Taujih : "Menjemput Kemenangan"

Setiap aktivis dakwah pasti mengharapkan kemenangan dalam segala kompetisi. Sebab jika menang, peluang untuk menunaikan kewajiban lebih gampang, kesempatan untuk mengeksiskan kebenaran lebih terbuka, sarana untuk mempersempit dan memarginalkan potensi destruktif semakin banyak, jembatan untuk meraih kemenangan yang lebih besar semakin terbentang, dan jalan menuju ridla Allah swt. Lebih lancar.

Akan tetapi, kemenangan itu bukan sebuah karunia tanpa syarat, bukan hadiah tanpa sebab, bukan paket dari langit tanpa upaya di bumi, juga bukan bonus tanpa kerja keras. Karena itu, semakin terpenuhi syarat-syaratnya, semakin dekat masa kedatangannya; semakin tersedia sebab-sebabnya, semakin terbuka peluang kehadirannya; semakin besar upaya yang dilakukan, semakin pantas mendapatkannya; dan semakin sungguh-sungguh kerjanya, semakin dekat realisasinya.

“Apakah kamumengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum dating kepadamu (cobaan) sebagai mana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasuldan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah ituamat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Sayyid Quthb berkata, “Sesungguhny apertanyaan, ‘Kapan pertolongan Allah datang?’ menggambarkan tingkat kesulitan yang mengguncang hati kaum beriman yang selalu berhubungan dengan Tuhan-nya. Dan, pertanyaan itu tidak akan muncul, kecuali karena kesulitan itu sudah tidak dapat diungkap dengan kata. Namun ketika hati tetap tegar mengghadapi kesulitan yang mengguncang, maka terealisirlah janji Allah swt. Dan datanglah kemenangan dari-Nya, ‘Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’
Memang kemenangan itu disediakan untuk orang yang berhak mendapatkannya. Dan, tidak ada yang berhak mendapatkannya, kecuali orang yang tegar hingga akhir. Yaitu orang-orang yang tegar menghadapi kesulitan dan cobaan, yang tegar menghadapi berbagai guncangan, yang tidak menyerah pada badai ujian, dan yang yakin bahwa tidak ada kemenangan kecuali dari Allah swt. Serta sesuai kehendak-Nya. Bahkan ketika ujian sudah mencapai puncaknya, mereka hanya mengharapkan pertolongan dari Allah swt.,bukan pada solusi-solusi atau pertolongan lain yang tidak bersumber dari Allah swt.”

Pada saat mentadabburi surat Al-Hajj: 40, Sayyid Qutb berkata, “Mungkin kemenangan tertunda agar umat mukmin mengerahkan kekuatan terakhir yang dimilikinya, persediaan terakhir yang dimilikinya. Sehingga tidak tersisa yang istimewa maupun yang mahal, kecuali dikeluarkan dengan mudah dan murah di jalan Allah. Terkadang kemenangan tertunda sampai umat merasakan akhir kekuatannya, hingga ia memahami bahwa kekuatan itu saja, tanpa bantuan Allah, tidak menjamin kemenangan. Kemenangan itu dari Allah, pada saat umatmengerahkan kekuatan pamungkasnya, kemudian bertawakkal kepada Allah.”

Ikhwahfillah, apakah kita sudah mengerahkan segenap potensi yang kitamiliki (tenaga, harta, pengaruh, jabatan, anggota, binaan, simpatisan, keluarga, dan lain sebagainya) untukkemenangandakwah?
Jika belum, maka masih tersedia waktu untuk mengerahkan semuanya, ayo kita kerahkan segala pontensi, agar Allah melihat bahwa kita memang serius untuk menang. Jika kita masih simpan po tensi kita, maka boleh jadi itu pertanda kita tidak serius untuk menang.
PESAN

0 Response to "Taujih : "Menjemput Kemenangan""

Posting Komentar