.

Kekuasan juga bisa digambarkan sebagai ibu yang sibuk dengan dandanan dirinya, urusannya pribadi, beronline ria, tapi lupa kompor di dapur belum dimatikan, anak-anak belum dimandikan atau belum dipersiapkan padahal undangan sekolah segera mulai. Naudzubillah mindzalik. Semoga kita senantiasa dihindarkan dari perilaku itu.

Atau kekuasaan juga bisa berpenampilan sebagai bapak yang jarang pulang, tidak memperlihatkan performanya kepada anak. Tidak pernah memberikan pengertian ataupun nasehat kepada anaknya atau istrinya, tetapi ia mampu memarahi anak atau istrinya jika suatu saat membuat suatu kesalahan.

Iman Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa kekuasaan bak dua serigala yang lapar dilepaskan ke arah sekumpulan kambing tidaklah lebih berbahaya bagi kambing-kambing itu daripada rakusnya seseorang terhadap harta dan kekuasaan, bagi agamanya. Sungguh kekuasaan manusia itu lebih ganas dibandingkan kekuasaan hewan.

Kekuasaan tidak akan dimiliki oleh orang lemah (harta maupun jiwa). Si miskin tak mampu menekan si kaya. Sebagai contoh si miskin tak mampu menggusur rumah-rumah mewah, mengurangi kendaraan pribadi agar jalan tidak macet, dan meggantinya dengan armada massal yang lebih merakyat. Itu hanyalah mimpi belaka, karena si miskin tak mampu melakukannya. Butuh modal yang kuat untuk merubah itu semua. Meski ahli ibadah, tidak cukup dengan Doa untuk merubah masyarakat. Namun tak dipungkiri pula kekuasaan bisa berbalik arah jika pihak yang terkalahkan bangun dari tidurnya. Tergerak hatinya untuk berbuat dan bergerak, karena menyangkut harga dirinya dan bisa bangun dan “mengamuk” bersama-sama.

Kekuasaan Barat saat menguasai negari-negeri Islam lalu mencengkramkan kekuasaannya ke wilayah-wilayah Islam. Barat meracuni umat dengan pemikiran memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari (paham sekuler). Menanamkan asas manfaat yang Barat ciptakan. Sehingga mampu menggilas pandangan hidup Islam pada sebagian besar umat manusia. dan menjadikan kemanfaatan sebagai standar kehidupan. Oleh karenanya kita kembali pada aqidah yang benar yaitu aqidah islamiyah yang tidak memisahkan antara aqidah ruhiyyah (urusan agama dan akherat) dan aqidah siyasiyah (urusan dalam politik dan kehidupan sehari-hari). Kembali pada hukum islam, hukum agama universal yang mampu mengatur norma-norma yang dinamis bagi kehidupan manusia yang kompleks dan majemuk.

Untuk lebih memahami, apa sebenarnya sasaran dan tujuan dari Siyasah dalam Islam.

Tiga sasaran yang akan dituju dalam menegakkan siyasiyah antara lain :
a. Wa’yu siyasi / Kesadaran Politik.
Sadar bahwa politik itu tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya politik dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

b. Dzat Siyasiyah / Kepribadian Politik.
Setelah menyadari urgensi politik, maka memiliki jiwa-jiwa yang berkecenderungan pada karakter politik. Kecenderungannya bukan semata untuk berkuasa, namun ada itikat diri untuk menjadi bagian politik itu sendiri. (ini yang akan membedakan orang yang berpolitik, berpijak pada apa seseorang itu berpolitik? Jika ia menempatkan Islam sebagai pijakan awal ia berkecimpung berpolitik maka akan sangat berbeda kecenderungannya dibandingkan mereka yang berpijak pada hausnya kekuasaan.

c. Musyarakah Siyasiyah / Munculnya partisipasi politik yang aktif.
Setelah sadar dan berkepribadian politik maka, jiwa-jiwa tersebut akan selalu ber afiliasi dalam amal jam’ah. Dan mengimplementasikan bahwa islam dalam aktifitas politiknya, menempatkan islam sebagai solusi kehidupan bahkan pada aspek politik.

Sedangkan tujuan utama siyasiyah dalam islam menurut www.dakwatuna.com dalam bentuk trilogi politik Islam yaitu Agama, Keadilan dan Kesejahteraan.

Penjelasan diantaranya adalah :
a. Iqomatuddin (Menegakkan Agama)
Tegaknya kalimatullah di muka bumi ini adalah tujuan tertinggi dari perjuangan politik islam. Tegaknya khilafah bukan hanya mimpi dan cita-cita sebagian umat saja, namun cita-cita seluruh umat islam di dunia. Perjuangan politik yang dirahmati Allah adalah perjuangan politik yang tetap tegung memegang tali Allah dan tetap menegakkan hukum Allah, tidak hanya mengedepankan simbol agama saja.
“Kebajikan itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat. Akan tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat, al-kitab, para Nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang memenuhi janji mereka, orang-orang yang sabar dalam kesulitan, penderitaan dan ketika perang. Merekalah orang-orang yang benar, dan merekalah orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah: 177)

Pada ayat diatas, Dakwatuna mengupas apa makna mendalam dari ayat ini. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menegaskan bahwa kebajikan bukanlah sekadar konsep atau ungkapan verbal belaka, tetapi kebajikan yang real dalam perilaku seseorang dan makna sebenar-benarnya khidmat.

