Mudik, Perjuangan Tahunan Anak Rantau




PKSBekasi, Ada anekdot di masyarakat yang saya revisi redaksi nya. "Mudik adalah proyek tahunan yang hanya kiamat yang bisa menghentikannya". Bagaimana tidak, setiap tahun menjelang akhir tahun, libur yang sedikit panjang, terlebih menjelang hari raya idul fitri, jutaan manusia berbondong-bondong kembali kekampung halaman. Tak ada yang mampu menjadi penghalang.

Ga kebagian tiket kereta, naik bis. Ga kebagian tiket bis, sewa mobil di tempat rental. Bahkan naik sepeda motor dengan segala resiko berat di jabanin. Perantau terkena stigma, lebaran harus kumpul di kampung halaman. Ga ada urusan dengan biaya yang di keluarkan. Rezeki silaturahmi dan berkah ramadan. Ga terpengaruh kenyataan yang ternyata tahun ini berbarengan dengan tahun ajaran baru yang bisa bikin meledak anggaran pengeluaran. Indonesia memasuki waktu bagian labil, ketika THR harus di alokasi kan untuk kebutuhan daftar ulang, beli buku dan seragam. Tapi tak mengalahkan agenda mudik walau mengorbankan nastar dan rendang.

Terlebih ada iklan yang menggerus perasaan, " Rindu seorang anak adalah oleh-oleh berharga bagi ibu nya. Sebab banyak orangtua yang kesepian ketika anak-anak mereka sudah meraih kesuksesan "

Mengharukan ya ?? Meskipun soal kebenaran itu harus pake survey lanjutan, atau cuma ada di sinetron religi semacam rahasia Ilahi. Entahlah. Sebab kenyataan nya sosial media bertebaran parade kemacetan panjang di simpul-simpul arus mudik. Dan udah ga aneh kalo tiket kereta api sebulan sebelum ramadan udah ludes terjual tanpa sisa.

Inilah fenomena kejadian istimewa di momen lebaran. Antrean panjang di pintu tol, rebutan bensin, cekcok mulut sesama pengendara yang teramat lelah menyebab kan mudah nya naik darah.

Manusia, muncul karakter asli nya ketika dalam keadaan kritisnya. Jiwa survival. Mudik adalah wajah mini keadaan manusia, yang boleh bisa kita jadikan tolak ukur keberhasilan musim taat selama satu bulan.

Seorang pemudik berkisah di sosial media, dari jam 21.00 sampai 06.41 terjebak macet total puluhan kilometer di daerah Ketanggungan Jawa Tengah. Tanpa aparat kepolisian yang berjaga. Emosi yang meluap kerana letih dan lelah, di tambah antrean bahan bakar yang mengular akibat banyak nya SPBU kehabisan stok dan keterlambatan pasokan akibat kemacetan. Ia mengatakan, " Saya merasa seperti di daerah konflik macam Syiria...." Luaarr biasa.

Atau jarak 15 km antara Losari Cirebon ke keluar tol Brebes menghabis kan waktu selama 12 jam. Amat sangat luar biasa.

So, para mudikers, kembali luruskan niat sejak di rumah, di tengah perjalanan yang panjang dan tak terduga menguras energi dan jiwa, juga di akhir perjalanan tujuan.

Ingatlah perjalanan panjang yang penuh perjuangan ini adalah ajang kita berdzikir dan tafakur. Seberat apapun perjuangan kita berlebaran di kampung halaman, masih lebih berat dan jauh perjalanan kekampung halaman kita yang sesungguh nya, kampung akhirat. Sudah kah kita siap ??

Seletih-letihnya kita dalam perjalanan mudik ini, masih jauh lebih letih perjalanan yang semua orang pasti melewatinya. Dan yang pasti mendebarkan, ujung perjalanan mudik adalah kebahagiaan berkumpul dengan sanak keluarga tercinta. Sedangkan ujung perjalanan abadi kita ?? Sungguh masih dalam tanda tanya besar yang mendebarkan.

Jadi, ujung perjalanan kita di tentukan dari proses yang kita jalani di sepanjang jalan kehidupan itu. Kemacetan, kelelahan, hambatan, peristiwa tak terduga. Mewarnai perjalanan kehidupan kita. So, jangan jadikan sia-sia. Di dalam nya ada jutaan kebaikan dan ladang amal sholeh yang tersimpan menjadi hikmah.  Jangan lupa kan ini masih ramadan. Bulan penuh keberkahan dan taburan pahala Sang Maha.

Selamat menikmati perjalanan ini sahabat mudikers. Perjuangan tahunan ini adalah perjuangan dengan ujian kesabaran luar biasa. Jangan sia-sia kan besarnya pahala di balik berat nya kesabaran kita.

Semoga dari sekian lama perjalanan ini setiap tahunnya, menjadikan kita menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Agar kita tetap baik di perjalanan abadi kita.

Keep hamasah, tilawah, dan ibadah. Bukan kah Allah mengganjar pahala sesuai kadar lelah hamba-hamba Nya....???

#maks





PESAN

0 Response to "Mudik, Perjuangan Tahunan Anak Rantau"

Posting Komentar