Mohamad Nuh, Sang Jembatan Penyuluh



PKSBekasi,Tambun - Dapat tugas wawancara Ustadz Mohamad Nuh, adalah sebuah kebanggan tersendiri buat saya. Sebuah nama yang sering saya dengar namanya, saya baca hasil taujihnya dari literasi sahabat-sabahat saya. Kesan saya, beliau cetar membahana. Maka nya begitu kesempatan bertatap muka menghampiri saya, tak akan saya lewatkan begitu saja.


Walaupun belum pernah berjumpa, dengan sok tau nya saya menyimpulkan bahwa Ustadz Mohamad Nuh adalah sosok yang humble, terbuka, religius dan visioner. Ini tergambar jelas ketika saya mengarahkan kuda besi yang satu jam saya tumpangi dalam perjalanan dari rumah saya menuju kemari. Sebuah rumah, dengan halaman yang lumayan luas, sejuk ,asri, dengan pepohonan besar yang menaungi. Begitu memasuki pintu pagar teralis bercat hitam, pandangan mata kita akan mengarah kepada bangunan musholla di sebelah kanan halaman yang berdinding hijau muda. Kompak dan serasi dengan warna rumput yang menghampar. Sekitar seratus meter dari pagar, baru nampak bangunan rumah utama yang bercat hijau tua. Matching dengan rimbunan batang-batang pohon rambutan, nangka dan jambu yang menaungi pekarangan dengan rindang. Rumah yang terkesan ramah, siap menyambut siapapun yang mengunjungi. Tanpa pos pengamanan. Apalagi sekuriti. Sinar matahari pagi yang hangat menyapa saya dari sela-sela rerimbunan daun. Segar.


Sebelah kanan pojok rumah utama, saya melihat sebuah ruangan bertuliskan Sekretariat Mimbar Penyuluh. Di depan ruangan itu, ada sebuah bangunan serba guna berukuran sekitar 4 X 2 meter yang sekilas saya intip terdapat karpet yang membentang, juga satu set perlengkapan hadroh. Hemm..... humble, terbuka, religius dan visioner. Ini bikin saya makin kepo.


Kami dipersilakan masuk menunggu ustadz Nuh di dalam sekretariat Lembaga Dakwah Al-Mimbar. Ruangan yang memiliki akses langsung dengan bagian samping dan belakang rumah utama. Dalam ruangan yang berukuran sekitar 7 X 3 meter itu terdapat etalase yang berisi berkas -berkas , sebuah meja besar berwarna putih tanpa taplak, di lengkapi dengan kursi -kursi yang mengelilingi nya. Di sudut ruangan terdapat tiga buah meja kecil yang masing-masing di atasnya terdapat monitor dan CPU.


Kami duduk dikursi yang mengelilingi meja besar di tengah ruangan. Di atas nya tergeletak sebuah buku yang lumayan tebal, bersampul warna biru, berjudul Execution Premium, Sukses Besar Perencanaan dan Mengeksekusi Startegi. Wah..... bacaan yang berkarakter.


Kurang lebih 30 menit menanti, ustadz Nuh datang. Beliau tersenyum ramah menyambut saya dan rekan-rekan relawan literasi. Dan ehhem, beliau juga yang menyiapkan dan menyajikan kopi susu buat kami. " Maaf nih, istri saya sedang di Jogya....' kata beliau. Hihi...pantaasss sepi.


Setelah pertemuan dibuka dengan sepatah kata dari pembimbing relawan, ustadz Nuh mempersilakan kami untuk mencari tahu tentang diri beliau. Di awali tentu saja dengan pertanyaan tentang nama , kelahiran , dan jati diri lain dari beliau.


Di luar dugaan saya, ustadz tersenyum sambil berkata , " Saya ini tipe orang yang ga terlalu mengingat-ingat siapa diri saya. Apa yang sudah saya lakukan dengan detail. Jadi saya ga begitu bisa menggambarkan diri saya tepatnya seperti apa. Bagaimana sejarah hidup saya. Karena saya berfikir, pertama, saya merasa itu tidak penting. Dan yang kedua, saya berharap orang itu melupakan diri dan siapa saya. Biarkan saja saya tetap berada dalam kenangan pribadi orang-orang yang kenal dengan saya, tanpa saya gembar-gemborkan siapa saya....."


Wahhh, sosok humble yang down to earth. Bikin saya melting sumpahh. Hari ginih, di saat orang sibuk pencitraan diri, bahkan rela mengelabui asal mendapat simpati. Ustadz Nuh malah memilih menjadi mentari yang setia menyinari walau kehadiran nya sering tak disadari bahkan teriknya kadang dicaci. Awas aja  keterusan axis, xl , esia dan  tri. Hihihi....


