Pak Sriyanto dan Kekuatan Keikhlasan


Mentari sudah memancarkan teriknya ketika saya dan suami berangkat dari rumah kami di Cibitung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga yang terletak di Bekasi Timur.

Hari itu tanggal merah di awal Mei 2015. Kami berencana menjenguk saudara kami sesama muslim yang tengah di rawat di ruang intermediate RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Walaupun sebelumnya kami belum pernah bertemu dan kenal secara pribadi, hanya mengetahui info lewat group WA penggiat di Cibitung. Namanya Pak Sriyanto, dari namanya saya menduga beliau berasal dari suku jawa.

Tiba di rumah sakit kami mencari ruangan tempat beliau di rawat. Ruang Intermediate hanya membolehkan dua orang pengunjung sekali masuk ruangan, jadi harus bergantian.

Tibalah kami di ruangan yang dimaksud. Ada seorang lelaki yang terbaring lemah, di sampingnya seorang wanita yang memegang tangan sang lelakinya seraya mengusap penuh kelembutan. Ya, mereka adalah Pak Sriyanto dan istrinya.

Hhmmm… pemandangan yang menggetarkan hati, sekejap saya membayangkan bagaimana jika orang yang saya cintai terbaring seperti itu, apakah saya akan kuat? Saya berusaha segera menguasai diri, agar tidak terlarut dengan situsasi.

Pak Sriyanto menayakan kepada istrinya lewat bahasa isyarat, siapakah yang datang menjenguk? Karena belum mengenal sang istripun menayakan nama kami dan tempat tinggal kami, kemudian memberitahukan kepada sang suami.

Istri Pak Sriyanto bercerita kepada kami tentang sakit suaminya yang sudah berlangsung lama, hitungan bulan dan sudah sering cuci darah tiap pekannya. Beliau juga bercerita tentang anaknya yang terpaksa harus dititipkan ke tetangga, karena beliau tidak mempunyai saudara yang tempat tinggalnya relatif dekat.

Beliau bercerita di ruang intermediate ini, Pak Sriyanto hanya bisa dukunjungi jam 10-11 dan jam 17-18. Walau beliau adalah istrinya, akan tetapi tetap tidak diperkenankan untuk selalu ada di sampingnya. Jadi antara pukul 11 sampai pukul 17 beliau akan berada di RS menunggu di luar ruangan, sampai tiba waktunya di perbolehkan kembali masuk ke ruangan.

Setiap menemani, di pagi dan petang hari sang istri memperdengarkan dzikir al matsurat via handphone.

Beliau terlihat cukup tegar. Sayangnya saya dan suami tidak bisa berlama-lama di ruangan, karena harus bergantian, ada teman kerja Pak Sriyanto yang datang menjenguk.
Saya menginformasikan kondisi Pak Sriyanto via Group WA Pengurus DPC PKS Cibitung. Karena rencananya sorenya pengurus DPC yang akan menjenguk. Sang Ketua DPC, Pak Wardiana Kusuma, menitip pesan untuk disampikan bahwa keikhlasan dan kesabaran adalah obat yang utama. Ketika membaca pesan tersebut saya sudah berada dikantin RS, jadi tidak dapat menyampaiakan pesan dari ketua DPC.

Tetapi saya dapat merasakan Pak Sriyanto dan istri memiliki kekuatan keikhlasan dan kesabaran tersebut karena hari-hari yang mereka jalani di rumah sakit jelas mengundang adanya kedua hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita memiliki kekuatan ikhlasan dan kesabaran untuk menjalankan peran dan kewajiban kita ?  

R Febrika Halim
Ketua Bidpuan DPC PKS Cibitung PESAN

0 Response to " Pak Sriyanto dan Kekuatan Keikhlasan"

Posting Komentar