Yuana, Kartini Yang Menginspirasi dari Pelosok Bekasi



Namanya cukup simpel, Yuana. Tapi jangan dikira kiprahnya sesimpel namanya. Menjadi Kabidpuan DPC PKS Setu periode 2010 - 2015 membuat ibu beranak tiga ini cukup malang melintang dibelantara Setu yang luasnya mencapai 6216 hektar, mencakup 11 desa.

Saya kenal beliau tahun 2012, waktu itu saya masih diamanahi kabidpuan dpra Taman Rahayu. Belum lama kenal saya langsung bersibuk ria dengan salah seorang guru di sebuah Sekolah Menengah Pertama di kabupaten Bekasi. Maklumlah, saat itu menjelang pemilu legislatif tahun 2014.

Dimasa itu menghadapi pemilihan bupati , pemilihan gubernur dan pemilihan legislatif yang mengharuskan ummahat bergerak, menyapa masyarakat sehingga semuanya berkontribusi sekuat kemampuannya.

Program-program turunan seperti baksos, masih menjadi program andalan disamping silaturahmi tokoh. So, dibagilah perwilayah kerja, Yang berkesan waktu membawahi wilaya dpra Taman Rahayu yaitu bisa kenal dan bekerja sama dengan akhwat- akhwat disana. Akhwatnya sudah pada tarbiyah dan terbiasa bekerja. So, senang sekali. " kata nya sambil tersenyum ketika saya bertanya, apa yang paling berkesan ketika menjabat kabidpuan.



Mendengarnya, saya tersenyum. Ge-er juga. Mengingat waktu baksos dan kegiatan lain pada saat itu, saya dibantu akhwat Taman Rahayu memang dalam keadaan "mendua" . Kami aktif bekerja di lintas wilayah berbeda. Dpra Ciketing Udik, kec. Bantar Gebang yang masuk wilayah Kota Bekasi, dengan Dpra Taman Rahayu kec.Setu yang masuk wilayah Kabupaten.

Untuk ukuran perempuan, Bu Yuana ini sangat luar biasa. Medan Setu yang luas, wilayah yang berjauhan terpisahkan area sawah, kebon kosong , kontur tanah yang turun naik serta akses jalan yang sebagian besar masih belum diaspal, menjadi tantangan tersendiri buat beliau. Saya ingat ketika pada satu kesempatan menemani beliau disatu perjalanan, naik motor menjelajah pedalaman Setu, Bu Yuana bercerita kalau ia sudah lima kali terjatuh dari motor. Tapi itu tidak membuat beliau kapok.

Atau suatu ketika saya diminta ikut jaulah kedaerah Bekasi Jaya, yang nota bene belum pernah disambangi, Bu Yuana dengan yakin sowan kesana. Perjalanan nyaris 2 jam dengan menyewa angkutan kota, dengan bertanya sana-sini. Dengan telaten beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang tempat-tempat yang kami lewati. Luar biasa.
Saya berkata pada saat itu, " Bu, saya jangan ditinggal ya. Nanti saya ga bisa pulang "
Yang di tanggapi dengan tawa beliau.

Ketika ditanya, pengalaman yang kurang menyenangkan selama jadi kabidpuan, beliau berkata, " Ga ada yang menyedihkan sih. Semua pengalaman saya itu amazing. Ada kendalan sedikit secara bahasa, karena mayoritas penduduk berkomunikasi dengan bahasa sunda. Tapi masih bisa nyambung.Sedih nya cuma anak kalo anak sedang sakit, dan sedang ada acara, ga tega ninggalin. Tapi the show must go on. Ya.. titipkan aja sama Yang Maha Memelihara. Pernah juga ga punya uang dan bensin yang minim. Tapi yaa jalan aja ,walau sambil dag dig dug takut kenapa-kenapa di jalan. Alhamdulillah sih , sampe ...." kata Bu Yuana panjang lebar. Maa syaa Allah.

Tak heran kalau di acara Musyawarah Daerah PKS tahun 2015 lalu, Bu Yuana mendapat anugerah sebagai Kader Inspiratif Bidang Pemberdayaan Perempuan Penghargaan yang amat sangat pantas di berikan kepada beliau atas kiprahnya selama menjadi Kabidpuan DPC Setu.

Satu lagi program beliau yang sangat menginspirasi menurut saya adalah, beliau sempat memberikan modal berupa kambing untuk dipelihara seorang kader PKS dengan sistem bagi hasil menggunakan uang pribadi bersama sang suami serta beberapa donatur.

" Waktu itu , saya dapat info dari Bu Ida, pendahulu saya, Dpra Muktijaya itu sudah mendukung PKS sejak dari zaman PK. Jadi, untuk me-ri'ayah-nya kita titip (bagi hasil) domba. Daerah Muktijaya itu paling jauh. Waktu zaman Pak Saadudin malah sempat titip sapi juga. Wallahu alam kelanjutannya bagaimana " paparnya. Tak lama beliau digantikan oleh Bidpuan yang baru, Bu Yuana melahirkan anak ketiga. Walaupun itu tak membuat perempuan yang tinggal dikampung cijengkol berhenti total untuk berkiprah dijalan dawah. " Saya sekarang sedang menggarap dawah Thulaby " terangnya.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 19 Juli tahun 1981 ini , berpesan di Milad PKS ke 18, " Semoga PKS tetap menjadi yang terbesar, dan tetap berada di hati rakyat ".

Buat saya, Bu Yuana bukan hanya memberi inspirasi, tapi juga memberi sebuah energi. Energi yang seharusnya membuat kita tak bisa berhenti. Bekerja dan terus berkhidmat kepada masyarakat disekitar kita. Memberi sedikit yang kita punya. Agar keberadaan kita terbukti kemanfaatanya.

Siapapun kita. Apapun profesi kita. Bu Yuana sudah membuktikannya. Tiada upaya yang sia-sia. Bahkan seorang Kartini yang konon hidup di era penjajahan saja mampu mempersembahkan karya nya bagi bangsa ditengah keterbatasannya. Maka seharusnya kita juga bisa.

Saya percaya, ada banyak Yuana-Yuana lain diluar sana yang telah mewakafkan jiwa dan hidupnya bagi sesama. Tidakkah kita tergerak untuk menjadi salah satu diantaranya ???
Percayalah, kalau mereka bisa, kita juga bisa.

Selamat berkarya wahai Kartini-Kartini Indonesia.

By : Sri Suharti
Ketua ReLi (Rewan Literasi)
Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Yuana, Kartini Yang Menginspirasi dari Pelosok Bekasi "

Posting Komentar