Menengok Keikhlasan Seorang Pendidik



PKSBekasi,Tambun - Saya mengenal sosok sahabat saya ini,sejak awal memang seorang pendidik. Dari mulai mengajar mengaji iqro anak-anak,sekarang malah makin melebarkan sayap nya sebagai pengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam, beberapa TPA,mengajar tahsinul quran kepada ibu-ibu dan remaja, bahkan privat ke beberapa rumah. Yang menarik hati saya adalah,selain gaji yang di terima nya di TK dan sebuah TPA yang memang jauh dari memadai, ia tidak memungut bayaran untuk safari tahsinul quran nya sepeser pun, padahal aktivitas itu praktis menyita hampir seluruh waktu nya dari pagi bahkan sampai separuh malam. Bahkan ia mendiri kan TPA di sebuah musholla yang kegiatannya setiap hari,full tanpa bayaran. Subhanallah.
Keseriusannya mengajar tahsin kepada anak-anak binaannya pun tidak di ragukan lagi, anak-anak TPA di bawah asuhannya berulang kali menjuarai lomba tahsinul quran metode utsmani. Sungguh membanggakan.

Suatu ketika dalam satu kesempatan yang langka,saya bertemu dengannya.Dalam bincang-bincang hangat dengannya,saya menyampaikan rasa simpati dan iri hati saya kepadanya. Bagaimana tidak,ia bukanlah keluarga berada dengan suami bergaji besar. Ia juga bukan seorang jebolan universitas dengan embel-embel gelar apapun di belakang namanya yang sangat bersahaja. Kehidupannya sangat sederhana, bahkan terlihat apa adanya. Tapi keadaan itu tak menjadikan ia memanfaatkan kelebihan ilmu nya sebagai mata pencaharian tambahan selain gaji dari sang suami. Saya sempat menggelitiknya dengan pernyataan saya,kalau saja mau,penghasilannya bisa luar biasa dengan aktivitas mengajarnya itu,terutama bila ia melayani privat. Sambil senyum ia berkata, “Barang siapa yang mengejar akhirat,maka dunia akan menyertai….”

Jawaban yang singkat namun sangat “menjawab”. Sebab dengan jawaban itu tak ada pertanyaan lain yang mampu bisa di aju kan lagi. Lebih jauh, maka dengan jawaban itu,maka kita bisa menilai siapa orang yang di hadapan saya ini.
Maha Suci Allah swt yang menepati janji Nya,bahwasannya Dia memang akan menjaga kalam Nya di dunia ini. Menjaga kesucian wahyu Nya dengan hadirnya sosok-sosok pengajar seperti teman saya itu. Semoga Allah memelihara ia dan keluarganya serta orang-orang yang ikhlas dengan karuniaNya di dunia dan akhirat…Amiin yaa Rabbal alamin…

Menurut Imam Abu al-Laits dalam kitabnya al Bustan, beliau membagi golongan para pendidik dalam tiga kelompok, yaitu :

Orang yang mengajar semata-mata untuk menunaikan kewajiban semata,selayaknya para Nabi dan Rasul Allah di muka bumi. Sebab sebagaimana di ketahui ,bahwa setiap manusia di ciptakan sebagai pengajar, dai, penyeru, bagi agama Allah di muka bumi. “Nahnu dua’tun qobla ala kulli syai’i..” kita adalah du’at sebelum menjadi yang lain.
Orang yang menjadikan mengajar sebagai pekerjaan yang menghasil kan upah sebagai mata pencahariannya.
Orang yang mengajar namun tidak menjadikannya sebagai pekerjaan yang di andalkan untuk memungut upah. Ia memungut biaya hanya sebagai pengganti bagi fasilitas yang di perlukan dalam menunjang proses belajar dan mengajar. Ini pun dengan cara yang ahsan dan sangat fleksibel sesuai dengan kemampuan siswa didiknya.

