Biarkan Anak Kami Berpolitik!

Ahad, 16 Maret lalu menjadi salah satu hari terbaik saya sebagai seorang ayah. Betapa tidak, hari itu dengan sabar saya menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari anak saya. Duduk bersisian di sektor 3 Gelora Bung Karno, ada saja hal yang ditanyakan olehnya saat melihat aksi yang tersaji dihadapannya.

“Ayah, mengapa Anis Matta datangnya dari bawah, kok tidak dari atas seperti Aher?”
“Ayah, itu yang disamping Aher yang pakai peci hitam siapa namanya?”
“Ayah, sekarang PKS nomor 3. Pemilu sebelumnya nomor berapa?”

Faza Fauzan Farzandi, nama anak saya yang kini kelas 5 SD, terus memberondong saya dengan sederet pertanyaan. Dan Alhamdulillah, saya diberikan kesabaran untuk terus menjawabnya meski disibukan sebagai Koordinator Lapangan rombongan Jatimulya. Karena bagi saya, ini adalah momentum terbaik saya membangun kedekatan dengan anak. Inilah waktu emas saya untuk memperkenalkannya dengan dunia politik. Inilah masa yang tepat mengajarkannya tentang keindahan politik.

Saat itu, Faza merekam ke memorinya tentang segala hal yang dilihatnya di GBK. Politik itu ternyata tertib, santun, teratur, rapi. Politik juga meriah, indah dan gegap gempita. Politik penuh semangat menggelora.

Ketika Anis Matta berorasi, Faza mendengarkannya. Sudah pasti ia menyaksikan bagaimana aksi Sang Presiden PKS itu di atas panggung. Sudah pasti Faza mendengar setiap kata bermakna yang terlontar dari Anis Matta. Dan sudah pasti narasi politik yang begitu membakar didengar dan disaksikannya secara langsung. Lokasi duduk kami yang tak jauh dari panggung membuat kami mudah melihat Anis Matta.

Dari bermacam teori parenting atau pendidikan anak yang saya ketahui, untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak, maka orangtua harus mengajarkannya sejak dini. Bahkan sejak anak kita masih di dalam kandungan.

Lalu ketika paska kampanye akbar PKS, kita dibuat gaduh oleh berita tentang pelanggaran PKS karena melibatkan anak-anak, saya tidak habis pikir. Bangsa ini punya penyakit akut. Cara berpikirnya hancur lebur. Apa yang salah mengajak anak berkampanye? Politik seolah menjadi barang najis atau haram sehingga anak-anak kita pun tidak boleh mengenalnya.

Jangan karena aksi kampanye partai lain yang rusuh dan tak bermoral kemudian dibuat peraturan umum melarang anak kampanye. Kalau memang harus melarang, terapkan saja peraturan itu kepada partai yang dalam kampanyenya ada aksi kebut-kebutan, memalak, joget erotis, goyang dangdut yang menjijikka, merokok, dan lainnya. Di PKS, dapat dipastikan tak ada semua aksi negatif tersebut.

Bangsa ini terpuruk salah satu sebabnya karena cara berpikirnya yang dangkal: pukul rata. Karena ada politisi tak bermoral, lalu kita memberi stigma semua politisi tak bermoral. Karena ada partai korupsi, lalu kita menyimpulkan semua partai korupsi. Karena ada partai yang dalam kampanyenya sarat dengan aksi yang tak pantas ditonton anak-anak, lalu kita menganggap semua partai seperti itu.

Beberapa kali saya menyaksikan acara pertunjukan musik di televisi. Banyak anak kecil yang menyaksikannya. Mereka berjingkrak-jingkrak tidak karuan, bergoyang menjijikkan, mendendangkan syair lagu yang belum pantas untuk usia mereka. Tapi tak ada larangan. Kita membiarkannya. Inikah wajah generasi masa depan bangsa yang ingin kita ciptakan?

Kampanye terbuka PKS akan kembali dilakukan menjelang pemilu 9 April. Dan in shaa Allah, saya akan tetap mengajak Faza agar hari terbaik saya sebagai seorang ayah kembali hadir. Biarkan Anak Kami Berpolitik!

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Direktur Eksekutif Sekolah Akhlak Quran (2011-2012)
Cikunir, Bekasi Selatan PESAN

1 Response to "Biarkan Anak Kami Berpolitik!"

  1. piye to mas, undang-undang itu kan produk parlemen yang pks ada di dalamnya dan juga pemerintah yang pks berkoalisi. sampeyan yang pukul rata, kan? kalau mengajak dengan niatan show of force itu yang melanggar aturan lho. Jadi, alasan karena daripada main di luar nggak ada yang jaga sudah batal dengan beberapa kalimat di bagian akhir itu.

    BalasHapus