Dalam ranah politik yang penuh dengan sandiwara dan kepura-puraan sering terasa garing dengan kebaikan yang banyak diharapkan umat dan muncul dalam kehidupan nyata.

b. Menegakkan keadilan
“Sungguh Allah memerintahkan untuk berbuat adil, ihsan, menyantuni kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, mungkar dan agresif.” (QS an-Nahl: 90)

“Sungguh Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanat kepada yang berhak, dan jika kalian memerintah hendaklah kalian memerintah dengan adil.” (QS an-Nisa: 58)

Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa “Semua orang tidak ada yang berbeda pandangan bahwa akibat dari kezhaliman adalah hina, dan akibat dari keadilan adalah mulia. Karena itu dikatakan bahwa ‘Allah membela negara yang adil meski kafir, dan tidak membela negara yang zhalim meski beriman.”

c. Mengentaskan kemiskinan atau perbaikan Ekonomi Umat
“Shadaqah (zakat) itu hanyalah diperuntukkan bagi para fakir, miskin, orang-orang yang bekerja mengelolanya, orang-orang yang diikat hatinya, budak (yang ingin dimerdekakan), orang-orang yang berutang, (untuk kepentingan) di jalan Allah, dan orang yang dalam perjalanan. Dan Allah Maha Mengetahui dan Bijaksana.” (QS at-Taubah: 60)

Dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW dahulu jika didatangkan dengan orang meninggal yang masih menanggung utang, beliau bertanya, “Apakah dia masih menyisakan utang?” Jika dikabarkan bahwa dia sudah melunasi utangnya beliau menshalatkannya. Jika tidak beliau berkata kepada umat Islam, “Shalatkanlah sahabat kalian!” Ketika Allah memberikan banyak kemenangan dalam banyak peperangan, beliau berkata, “Saya lebih berhak atas orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. Siapapun orang beriman yang meninggal dan meninggalkan utang maka saya yang menanggung pelunasannya. Dan barang siapa yang meninggalkan harta maka itu untuk ahli warisnya.”

Nabi Muhammad SAW memprioritaskan solusi kongkret bagi rakyatnya, terlebih saat pendapatan Negara saat itu surplus. Beliau tidak berpikir mengedepankan egonya seperti membangun rumahnya yang masih berstandar RSS, atau menghiasi masjid yang masih jauh dari standar bangunan, atau hal-hal lain yang masih tergolong kebutuhan tersier maupun sekunder, karena masih banyak umat Islam ketika itu yang belum mampu memenuhi kebutuhan primernya.

Tengoklah pada diri kita, nikmat yang Allah sudah dikaruniakan kepada kita apakah sudah selayaknya kita berikan kepada tetangga yang mungkin hari itu tidak bisa makan atau tidak mampu membayar sekolah anaknya?

Oleh karenanya, kita pahami bahwa Islam memberikan perhatian yang tinggi terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat secara nyata. Surplus yang diperoleh atas kemenangan tidak diputar di kalangan tertentu, sehingga umat Islam hanya menonton hasil perjuangan yang dinikmati oleh golongan elit saja. Dan bahkan Rasulullah SAW yang membuat kebijakan seperti itu, justru malah menyisakan utang pribadinya, sehingga baju besinya masih tergadai di tangan seorang Yahudi di kala beliau menghadap Allah SWT. Namun pada kenyataannya kondisi saat ini sangat sulit untuk memutar rizki itu dalam lingkup umat muslim sendiri. Terlepas dari mutu dan kualitas produk atau jasa yang ditawarkan oleh muslim kadang tidak memenuhi persyaratan ada sistem “kekuasaan” yang ditawarkan oleh musuh islam sehingga terus membelit kehidupan umat seperti roda yang berputar tak selesai pada tahap mana. Perlu ada alat yang mampu mengerem sistem “kekuasaan” ini. Semoga Politik Islam mampu menjadi solusi untuk mengungkit roda “kekuasaan” yang semakin kencang berlari dan menyeret-nyeret umat dengan mengeluarkan pengungkitnya untuk mengerem dan kejayaan islam akan di raih oleh umat islam. Allahu Akbar.

Dakwah, Tarbiyah dan Siyasiah adalah keniscayaan dalam situasi, kondisi apapun dalam kehidupan sehari-hari. Eksistensi siyasah dalam partai dakwah ini harus tetap tegak dan berdiri untuk capaian cita-cita tinggi, mulailah dengan langkah meskipun kecil untuk mengokohkan dakwah ini. Kuatkan diri dengan meningkatkan maknawiyah diri dan militansi. Ambil peran masing-masing kita. Tegaknya umat ini tegantung dari aqidahnya. Tegaknya aqidah tergantung dari dakwahnya. Tegaknya dakwah tergantung dari tarbiyah umatnya. Maka selalu kuatkan tarbiyah masing-masing kita.

Selamat menyongsong Pilkada 2017.
Bukan kemenangan pribadi, tetapi kemenanngan jamaah dan insyaa allah kemenangan umat.

Wallahu 'alam

By : Fatina

Disarikan dari :

Ahmad Zakirin. Tarbiyah Siyasiyah. Era Adicitra Intermedia. Solo

Al Quran Nul Karim.

KH. Rahmat Abdullah. 2003. Manhaj Haraki. Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi SAW. Rabbani Press. Jakarta

KH. Rahmad Abdullah. 2013. Warisan Sang Murabbi. Pilar-pilar Asasi. Tarbawi Pkress. Jakarta

Mustafa Mansyur. 2013. Fiqih Da’wah. Era Adicitra Intermedia. Solo

www.dakwatuna.com
PESAN

0 Response to "Ada Apa Dengan Siyasi"

Posting Komentar