Masa Kecil dan Pendidikan.


Ustadz Nuh lahir dan besar di Kampung Pulo Jakarta Timur, pada tanggal 21 Juli 1966. Anak ke tujuh, dari tujuh bersaudara. Dua perempuan dan lima laki-laki. Tumbuh di lingkungan masyarakat Betawi yang kental, terkenal dengan kultur budaya yang religius. Tak heran bila Nuh kecil sudah sangat akrab dengan surau (musholla). Sore mengaji, usai melewati siang dengan berenang sambil bercengkrama dengan teman-teman sebaya di kali ciliwung yang airnya masih jernih dimasa itu. Menenteng quran, mengenakan sarung dan peci, beliau sangat menikmati lingkungan islami yang kondusif bagi anak-anak di masa pertumbuhannya. Di usia yang sangat belia, Nuh kecil bersama teman-teman yang lain, telah membentuk semacam komunitas pencinta musholla. Kegiatan mereka saat itu selain mengaji, membersihkan musholla , bahkan bermalam dan berdiam di musholla.


" Yang paling berkesan sih, kalo bulan Ramadhan ya...kita waktu itu tidur di musholla. Siang kita sekolah, pulang ganti baju, terus ke musholla lagi. Kalo sore kita main sambil nunggu beduk. Mainan klaher. Kadang main bola. " tutur Ustadz Nuh. Sekilas, saya melihat mata beliau berbinar ketika menceritakan masa kecilnya. Hm...rupanya ingatan beliau sedang mengembara kemasa-masa indah itu. 


Ustadz melanjutkan. " Ada satu kesukaan saya waktu itu, main layangan. Tapi, biarpun suka bermain layangan, saya paling ga suka ngejar layangan...."


Lhaa....kok gitu ya ?? Padahal, ketika kecil dulu, bagian paling amazing dari main layangan adalah, saat "ngadu" dan ngejar layangan.
Ketika ditanyakan alasan nya, ustadz Nuh menjawab bijak, " Ga tau ya, dari dulu saya ga suka kalo liat teman bersedih karena gagal. Dalam hal apapun. Pernah nyobain sekali ikut ngejar layangan, pas saya yang dapet, saya liat teman saya mukanya sedih banget. hal tsb mengganggu  fikiran, sampe ga bisa tidur...." beliau tersenyum.

So sweet nya...


Ustadz melanjutkan, " Dari dulu, saya agak kurang suka berkompetisi lebih suka berbagi, ya karena itu tadi, saya ga suka lihat temen saya kecewa. Satu-satu kesempatan kompetisi yang saya sukai adalah berlomba jadi yang rangking pertama waktu SD dulu. Itu karena ideologi, dan rasa ketidakrelaan. Ketika pelajar peraih rangking pertama dan mendapat gelar siswa terpandai dikelas seorang Sombong arogan...." papar nya.


Wah..wah...rupanya jiwa memuliakan izzah seorang mu'min sudah beliau miliki sejak beliau masih kecil. Maa syaa Allah.


Melewati masa sekolah dasar di SD Bali Mester petang dengan gemilang, Nuh melanjutkan pendidikannya di SMP 14 Matraman. Di usia ini, jiwa spiritual ustadz Nuh semakin subur. Sudah mulai tumbuh rasa risih untuk berenang karena biasanya menenbakan celana renangvdanbercampur-bqur dengan lawan jenis. Tumbuh juga semangat puasa senin -kamis mengikuti anjuran guru mengaji.


Memasuki masa sekolah menengah atas di SMAN 14 Cililitan,  jiwa spiritual yang memang subur terpelihara sejak kecil, membuat Nuh remaja merasa tertarik dengan aktivitas kerohanian di sekolahnya. Nuh berpendapat, menjadi aktivis bukanlah sebuah sarana mencari jati diri, tapi sebuah tantangan tersendiri untuk bergerak dan berkarya. Nuh meyakini, hanya dengan cara ini Islam bisa tegak berdiri di muka bumi. Di masa ini pula Nuh remaja memasuki jenjang tarbiyah islamiyah yang ketika itu kental dengan aktivis HMI. Di jamaah tarbiyah ini Nuh berkenalan dengan aktivis HMI yang eksis di era 80-an itu, sebutlah nama Egi Sudjana, Toni Ardi, Sumanjaya , dan Suswono. Di masa itu pula beliau kenal dengan syaikh tarbiyah, alm. ustadz Rahmat Abdullah.


