UJIAN NASIONAL : AMBISI SEKOLAH, ORANG TUA, ATAU ANAK ???



Disebuah acara motivasi di salah satu stasiun tivi, seorang remaja, menceritakan perasaannya jelang Ujian Nasional. Dia mengatakan kalau mendekati UN, dia selalu sakit, demam, mendadak gagap bahkan sesekali pingsan. Dua kali dia melewati UN, saat SD dan SMP selalu demikian. Dan menjelang UN SMA, pengalaman itu terulang kembali. Padahal, saat itu UN masih bilangan bulan.

Jujur saya kasihan. Biarpun masih sering ngedumel juga kalo lihat anak saya kok ya nyantaaiiii kayak di pantai saban mau Ujian apalagi UN. Mbok keliatan sibuk gitu. Mantengin buku kek, keliatan belajar lah. Biarpun cuma pencitraan. 😬

Fenomena UN tiap tahun selalu berulang. Sejak kenaikan kelas 6, kelas 9 dan kelas 12, anak seperti sudah berada di zona bahaya. Zona merah dengan tulisan alert-alert gitu. Di lengkapi dengan suara sirine yang semakin mendekati jadwal, bunyi nya semakin nyaring. Horor kan. Gimana anak mau tenang ???

Belum lagi orangtua yang sibuk cari-cari lembaga bimbingan belajar. Di sodorkan aneka pilihan. Dari paket setahun, se semester, se bulan. Sesuai dengan keyakinan dan isi kantong. Iming-iming sesuai pesanan dan harapan, sukses UN dengan nilai maksimal. Kalo perlu nilai sempurna.

Orang tua bahagia, sekolah bangga, anak .....pasti senang juga 😃.

Kalo pihak orang tua dan sekolah segitu ngototnya dengan nilai akhir UN, ga heran kalo beberapa pengamat pendidikan bilang, UN itu proyek tahunan yang menguras dana pemerintah, menguras energi para guru, orang tua, makanan empuk propaganda deretan lembaga bimbingan belajar meraup untung besar, lupa kalo ada yang jadi korban, ANAK.....!!
Yang kata nya di cintai, di sayangi, aset dan investasi dunia akhirat.

Tidakkah kita menaruh iba, bila mereka ga berani bilang kalo mereka tertekan, tapi mereka ungkapkan kepada orang lain yang mereka anggap mengerti apa yang mereka rasa kan.

Siapa yang tak ingin anaknya sukses UN dengan nilai tinggi. Masuk sekolah atau universitas idaman. ( idaman anak atau orang tua ?? ). Padahal, kesuksesan adalah juga ujian. Ujian besar yang bisa membawa ke neraka jahanam karena diam-diam kesombongan merasuk halus kedalam hati yang tengah di mabuk gembira.

Orang tua dan sekolah berupaya, anak kelimpungan mencari cara. Bukan suatu rahasia begitu banyak kisah tentang kecurangan yang dilakukan oknum guru dalam membocorkan jawaban UN. Jual beli jawaban. Mencontek massal yang tak bisa di hindarkan. Dan itu selalu berulang setiap tahun. Tanpa ada penyelesaian. Sebatas rame-rame di media massa dan media sosial. Habis itu, terbang tertiup angin.

Kita hanya ingat perkataan Imam Syafi'i yang demen banget di share para orang tua jadi status. " Nak, apabila kau tak mampu menahan sakit nya sebuah perjuangan dalam belajar. Maka kau akan merasakan pedihnya kebodohan "

Tapi kita lupa, Allah mewajibkan kita Tholabul ilmu. Belajar. Bukan mengejar hasil akhir berupa nilai. Tholabul ilmu itu proses. Sepanjang hidup seperti sabda Rasulullah saw, tholabul ilmu dari buaian hingga ke liang kubur. Lucu kalo para orang tua ngotot nyuruh anak-anak mereka belajar. Sedang kan mereka cukup bekerja, cari uang, beres-beres rumah, masak , nyuci sambil nonton uttaran. Giliran ngaji pekanan sibuk cari senderan.

Kita ga mempedulikan kejujuran, kebahagiaan dan rasa fun dalam ibadah unggulan yang bisa jadi jalan ke syurga itu. Ga memikirkan kecintaan pada ilmu dan kenikmatan proses mempelajari nya.
Kita lupa kalo hasil akhir tholabul ilmi itu adalah, SEMAKIN TAKUT nya seseorang kepada Allah. Menjadikan mereka ulil albab, yaitu orang-orang yang memikirkan penciptaan langit dan bumi, dipergilirkan nya siang dan malam. Memikirkan kebesaran Allah baik dalam keadaan berdiri atau berbaring. Lalu mereka ketika mentok, saking takjub nya dengan kekuasaan Allah, mereka berkata....Ya Rabb kami, tiadalah Engkau ciptakan semua dengan sia-sia, Maha suci Engkau ya Allah, lindungi kami dari azab neraka...."

Hayoohh..itu quran surat berapa ayat berapahh ?? 😃

So, kita ternyata belom jadi orang tua yang bertakwa ya. Padahal kita berdoa tiap hari supaya anak-anak kita jadi orang bertakwa, dan menjadi pemimpin nya. Heemmm....

Buat-anak saya tercinta di mana pun kalian berada. Selamat menempuh Ujian Nasional. Percaya diri, percaya Allah.
Percaya kalau kamu pasti bisa. Melewati nya dengan sukses penuh kejujuran. Percaya kalau Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan. Itu aja kok resepnya.

Selamat berbahagia dengan UN nya.
Emak love you alwes ga pake kelees.

Reli Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "UJIAN NASIONAL : AMBISI SEKOLAH, ORANG TUA, ATAU ANAK ???"

Posting Komentar