Apapun Gayamu, Goreskan Penamu!



Dalam membuat suatu karya literasi, setiap orang memiliki kecenderungan masing – masing. Sebagian orang senang membuat paparan bersifat naratif. Lembar demi lembar disajikan dengan format cerita dan kisah, baik berbasis fakta maupun imajinatif. Membaca karya model ini seperti sedang nonton film atau sinetron.

Sebagian orang senang membuat paparan argumentatif. Hujjah, dalil dan fakta disajikan demi menguatkan atau mematahkan pendapat. Satu pertanyaan, peristiwa atau isu akan dibedah secara komprehensif dengan satu kesimpulan akhir. Membaca karya model ini seperti sedang menonton laporan investigatif atau film dokumenter.

Adalagi tipe berikutnya. Mereka tidak menjawab satu pertanyaan dengan jawaban spesifik, tidak mengulas satu peristiwa dengan paparan khusus. Tapi, dijawab dengan membuat kaidah, panduan dan pedoman. Ini tipe Imam Syafi’i saat menulis Kitab Ar Risalah.

Ini pula tipe Syaikh Yusuf Al Qardhawi saat menulis kitab Bagaimana Berinteraksi Dengan Al Qur’an, Bagaimana Berinteraksi Dengan As Sunnah, Bagaimana Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf dll. Ada peristiwa atau persoalan, maka dijawab dengan rumusan seperti Fikih Prioritas, Fikih Minoritas, Fikih Daulah, Fikih Jihad dll.

Bisa jadi, kita tidak cukup percaya diri saat melempar sebuah karya tulis. Boro–boro kita sampai level menjawab persoalan dengan merumuskan kaidah, bahkan untuk sekedar membuat narasi kisah pun masih canggung. Dengan kondisi demikian, apakah karya kita menjadi tidak berarti? Sama sekali tidak.

Tidak semua orang senang membaca karya yang rumit, komprehensif dan konseptual. Sebagian besar orang justru lebih suka dengan karya ringan, pendek tapi bermakna. Cerita model Chicken Soup jauh lebih mudah dicerna oleh kalangan ‘ammah yang jumlahnya sangat besar.

Khatimah

Apa perkara yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga? Ternyata bukan haji atau jihad yang merupakan amal – amal puncak dengan janji balasan surga. Umat Islam yang berhaji atau berjihad jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang yang tidak berhaji dan tidak berjihad. Rasulullah menjawab “Taqwallah wa Husnul Khuluq”.

Apapun model literasi yang kita miliki, orientasikan mata pena kita agar para pembaca menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah dan memiliki akhlak yang baik. Inilah diantara tujuan paling asasi dakwah bil qalam, inilah jatidiri perjuangan kita. Selamat berkarya.

By. Eko Junianto
https://m.facebook.com/eko.jun.5
PESAN

0 Response to "Apapun Gayamu, Goreskan Penamu!"

Posting Komentar