Sa'duddin Marzuki : Kisah Sebongkah Es Yang Mencair



Cair.....!!!!
Mungkin lucu kalau saya bilang, kebekuan yang ada dalam hati saya tentang sosok seorang Sa'duddin Marzuki baru bisa meleleh dan sedikit demi sedikit mulai mencair. Beliau pernah menjadi Bupati saya tahun 2007-2012. Seorang kader terbaik yang di miliki masyarakat kabupaten Bekasi. Tapi saya memandang jarak antara sosok Bupati yang lahir dan besar di Kampung Gabus, kecamatan Tambun Bekasi ini sebagai seorang yang jauh meng-angkasa di atas sana.

Bagaimana tidak, beliau kader aktif tarbiyah, seorang anggota DPR RI, mantan Bupati, dengan seabrek jadwal kesibukan, bertempat tinggal di sebuah komplek perumahan yang lumayan mewah pula. Kader rumput kering yang lama tak di guyur hujan gini, mana berani ujug-ujug mendatangi beliau tanpa kepentingan. Mending jadi korban mode daripada korban perasaan.

Cair.....!!!
Itu yang saya rasa nya ketika selasa sore ini saya menyambangi kediaman beliau dalam suatu kepentingan. Melihat senyum sumringah , di depan sebuah rumah yang ga se "angker" yang saya bayangkan. Bahkan beliau ternyata sudah menunggu kedatangan rombongan sejak beberapa saat yang lalu. Malu nya ga ketulungan saat ketahuan saya ternyata terlambat datang.

Kami di terima hangat di sebuah ruangan di sebelah kanan rumah. Tak terlalu besar, nyaman dengan suasana sejuk beralas karpet empuk berwarna merah - corak. Di sisi ruangan terdapat meja dengan ukiran Jepara yang lumayan besar. Juga deretan meja yang penuh berisi buku dan sejumlah dokumen. Sebuah ruangan yang memang di setting khusus menerima tamu-tamu istimewa, namun terkesan bersahaja.

Mendengarkan pemaparan beliau tentang amanah yang baru saja tersematkan kepada nya, Pak Saad tak ingin banyak mengumbar rencana. Saat ini beliau hanya berfikir, dawah harus di menangkan di kabupaten Bekasi. Dan ini sebuah tugas berat bagi semua, terutama kader dawah. Peta politik yang memanas , pemerintahan yang di nilai kurang greget, membuat kepercayaan masyarakat sedikit demi sedikit luntur dan ini berimbas pada menurunnya antusiasme mereka mengikuti pilkada.

Agenda pemenangan beliau adalah agenda pemenangan dawah. Membuka akses-akses baru bagi tersebarnya kebaikan-kebaikan yang bisa di rasa kan luas oleh masyarakat.

Cair.....!!!
Begitulah kira dawah. Ia bukan sekedar menjadi penghias di etalase-etalase masjid, menjelma dalam alunan suara rebana yang nyaring di dendangkan para ibu majelis talim. Dawah bukan hiasan pemanis hari-hari besar umat Islam. Dawah adalah ladang-ladang kebaikan, keran-keran yang memberikan kehidupan di tengah umat. Sejuk dan damai di bawah naungan seorang pemimpin yang melindungi dan mencintai rakyat nya. Yang bukan hanya mensejahterakan mereka di dunia, tapi membawa mereka bersama-masuk kedalam syurga.

Cair....!!!
Inilah ketika bongkahan es di hati saya mengurai dan mengalir karena kehangatan seorang pemimpin umat.

"....jangan lihat diri saya yang sekarang. Saya adalah Sa'duddin yang dulu kalian kenal. Kader yang merintis dari bawah. Yang berjibaku dan berjuang bersama kalian.
Saya tetap milik kalian. Kader-kader dawah yang luar biasa. Karena kehebatan kalian semua saya ada di sini sekarang. Tapi saya adalah kader yang di amanahi pembebanan dawah. Kader yang di pilih untuk berkhidmat untuk umat. Jadi, saya sekarang milik umat. Hidup saya akan saya persembahkan buat membangun umat. Termasuk kalian semua....."

Saya merasa lega. Menyadari bangau yang terbang setinggi-tinggi nya itu tak lupa dari mana ia di besarkan, dan dimana ia akan singgah selalu. Di jamaah ini beliau tumbuh dan besar. Merintis jalan lalu meniti nya bersama-sama. Dan beliau tak kan meninggalkan jejak-jejak kebersamaan itu sampai kapanpun.

Cair.....!!!
Dan biarlah bongkahan es itu tetap mengalir. Mengurai satu keyakinan bahwa sungai itu akan menemukan tempat dimana ia bermuara.

Kita akan terus berjuang bersama, ustadz. Demi kemenangan dan kejayaan dawah ini.
Membangun Bekasi agar Sejahtera dan mandiri. Menjadikan Bekasi sepenggal Firdaus di bumi pertiwi.

By : Sri Suharni
Relawan Literasi Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Sa'duddin Marzuki : Kisah Sebongkah Es Yang Mencair "

Posting Komentar