Nikmat Yang Tak Pernah Terdustakan



Sudah dua bulan, saya dapat nikmat yang luar biasa. Lancaaaar di urusan pembuangan belakang. Saking lancarnya, sehari bisa 2-4 kali siang / malam. Bukan ga ikhtiar di obatin. Tapi emang sejauh ikhtiar belum ada yang berhasil membendung kelancaran itu. Yaa paling engga bikin yang keluar itu lebih padat. Ga berhasil juga.

Dari pasrah, saya ikhlas. Pale ilmu #ngeles ( baca : husnudzhon ) , semoga Allah menghapus dosa-dosa di perut dan pencernaan saya. Dan ternyata itu jadi ajang diet tak sengaja. Banyak teman bilang berat badan saya terlihat turun. Meskipun saya belom ge er mengakuinya, soal nya baju-baju saya masih belum berubah size nyah. Hihihi

Ngomong-ngomong kelancaran pembuangan belakang ini, saya tambah bersyukur juga. Malam tadi, tetangga saya meninggal dunia. Laki-laki, bapak 3 orang anak. Jujur, saban mendengar beliau kerap masuk RS, saya ga tega. Berasa lobang belakang mendadak perih nyut-nyutan karena sugesti. Almarhum, menderita kanker usus besar yang udah terlanjur parah.

Sejak beberapa tahun lalu, si bapak emang punya keluhan susah ke belakang. Analisa awal, ambeien. Sekian lama tersiksa. Kadang sembuh, sering nya kambuh. Empat tahun belakangan, mulai bleeding saban ke belakang. Daya tahan tubuh berkurang, bobot badan turun signifikan. Sampe akhirnya di periksa secara menyeluruh, di temukan daging tumbuh di usus besar yang sudah mendesak ke lubang dubur. Bukan main-main, diameter nya mencapai belasan centi.

Si bapak di beri pilihan oleh dokter, tumor di angkat, dengan berbagai resiko, termasuk membuat saluran pembuangan darurat di perut. Entah apa istilah nya. Dan keluarga dengan berbagai pertimbangan pula menolak, dan memilih pengobatan alternatif.

Pengobatan yang di klaim sebagai paling rendah resiko, ternyata ga bikin beliau membaik. Belom lagi kerepotan harus bolak-balik kunjungan, gonta-ganti terapis dari alternatif satu ke alternatif yang lain.

Puncak nya, pekan lalu si bapak memutuskan memasrahkan nasib nya di meja operasi. Operasi awal, pengangkatan tumor yang ternyata mencapai hampir 2 kg besar nya. Lancar, namun terjadi pendarahan.

Operasi lanjutan nya senin 16 mei 2016. Beliau kritis. Hingga rabu dinihari beliau pasrah kembali keharibaan Ilahi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Allah Maha Mengatur hidup kita. Dari mulai nasib, jalan hidup juga sistem tubuh penunjang hidup. Semua berjalan dengan mekanisme Nya. Tiada yang Allah cipta kan dengan sia-sia. Tugas kita hanya menjaga amanah kehidupan ini sebaik-baiknya.

Betapa sering kita melupakan nikmat yang sudah kita dapat kan dalam hidup kita. Nikmat nya mata yang berkedip. Nikmatnya mulut yang bisa mengunyah. Nikmat nya jantung yang mengalirkan darah. Yang berdegup tak beraturan saat kita takut, dan saat merasakan cinta. Nikmat nya paru-paru yang menyaring udara di dalam tubuh. Termasuk nikmat nya lancar pembuangan belakang.

Bila Allah berulang-ulang menyebut dalam firman Nya, Maka Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan ???

Maha suci Engkau Ya Rabb, sesungguh nya memang tidak ada nikmat Engkau yang mampu kami dustakan.

Selamat jalan Pak Fikri Irawan. Tugas mu di muka bumi telah selesai. Semoga kesabaran dan keikhlasan yang menyertai mu dalam kesakitan panjang, di beri pahala yang setimpal. Tiada lah Allah yang Maha Rahman menyia-nyiakan segala upaya hamba-hamba Nya. Tak kan terlewat hikmah dari segala ujian, selain ada ganjaran syurga di hari kemudian.


*maks
PESAN

0 Response to "Nikmat Yang Tak Pernah Terdustakan"

Posting Komentar