Berharap Golput Berkuasa

Sebuah tamsil menarik dilontarkan Presiden PKS Anis Matta. Indonesia, kata dia, telah merasakan dipimpin oleh tiga warna: kuning, merah dan biru. Kuning merujuk pada Partai Golkar, Merah pada PDIP dan Biru pada Partai Demokrat.

Sudah saatnya rakyat Indonesi dipimpin oleh warna putih,” kata Anis Matta dalam Apel Siaga DPD PKS Kabupaten Bekasi, Sabtu lalu. Mungkinkah?

Setiap menjelang pemilu,  gelembung optimisme elit-elit partai Islam biasanya membesar. Mereka yakin, suara partainya akan meningkat karena mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam. Nyatanya, itu semua hanya mimpi. Perolehan suara partai Islam sejak Pemilu 1999 tak ada yang mencapai dua digit. Mereka kalah dengan suara partai-partai nasionalis. Berturut-turut pemenang pemilu sejak 1999 adalah PDIP, Partai Golkar dan Partai Demokrat. Apa yang salah?

Fenomena ini menunjukkan adanya kesalahan kita dalam mendefinisikan kata umat. Kita menganggap, 80% penduduk Indonesia yang beragama Islam adalah umat. Mereka memang umat, namun umat secara sosiologis; bukan politik.

Dalam bukunya Cakrawala Islam, Amien Rais menulis konsep umat. Umat berasal dari kata ‘umm yang berarti ibu. Secara demikian, bagi setiap manusia muslim atau manusia tauhid, umat itu menjadi semacam ibu pertiwi yang diwadahi dalam iman dan akidah yang sama (faith and creed). Umat berarti kumpulan orang yang memiliki persepsi lebih kurang sama tentang hakikat dunia; tentang cita-cita dan perjuangan; serta tentang tugas, tanggungjawab dan komitmennya kepada Tuhan, masyarakat dan masa depan. Oleh karenanya, umat itu harus menjadi ummatan wahidatan (umat yang satu dan padu).

Dalam konteks Indonesia,  umat bisa terbagi ke dalam beberapa definisi: Pertama, umat nominal, yakni  umat KTP-nya memang Islam, tapi pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap Islam sangat minim—untuk tidak mengatakan sama sekali tidak paham.  Mereka adalah penduduk negeri yang ini lahir dari rahim seorang ibu yang Islam. Namun, perilaku kegamaan mereka sama sekali tak mencerminkan Islam; cenderung sinkretis atau abangan dan priyayi, kata Clifford Geertz.  Jumlah mereka mayoritas.

Kedua, umat ritual. Umat didefinisikan sebagai kumpulan orang yang telah melakukan praktek-praktek ibadah: sholat, puasa, zakat, dan haji. Jumlahnya sedikit. Sebagian ada yang memilih partai Islam, sebagian lagi memilih partai nasionalis.

Ketiga, umat ideologis. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman keislaman yang memadai.  Modal itu membuat mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menjalankan ilmu yang dimilkinya dalam segala bidang kehidupan, termasuk politik. Menurut mereka, Islam adalah agama paripurna yang mengatur segala sendi kehidupan. Karena itu, Islam bisa adalah solusi kehidupan, menjadi ideologi alternatif di saat kapitalisme dan komunisme  mulai sekarat. Umat semacam ini sangat mudah dikenali. Biasanya terlihat dari tampilan pakaian dan perilakunya: berjilbab tertutup, berjenggot tipis, dan sebagainya.

Sesungguhnya, pemilih partai-partai Islam itu berasal dari sebagian umat yang ritual dan umat ideologis.  Ceruk pasarnya sangat sempit. Dan kian sulit karena diperebutkan oleh banyak partai Islam. Karenanya, kata banyak pengamat, partai Islam itu sebenarnya menjadi predator bagi partai Islam lainnya.

