Heryawan: Mari Tetap Optimis pada Pemilu, Jangan Golput

BANDUNG - Ambruknya tingkat kepercayaan kepada negara, khususnya pemerintah, mendorong sebagian warga untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) alias golput (golongan putih).

Kecenderungan meningkatnya warga yang golput tahun demi tahun otomatis menekan angka partisipasi pemilih dalam Pemilu. Penurunan angka partisipasi ini terlihat dalam beberapa Pemilu terakhir.

Penurunan angka partipasi pemilih juga terlihat dalam pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada), tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kondisi ini merata di semua daerah secara nasional.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat Yayat Hidayat menyatakan, penurunan signifikan angka partisipasi pemilih dalam Pemilu sungguh memprihatinkan.

"Kecenderungan sejarah ini harus diakhiri, dan pusat menargetkan angka partisipasi pemilihan pada Pemilu 2014 minimal 75 persen," tukas Yayat pada Pengukuhan Agen Sosialisasi dan Relawan Demokrasi Pemilu 2014 tingkat KPU provinsi dan kabupaten/kota se-Jawa Barat di Kantor KPU Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa, 17 Desember 2013.

Hadir dalam acara pengukuhan ratusan anggota agen sosialisasi dan relawan demokrasi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Ketua Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Barat Herminus Koto.

Gubernur Heryawan mengungkapkan hal serupa usai menyaksikan pengukuhan yang dilakukan oleh Ketua KPU Yayat. Menurut Heryawan, pemilih yang tidak memanfaatkan hak pilihnya melewatkan satu tahapan penting untuk melahirkan pemerintahan yang lebih baik.

"Pilihan golput tentu disayangkan karena pemilu sebenarnya gerbang harapan," tutur Heryawan.

Heryawan merinci, era reformasi hadir karena rakyat menolak bangunan oligarki Orde Baru yang terus meraksasa di pusat. Oligarki yang melibatkan penguasa, pengusaha, dan kekuatan militer tertentu dimaksud merampas hak sejahtera dan kebebasan rakyat.

Namun, hingga tahun ke-15 era reformasi, oligarki yang dulu berada di pusat kekuasaan negara, kini menyebar di provinsi dan kabupaten/kota. Sama dengan era Orde Baru, ketimpangan pengelolaan kekuasaan ini menyebabkan rakyat kebanyakan tak kunjung sejahtera.

Atas kondisi tersebut, Heryawan yang mantan wakil rakyat di DPRD DKI Jakarta mengimbau agar warga tidak kehabisan optimisme. Masih terbuka ruang, yakin Gubernur Jawa Barat, pemerintahan --termasuk legislatif-- ke depan lebih baik dibanding sebelumnya.

"Semoga pengalaman berbangsa selama ini membuat kita semakin dewasa. Mari kita lebih cermat dan cerdas dalam memilih wakil terbaik, serta pemimpin nasional, dalam pemilu mendatang," tandas Gubernur yang lebih sering disapa Aher.

Aher menambahkan, performa pemerintahan ke depan ditentukan oleh pilihan warga dalam Pemilu 2014. Dengan kata lain, diutarakan, menjadi golput sama dengan menggadaikan harapan kepada orang lain.

Gubernur Heryawan mengapresiasi KPU Jawa Barat yang berupaya keras agar partisipasi warga dalam pesta demokrasi 2014 di provinsi dengan jumlah pemilih terbesat di Indonesia, maksimal. "Semoga bisa melewati target pemerintah (75 persen)," tandas Aher.

Angka partisipasi pemilih di Jawa Barat pada Pemilu 1999 mencapai 99 persen, Pemilu 2004 80 persen, dan kembali anjlok pada Pemilu 2009 yang di titik 70 persen.

------
Selengkapnya:
http://www.ahermediacenter.com/node/1249 PESAN

0 Response to "Heryawan: Mari Tetap Optimis pada Pemilu, Jangan Golput"

Posting Komentar