Sedangkan pendapat iman Ghazali, Ibn Jamaah dan Ibnu Taimiyyah menyatakan, bahwa salah satu syarat mutlak seorang pendidik adalah tidak menjadikan profesi guru untuk menutupi kebutuhan ekonominya, tidak di andalkan sebagai mata pencaharian utama.Meskipun Imam Ghazali lebih fleksibel dengan membolehkan memungut upah sekedarnya saja sebagai pengganti ongkos yang telah ia keluarkan (tranportasi dll)

Namun tentu saja,mengukur keseriusan dan keikhlasan seorang pendidik tidak bisa di lihat dari satu segi saja,yaitu dari sisi ekonomis . Terutama di jaman sekarang yang penuh persaingan dan era materialisme. Dimana pendidikan islami namun berkelas sangat di perlukan.Kita tak mungkin mengandalkan sarana se-adanya dalam proses pengajaran,tentu pendidikan islami tak akan mampu bersaing dengan program sekolah regular yang cenderung hedonis dan sekuler. Maka fenomena pendidikan berkualitas sebanding lurus dengan isi tas tak bisa di hindarkan lagi.

Dalam masalah izzah dan syiar,pendidikan islam memang tak boleh terlihat tertinggal dari pendidikan sekuler. Namun perlu juga di pertimbangkan, jangan sampai atas nama kesetaraan harga diri dan kualitas,kita jadi mengesampingkan kaidah syariat Islam yang sempurna ini dalam hal hak memperoleh pendidikan. Dalam islam, pendidikan adalah hal yang penting dan krusial. Allah menyatakan dalam firmanNya,bahwa ia meninggikan derajat orang-orang berilmu beberapa tingkat dari orang-orang yang dhaif akan ilmu. Rasulullah saw juga bersabda bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan yang proses nya tak boleh berhenti,dari seseorang itu dalam buaian sampai ke liang kubur,meskipun menuntut ilmu nya harus meninggalkan kampung halaman sampai jauh ke negeri cina…..
Ini menunjukkan bahwa setiap manusia bernyawa berhak dan wajib memenuhi kebutuhan asasi nya akan pendidikan,siapapun dia. Baik orang yang mampu secara financial,atau pun yang lemah karena kemiskinan. Maka tak seorang pun,dengan dalih apapun juga di benarkan menghalangi satu orang pun untuk mencegahnya memperoleh pendidikan. Sebab dengan pendidikan,derajat seseorang akan meningkat,dengan pendidikan keimanan seseorang akan semakin menghujam.Dengan pendidikan juga orang akan mampu mengangkat taraf kehidupan ekonominya .Karena pendidikan juga derajat suatu bangsa akan di perhitungkan.Rasulullah saw pun bersabda, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan di dunia,maka hendaklah ia menuntut ilmu,barang siapa yang menghendaki kehidupan di akhirat,maka hendaklah ia berilmu,dan barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan akhirat,maka hendaklah ia menuntut ilmu….”

Maka, alangkah mulia nya kedudukan seorang pendidik. Ia di katakan setara para Anbiya,yang membawa risalah Sang Pencipta.Agar menjadikan umat manusia bertambah keimanannya dan bertakwa hanya kepada Allah azza wa jalla. Mengingat tugasnya yang begitu mulia, Allah akan mengganjarnya dengan syurga. Jadi tak ada alasan lagi bagi para pendidik untuk menyempurnakan amalannya di muka bumi dengan menempatkan keikhlasan di atas segala sebab perbuatannya. Seraya terus menambah ilmu yang di milikinya, menyatukan kata dan perbuatan,serta meluruskan niatnya hanya bagi Allah semata.Agar segala amalannya tidaklah sia-sia,bukan hanya di mata manusia agar dapat di ganjar pahala.Bukan berujung pada neraka.


Dari Abu Hurairah r.a. Nabi saw bersabda, “Seorang laki-laki yang mempelajari suatu ilmu dan membaca Al-Qur’an dibawa dan ditampakkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Dan ia mengenalnya kemudian ia ditanya, apa yang telah kamu perbuat sehingga mendapatkan nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, aku telah mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya. Dan aku telah membaca Al-qur’an demi engkau, kata Allah, kamu bohong. Kamu mempelajari ilmu supaya kamu dipanggil alim. Dan kamu membaca Al-qur’an supaya disebut qari’ sungguh telah dikatakan, kemudian diperintahkan kepadanya, lalu diseret dengan muka ditanah, hingga kemudian dilemparkan keneraka” (H.R. Muslim No. 1905).

Wallahu Alam

Sri Suharni
PESAN

0 Response to "Menengok Keikhlasan Seorang Pendidik"

Posting Komentar