Sampai hari ini, kita masih saja mengalami kekacauan dalam mendefinisikan umat. Sehingga, kita kerap salah dalam merancang strategi dan taktik. Akibatnya, suara umat tak pernah membesar dan partai-partai Islam hanya menjadi penggembira. Masih ingat bagaimana penolakan pemimpin partai Islam terhadap Boediono pada pilpres 2009. “Ia bukan representasi umat,” kata mereka kompak. Belakangan, mereka bisa menerima Boediono. “Ia pernah naik haji,” kata mereka lagi.  Ada lompatan dari definsi umat ideologis ke umat ritual.

Hemat saya, ada dua pilihan strategi untuk menaikkan elektabilitas partai islam jika mengacu pada definisi umat di atas.

Pertama, seluruh partai Islam berkoalisi. Menurut  Direktur Eksekutif Median Survei Nasional (MSN) Rico Marbun saat merilis hasil survei lembaganya di Jakarta, koalisi partai Islam bisa sangat menjanjikan. "Elektabilitas partai Islam bila disatukan saat ini akan berjumlah 19,6 persen," kata Rico. Jumlah ini hasil dari survei yang dilakukan dari 28 Januari-15 Februari 2014. PKS mempunyai elektabilitas 5,1 persen. PAN 3,5 persen. PPP 4,9 persen. PKB 5.0 persen dan PBB. 1,1 persen. Bila dijumlahkan elektabilitas partai Islam menjadi 19,6 persen. Kata dia, bila koalisi partai Islam terjadi kemungkinan koalisi bisa mempunyai elektabilitas lebih dari 20 persen. Dengan jumlah ini koalisi partai Islam bisa mencalonkan satu capres sendiri.

Tapi mungkinkah? Melihat realitas politik hari ini, saya termasuk orang yang pesimis dengan koalisi partai Islam. Banyak politisi Islam yang lebih nyaman menjadi kepala ikan teri daripada ekor gajah. Mereka lebih senang menjadi imam di mushola daripada makmum di masjid. Akibatnya, mereka tak pernah bersatu.

Pilihan strategi yang paling mungkin untuk meningkatkan elektabilitas partai Islam adalah yang kedua, yakni melakukan penetrasi pasar di segmen umat nominal. Sayangnya, sejauh yang saya amati, baru PKS yang dengan baik melakukan ini.

Ingat dengan iklan PKS jelang pemilu 2009? Jelas sekali partai dakwah ini ingin mengeruk potensi pasar di segmen umat nominal. Dan menjelang 2014, PKS kembali melakoni strategi serupa dengan iklan “Jangan Golput”.

Di luar itu, partai yang lahir dari rahim reformasi ini juga secara terus-menerus menyatakan dirinya sebagai partai terbuka. Seakan ingin menegaskan bahwa jargon partai terbuka bukanlah lips service. Dan itu dibuktikan dengan adanya caleg non muslim di daerah yang umat Islamnya minoritas. Ironisnya, strategi ini kerap mengundang cibiran yang datangnya justru dari kalangan Islam. Mereka ini adalah kalangan yang masih saja belum tepat mendefinisikan kata umat.

Penetrasi pasar PKS di segmen umat nominal memang masih belum menjadikan partai ini sebagai pemenang pemilu. Tapi, dengan menjadi partai Islam terbesar pada pemilu 2009 lalu, secara jelas menunjukkan tepatnya pilihan strategi tersebut. Dan di pemilu 2014 ini, kita semakin melihat betapa percaya dirinya PKS untuk menjadi 3 besar meski berjarak hanya setahun dari prahara yang mendera mereka.

Rasanya, tamsil Anis Matta tentang warna dalam politik Indonesia akan menjadi nyata. Saatnya Golongan Putih berkuasa. Dan itu adalah PKS. Insyaallah.


Oleh Erwyn Kurniawan / @Erwyn2002


PESAN

0 Response to "Berharap Golput Berkuasa"

Posting Komentar