Buku, di Antara Deretan Kata dan Nuansa




Kalau melihat fenomena anak-anak muda sekarang, rasanya bolehlah kita jadi miris. Memang tak seluruhnya. Hanya saja, minat mereka membaca buku sudah sangat memprihatinkan. Mereka asyik dengan handphone ditangan, duduk di sebelah rak yang diatasnya berjajar deretan buku yang sangat beragam jenisnya. Gagdet baginya menjadi lebih mempesona daripada buku-buku yang dari sampulnya saja bikin sepet mata.

Salah satu ciri-ciri jenis manusia yang "belum dewasa" adalah, ia lebih tertarik pada bentuk gambar dari pada huruf dan angka. Tak heran kalau buku-buku atau media belajar yang mengenalkan huruf dan angka pada anak-anak balita dan TK di dominasi oleh gambar-gambar dengan warna-warna mencolok. Semakin tinggi jenjang pendidikan dan bertambahnya usia, maka semakin minim visualisasi gambar yang menghias bacaan kita. Jadi, kalau lah fenomena sekarang ini gagdet yang nota bene banyak menampilkan visualisasi gambar hidup atau gambar tak hidup lebih diminati oleh orang-orang yang dari segi usia sudah dewasa bahkan berpendidikan tinggi, mestinya harus di tinjau lagi kedewasaan nya.

Buku-buku kini bersaing dengan pesona gagdet yang lebih menawan. Memanjakan mata. Tak salah memang, karena aneka ilmu pengetahuan sudah dapat diakses oleh media gagdet. Dunia sudah dalam genggaman. Begitu katanya.

Akan tetapi, ada banyak keunggulan buku dibanding sarana teknologi yang menyetarakan dirinya dengan benda bernama buku. Nuansa membaca buku itu sangat berbeda daripada membaca gadget. Ia membuat pembacanya punya daya imajinasi yang tinggi. Senyum dan tawa pembaca nya lebih elegan. Hingha kesan yang di bawa jauh lebih menghujam dan lebih awet mengendap dalam pikiran. Beda dengan gagdet yang cenderung lebih mudah hilang tertimpa beragam postingan. Mungkin benar pepatah bilang, mudah datang - mudah pergi. Mudah ditemukan lewat berbagai postingan, mudah juga ia tenggelam.

Buku, memuat halaman-demi halaman tersendiri di alam bawah sadar pembacanya. Coba kita lihat sebuah buku yang pernah kita baca. Judulnya, lalu ingat lah apa bagian paling berkesan buat kita dalam buku itu. Kita pasti ingat dengan cepat. Walaupun tak hafal halaman berapa, tapi kita pasti mengingat terletak di sebelah kanan atau kiri halaman nya. Nah.
Beda dengan gagdet, jangan kan ingat halaman, posting hari dan tanggalnya saja kita lupa. Wajar, gagdet kan ga punya kampung halaman.

Pe-er kita para pencinta buku adalah, bagaimana menularkan kesukaan kita membaca buku kepada anak-anak atau orang terdekat kita yang kita sayangi. Buku itu indah, memang tak membuat jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, cinta yang dipertemukan karena kedekatan dan intens, jauh lebih bermakna dan awet usianya. Tak termakan zaman. Tak tergantikan. Tsaahh....ini ngomong apaan sih ???

Intinya, dengan seringnya kita berinteraksi dengan buku dan membaca nya. Kita akan lebih kaya dalam kosa kata dan wawasan. Ilmu yang senantiasa berkembang. Ga mentok jadi tukang re share, tapi juga jadi re seller #ehh. Pikiran yang terasah dan terbiasa menganalisa. Teliti pada sebuah fenomena sosial kehidupan, juga nampak jauh lebih keren dan seksi kalau kita nenteng buku bacaan daripada nenteng gagdet.

Sedangkan pe-er buat penulis adalah, jangan pernah menyerah. Terus berkarya. Belajarlah dari Rasulullah saw yang bersabda, gunakan bahasa kaummu. Agar kamu di dengarkan dan semakin dirindukan. Ingatlah akan pahala unta merah bagi kebaikan yang menginspirasi lalu berbuah amal pembaca nya. Pahala yang mengukir, amal jariyah yang terus mengalir, seiring dengan rekening yang lancar bergulir.

Kata orang bijak, buku adalah jendela dunia. Jembatan ilmu. Samudera pengetahuan. Masa kita akan lewatkan. Tentu tidak lah yauuu...

Selamat hari buku.
Semoga buku-buku kita menjadi warisan berharga bagi generasi penerus kita.
In syaa Allah.

By : Sri Suharni
Ketua ReLi (Relawan Literasi)
Kabupaten Bekasi
PESAN

0 Response to "Buku, di Antara Deretan Kata dan Nuansa"

Posting Komentar