Pernikahan dan Keluarga


Tahun 1995, Nuh menikah lalu Hijrah ke Bekasi. Pernikahan beliau dengan  Upik Siti Ranah diberkahi dengan kelahiran tujuh buah hati mereka. Nida Fitria ( kuliah di IPB ), Ibadurrahman Aminuddin ( UNIKOM Bandung ) , Rifki Thariq ( UNBRAW ), Urfi Shalihat ( SMA 2 Bekasi ) , Ikhwan Hilmi ( ponpes di Bandung ), Rifai Hasan dan Ufairoh Husna ( keduanya masih SD ).


Yang menarik, dalam pemberian nama beberapa anak nya, ustadz Nuh kerap di ilhami dari perkataan , atau sosok seseorang atau sahabat yang beliau kagumi. Seperti nama anak kedua dan keempat beliau, Ibadurrahman Aminuddin  dan Ikhwan Hilmi, yang di ambil dari nama mantan ketua Dewan Syuro PKS, Ustadz Hilmi Aminuddin, yang menurut beliau sangat mengagumkan. Ustadz Hilmi adalah sosok abid yang berwawasan sangat luas. Cakrawala ilmu pengetahuan yang luar biasa. Menguasai segala aspek sosial dan keilmuan. Sosok yang murah hati dan tidak serakah. Sosok yang patut di jadikan teladan kita semua.


Kemudian nama Rifki Thariq, terilhami dari ungkapan bahasa arab "Ar rofiq qobla thoriq", yang maknanya Carilah Teman Sebelum Berjalan. Filosofinya, kita memang harus mencari rekan dalam perjalanan hidup kita. Teman yang setia, mendampingi dan kita butuhkan nasehat dan saran nya. Beliau berharap putra ketiganya ini menjadi teman yang menyenangkan bagi setiap orang.


Dalam mendidik anak, ustadz Nuh mengedepankan sikap terbuka , toleransi namun terarah. Ada beberapa hal yang beliau terapkan dalam hal pendidikan anak. 

Pertama, beliau memilih tempat tinggal diperkampungan. Agak menjauh dari pusat keramaian. Beliau ingin rumah nya menjadi area terbuka tempat berkumpul tetangga sekitar. Dengan demikian, anak-anak akan beriteraksi dan bebas bersosialisasi dengan orang banyak. 

Yang kedua, seluruh anak beliau bersekolah di SDIT sebagai bentuk "pengawalan" akan perkembangan pengetahuan agama mereka. Tapi,  " Bukan berarti mereka harus jadi Ustadz yaa...." kata beliau tersenyum. " Mereka bebas memilih mau jadi apa mereka nanti. Bebas memilih disiplin ilmu yang mereka minati. Seperti anak kedua saya yang tertarik dengan desain interior, dan anak ketiga yang memiliki minat di bidang teknologi pangan " lanjutnya


Yang ketiga, ustadz Nuh memiliki sebuah gagasan yang diberi nama " Rekayasa Sosial " bagi anak-anak nya kelak. Yaitu, memilihkan pasangan yang tepat bagi anak-anak beliau. Bagaimana perwujudannya ?? Ada baiknya kita lihat saja nanti. 
Ke empat, apapun pendidikan yang mereka inginkan, ustadz tetap concern terhadap al quran. Targetnya, setiap anaknya hafal minimal 5 juz alquran. " Saya kagum sama pasangan Mutamimul ula dan Bu Wirianingsih, yang walaupun sibuk, anak-anak mereka semua hafal quran 30 juz rata-rata...." papar Ustadz Nuh.



Menjadi Problem Solver Dinamika Berjamaah


Sejak awal bergabung dengan tarbiyah, sejak itu pula ustadz Nuh berinteraksi dengan persoalan jamaah dan segala dinamikanya. Malang melintang lebih dari 30 tahun dalam jagad tarbiyah ustadz telah banyak mengenal berbagai jenis karakter orang.


" Manfaatkan setiap orang itu dari apa yang dimilikinya, potensinya...jangan terlalu menilai orang dari motifnya. Itu bukan ranah kita. " ujar beliau. 
Ustadz Nuh mengambil contoh dari kisah Abbas bin Abi Thalib, yang ketika turun perintah Rasulullah saw untuk berhijrah ke Madinah, Abbas bin Abi Thalib tidak dapat ikut hijrah, lebih memilih tetap tinggal di Makkah, menyembunyikan keislamannya hidup di antara penduduk Makkah yang kafir. Tapi Rasulullah tidak mengecamnya. dan tidak pernah terdengar para shahabat ra menggunjingkan ketidaksiapan Abbas bin Abi Thalib ikut hijrah ke madinah.  Namun Ketika perang Hunain, Abbas Bin Abi Thalib lah yang memiliki peran sentral dan penting. Abbas bin Abi Thalib yg ditugaskan Rasululah saw  memanggil dengan suara kerasnya pasukan kaum muslimin yang sebagian besar sudah berpecah kocar-kacir karena mendapat serangan mendadak dari pasukan musuh, Rasulullah memerintahkan Abbas bin Abu Thalib untuk menyeru ,

