"Saksikanlah bahwa aku seorang muslim"



Dalam perjalanan hidupnya, manusia dihadapkan pada sebuah pilihan besar yang akan menjadi arah dan tujuan akhir hidup.

Dia terlahir dengan penuh kesadaran bahwa dirinya diselimuti ketidakberdayaan.
Dia tidak mampu tuk berdiri sendiri lantaran yang akan dia hadapi bukanlah persoalan sederhana.
Diapun akan selalu dibayang-bayangi obsesi hidup yang bisa jadi justru akan mengkerdilkannya.

Karenanya dia sering dirundung gelisah, resah bahkan terkadang buntu dalam renungan pendek yang menyesakkan.

Dengan penuh kesadaran dia merasa sangat butuh bimbingan dari langit, dia sangat membutuhkan bimbingan Tuhannya dan penuh harap bahwa Tuhannya akan menunjukkan jalan baginya agar dia mampu melewati kegundah gulanaanya.

Diapun mulai bertanya dan mencari-cari jawaban akan kemana muara kehidupannya berakhir.
Sebuah perjalanan spritualpun mulai dia tapaki dengan sebuah keyakinan bahwa suatu saat nanti dia akan menemukan jalan menuju Tuhannya.

Membangun visi menjadi titik tolaknya untuk melihat grand desain perjalanan hidupnya sampai waktu menembus dinding duniawi dan berada pada alam yang tidak terjangkau akalnya yang sangat subjektif dan disekat oleh keterbatasannya.

Diapun menemukan cara untuk meraih apa yang menjadi visi besar hidupnya, agama itulah yang menjadi pilihannya untuk dia selami dan gali agar cahaya didapatnya.

Ya agamalah yang dia yakini akan menjawab pertanyaan besarnya dari sekian pertanyaan tentang hidup.

Agama yang bersumber dari langit dan sangat luas jangkauannya dan melihat bumi itu sesuatu yang sangat kecil dari sekian galaksi yang ada di jagat raya.

Agama itu mampu menjawab mengapa dia ada dan untuk apa dia diciptakan.

Agama itu berhasil menanamkan rasa optimisme dan mampu menunjukkan link padanya akan dua kehidupan yang selalu menjadi pertanyaan manusia pada umumnya.

Agama itu yang terus memberi cara terapi mujarab pada jiwanya sehingga terasah dan semakin jelas apa yang terlihat dari sudut pandang jiwa yang tidak bisa dilihat oleh sudut pandang mata.

Iapun menyimpulkan bahwa tidak mungkin hidup ini dipahami hanya dari apa yang dilihat oleh mata telanjang, tapi harus dilihat dari balik kealfaan mata dan keterbatasan akal yang bisa jadi menyesatkan saat sudut pandang jiwa terabaikan.

Diapun menemukan cara terbaik terapi jiwa dengan mengamini cara yang diterapkan oleh agama dan satu kata yang dibangun dalam alam sadarnya "komitmen" bersama agama ini karena dia yakin agama ini akan mampu meng-garansi apa yang menjadi kegundahannya.

Setalah sekian lama renungannya mengembara menembus batas ruang dan waktu dan menemukan jawabannya, hilanglah kegundahan dan berbagai macam kesempitan hidup yang diselimuti kesedihan dan kemarahan.

Sampai akhirnya dia mampu menatap alam ini dengan komitmen mantap dan tertancap dalam jiwanya " isyhaduu bi anni muslimun.

10 mei 2016
By. M. Adih Amin
PESAN

0 Response to ""Saksikanlah bahwa aku seorang muslim""

Posting Komentar