Dari Ladang Gembala ke Gedung Parlemen

Sa’dan, begitu sederhana nama bocah penggembala itu, sesederhana kehidupannya. Untuk ukuran anak sepantarannya, bocah lelaki yang lahir di Cabang Bungin, perkampungan kecil dipelosok Kabupaten Bekasi, pada 12 Januari 1968 ini punya keistimewaan. Disamping “merih”, falsafah hidup sederhana dalam masyarakat kelas bawah, Ia juga tekun belajar dan punya kepekaan sosial yang tinggi. Itulah sebabnya sembari menggembalakan kambing, tangannya tak lepas menjinjing buku.

Keprihatinan yang dalam atas kondisi sosial disekelilingnya yang terbelakang, membuatnya merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Setelah sempat belajar di Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Jakarta (LIPIA), Ia akhirnya menamatkan studi strata satunya di Universitas Al-Aqidah Jakarta. Ia sadar betul mimpi besarnya tentang perubahan pada masyarakat dilingkungannya yang tertinggal baik dari segi pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur dan lain sebagainya memerlukan wadah perjuangan. Oleh karenanya, saat Reformasi bergulir Ia putuskan bergabung dengan Parati Keadilan (PKS sekarang).

Pengalaman malang-melintang dalam gerakan dakwah, baik saat mengajar di SDIT Thariq bin Jiyyad Bekasi maupun saat berkeliling dari mimbar ke mimbar sebagai anggota Korps Muballigh Al-Mimbar, membuatnya memperoleh basisi dukungan yang kuat. Hingga akhirnya dalam Pemilu 2004 Ia pun terpilih sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bekasi.

Sejumlah prestasi pun ia torehkan sebagai seorang legislator yang ulung. Saat bertugas di komisi D yang membidangi masalah pendidikan, kesehatan, agama, ketenaga-kerjaan, dll, suami dari UstadzahUmmulChairah ini adalah anggota Dewan yang paling “ngotot” soal pengembangan infrastruktur pendidikan. Betapa tidak, saat itu tercatat ada 600-an gedung Sekolah Dasar dalam kondisi memprihatinkan. Buah dari perjuangannya akhirnya bisa dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Bekasi dengan renovasi dan dibangunnya gedung-gedung baru Sekolah Dasar, serta digratiskannya biaya pendidikan SD dan SMP. Sikap yang sama pun ia tunjukan pada kebijakan Pemerintah Daerah yang kurang berpihak pada masyarakat kelas bawah terhadap akses kesehatan. Dengan dukungan rekan-rekan separtai dan kelihaiannya membangun lobi, akhirnya rencana pembangunan RSUD Kabupaten Bekasi bisa terrealisir dilokasi bekas lokalisasi Malpinas Cibitung. Disamping itu biaya pengobatan diseluruh Puskesmas bisa digratiskan.

Selain berkiprah dalam pusaran kebijakkan publik, cita-cita perubahannya ia perjuangkan pula dalam aktifitas sosial. Saat ini Ia bersama beberapa rekannya mengelola beberapa sekolah, diantaranya SMA Ruhama, SMK Adhi Karya dan SMK Industri Kreativa. Wujud dari kepekaan sosialnya ia buktikan dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan disekolah tersebut yang memang berdiri ditengah pemukuman masyarakat kurang mampu.

Perjuangannya digedung rakyat bukan tanpa hambatan dan tantangan. Saat mengawal perda BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) dan perda Zakat setidaknya bisa menjadi contoh betapa alot dan beratnya “penentangan” yang muncul saat pembahasan. Begitu juga ketika raperda Pariwisata digulirkan oleh eksekutif yang “melegalkan” prostitusi dengan pelegalan bisnis hiburan malam, Sa’dan yang juga menyelesaikan pendidikan S2-nya di Universitas ’45 Bekasi, seolah menjadi musuh bersama. Bahkan saat pembahasan, Ia sempat dicibir oleh anggota dewan yang lain dengan sebutan munafik! Tapi syukurlah, berkat kecerdikkannya berargumen dan bernegosiasi akhirnya raperda Pariwisata itu di hentikan pembahasannya. Momentum yang tak kalah fenomenalnya adalah saat Rapat Paripurna yang mengesahkan rencana perayaan hari jadi Kabupaten Bekasi yang juga dihadiri oleh seluruh unsur Muspida dan tokoh masyarakat, Ia menginterupsi sidang untuk sejenak membacakan surah Al-Fatihah sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat Mesir yang tengah dilanda huru-hara akibat kezhaliman rezim kudeta Militer.

Sejarah akan menjadi saksi, bocah gembala bernama Sa’dan itu tengah mengukir takdirnya. Ya, takdir tentang perjuangan dari ladang gembala ke gedung parlemen.

 

Rusdy Haryadi

Follow on Twitter : @rusdy_haryadi

Sumber: pkscibitung

PESAN

0 Response to "Dari Ladang Gembala ke Gedung Parlemen"

Posting Komentar