" Ya Ma'syarol Muslimin, Ya Ma'syarol MUHAJIRIN WAL Anshor !!! " Suaranya terdengar dan berpengaruh cukup mengembalikan soliditas pasukan yang semula kocar kacir. Di sini lah kebijakan Rasulullah yang memanfaatkan orang sesuai dengan potensinya. Karena Rasulullah tahu, Abbas memiliki suara yang keras dan lantang


"Dalam berjamaah, setiap orang dapat dioptimalkan potensinya bukanya dipojokkan dan dikorek-korek kelemahannya.  Rasulullah mengembalikan Abu Dzar al ghifari ke kampung di bani Ghifar karena potensi diri dan potensi sosial Abu Dzar Alghiffari, lebih pas jika ditempatkan di Bani Ghifar. dan kenyataanya satu suku masuk Islam karena dakwah abu Dzar alGhiffri. keberadaannya. Di manapun posisi kita ditempatkan, disanalah terdapat ladang amal. Ambil, jangan di sia-sia kan." Begitu papar beliau.


" Seorang pemimpin, harus tau bagaimana karakter yang di bawahnya. Dinamika nya. Jangan sampai seorang pemimpin itu, terjebak dalam satu masalah dengan orang perorang. Dia harus paham bagaimana harus bersikap pada masalah yang di timbulkan kader


Begitu pula ketika ustadz banyak menemui persoalan jamaah di wilayah kabupaten Bekasi yang berada dalam wilayah binaannya. Ustadz Nuh mampu mengerahkan segala upaya nya, kekuatan musyawarah untuk menyelesaikannya. Runut, sabar dan saling menguatkan. Di datangi, diajak berdialog, diberi pemahaman , sampai menemui titik pemecahan. Dan selesai sampai di ranah internal saja. Walaupun ustadz mengakui kalau lah ada satu - dua tokoh melakukan tindakan yang di luar harapan, semua itu di anggap sebagai sebuah resiko sebuah permasalahan. " Nanti juga akan selesai dengan sendiri nya. " kata beliau tersenyum.


" Dalam bekerja, saya selalu ingin menjadi jembatan kebaikan buat semua orang. Jembatan yang menghubungkan kebaikan yang satu, dengan kebaikan yang lain. Bertemu dengan orang lain, saya akan catat siapa namanya, apa kemampuan dan potensinya. Terus begitu. 
Saya banyak melihat, kader tarbiyah itu kebanyakan punya potensi yang luar biasa. Hanya masih malu-malu. Kita gak mungkin bisa memberdayakan orang lain kalau kita sendiri tidak berdaya. Saya melihat para kader tarbiyah ini sungkan menaikkan grade pergaulan di masyarakat. Padahal, orang-orang berdaya itu, banyak yang bisa kita contoh dari mereka. Ada banyak prinsip-prinsip hidup yang bisa kita ambil dari mereka. "
Ungkap ustadz yang sekarang menjabat sebagai ketua DPD PKS kabupaten Bekasi.



Visi dan Misi Kalau jadi Bupati


Di jadikan Bakal Calon Bupati dari PKS, ustadz mengatakan, ini adalah strategi besar. Bukan hanya strategi parsial.


" Saya mungkin bukan menyebutnya sebagai visi dan misi ya. Saya hanya punya impian-impian yang memang akan lebih bisa di realisasi kan bila saya masuk kedalam sistem. Secara umum, saya melihat permasalahan umum kabupaten masih sekitar persoalan lingkungan hidup.


Pertama, masalah sampah. Baik sampah beneran atau sampah masyarakat. ( uhuks ). Kalau sampah beneran, kita masih sibuk mencari lahan penumpukan. Harusnya kita mencari lahan pengolahan. Libatkan masyarakat secara keseluruhan, buka akses sebesar-besar nya bagi ide-ide besar masyarakat dalam pemecahan permasalahan sampah ini. Kita bantu, kita kasih sarana. Dengan demikian, persoalan sampah menjadi selesai di ranah lingkungan internal sendiri. Selama ini, masyarakat terlanjur menikmati bisnis pengangkutan sampah saja. Jadi tidak ada solusi.


Yang kedua, saya ingin ada perda tentang tata air resapan. Kan permasalahan kabupaten terutama di daerah-daerah tertentu, kalau hujan kebanjiran. Kalau kemarau kekeringan. Ada daerah yang 4 bulan sama sekali ga ada hujan. Nanti kita libatkan masyarakat bagaimana mengolah air limbah wudhu dari setiap masjid dan musholla agar bisa di manfaatkan lagi. Dan bagaimana membangun bak-bak penampungan air hujan, kalo bisa di setiap perumahan. Maka di harapkan permasalahan kekurangan air bersih di musim kemarau bisa di atasi.


Ketiga, Saya ingin ada perda tentang gerakan pemberdayaan masjid. Gerakan kembali ke surau. Kayak di aceh dan sumatra barat. Saya mau masjid dan musholla itu ramai setiap waktu shalat. Bapak-bapak yang menuntun anak-anaknya sholat 5 waktu di masjid . Ibu-ibu yang aktif berkegiatan di masjid. 
Imam masjid nanti kita pilih tenaga ahli. Kita gaji. Agar dia expert mencari strategi membuat program meramaikan masjid. Remaja yang nyaman berolah raga dan berkomunitas di halaman masjid. Yang begini kan saya pikir memang ga bisa cuma dengan seruan, tapi dengan aturan dan kebijakan.


Keempat, saya ingin mengerahkan potensi masyarakat dalam tata kelola Gelanggang Olah Raga ( GOR ). Saya berpendapat, potensi tempat orang berkumpul itu harus di manfaatkan. GOR ini nanti kalau sudah di kelola secara profesional, di sertifikasi, bukan ga mungkin bisa seperti di Manchester City atau Liverpool sana.


Kelima, Kabupaten Bekasi itu lekat dengan permasalahan buruh. Karena banyak perusahaan yang tersebar di beberapa kawasan industri. Saya ingin potensi ini di manfaatkan secara maksimal. Melalui pendekatan kultural, bukan pendekatan politis. Mereka di bentuk wadah, di minta kontribusi nya. Dengan demikian perusahaan-perusahaan ini ada sumbangsih nyata yang kita himpun bersama. Di harapkan nanti kemanfaatan program yang berbasis kemasyarakatan akan terpecah masalah perusahaan dengan buruh yang menjadi bagian dari masyarakat.
Misalnya program satu perusahaan mendoktorkan satu orang kabupaten Bekasi. 
Lalu program Sumber Ekonomi Kreatif yang melibatkan masyarakat sekitar perusahaan. Ini kalau di kelola dengan baik, secara kultural akan berdampak positif panjang."


Saya hanya bisa berkata, luaarr biasaaa....
Semoga semua bisa terwujud yaa ustadz.



Tengah hari, pertemuan di tutup. Suara adzan mendayu syahdu memecah siang yang terik. Saya memutuskan untuk shalat dzuhur diMusholla yang masih terletak di bagian dalam halaman rumah ustadz Nuh.


Di jalan setapak yang membelah halaman, saya melihat bagian kanan kirinya terdapat masing-masing dua kran air.
Saya melihat ustadz Nuh berwudhu disana.


" Nah, air kran ini sumbernya dari penampungan bawah tanah yang berasal dari limbah air bekas wudhu bu..."


Subhanallah.....jadi, bukan sekedar ide, ustadz Nuh sudah membuktikan nya. Heemm..kalah dong si Rein yang main di film Tausiyah Cinta itu. Dia kan baru merancang konsep ini. Ustadz Nuh udah bikin duluan. Hehehe...sayang nya saya ga bisa ikutan wudhu di sana. Karena tempatnya terbuka.


Dalam perjalanan pulang, ditengah rinai gerimis yang mengiringi dari kawasan zamrud sampai Bumi Alam hijau, kembara angan saya melayang pada sosok ustadz yang tawadhu itu. Orang baik itu pasti menemukan jalan. Sebab kebaikan yang dibawanya itu memberikan cahaya, menerangi, memberi energi, membuka jalan kebaikan baru bagi orang lain. Tak ada yang salah menjadi jembatan kesuksesan bagi orang lain. Karena tolak ukur kesuksesan itu, bukan hanya terlihat dari apa yang telah kita raih. Tapi, bagaimana kesuksesan kita juga membawa orang lain ikut meraih apa yang kita raih. Sukses yang tidak membawa kemanfaatan, maka tidak akan membahagiakan.


Semoga demikian.
PESAN

0 Response to "Mohamad Nuh, Sang Jembatan Penyuluh"

Posting Komentar