Siapa Mau Caleg "Hantu"?

Belakangan banyak ditemui pohon-pohon di pinggir jalan berbuah lebat. Tapi buah itu tidak bisa dimakan malah menggangu keindahan dan “hak asasi” pohon. Pendek kata, pohon jalan raya sekarang ada penunggunya. Hantu? Bukan!. Itu adalah para caleg yang berharap simpati dari masyarakat pengguna jalan raya.

Alih-alih mendapat simpati, ternyata banyak masyarakat berkomentar miring tentang banyaknya banner caleg yang menunggui pohon. Memang serba salah, caleg dituntut meningkatkan popularitasnya untuk mendulang dukungan, tapi dia juga dibatasi oleh peraturan yang ketat. Hal ini membuat para caleg “mati gaya”.

Saya sisipkan Pasal 17 huruf (a) PerKPU No. 15 Tahun 2013, mengatur tentang pemasangan alat peraga kampanye luar ruangan, berbunyi : “Alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah, rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan;”.

Bagaimana dengan alat peraga kampanye (APK) yang sudah terpasang selama ini?. Tertanggal 6 Desember 2013, APK yang berbentuk banner dan baliho caleg di sepanjang jalan negara (Sasak jarang, Tambun Selatan - Kedungwaringin) dan sepanjang jalan Kalimalang (Jatimulya – Perbatasan Karawang) telah dibersihkan oleh Satpol PP Kabupaten Bekasi atas rekomendasi Panwaslu Kabupaten Bekasi. Begitu juga dengan APK yang dipasang di taman-taman di sepanjang jalan protokol tak luput dari pembersihan petugas. Meski begitu, masih banyak APK yang sejatinya melanggar tapi luput dari jangkauan satpol PP. Umumnya yang berada di jalan-jalan kecamatan, jalan desa dan jalan kampung. Selain melanggar peraturan, APK yang dipasang di jalan protokol juga dituduh sebagai pengganggu pemandangan dan perusak keindahan.

Lalu dengan cara apa lagi caleg hendak bersoliasasi?.
Ketua DPD PKS Kabupaten Bekasi H. Mohamad Nuh memberikan solusi brilian. “Pilihan cerdasnya adalah caleg PKS harus terjun langsung ke masyarakat, bersilaturrahim, bergotong royong, melakukan pertemuan tertutup dan terbuka (maksimal 250 orang) sambil membagi APK yang murah meriah,” katanya. Dia melanjutkan, APK yang murah meriah itu bisa berupa kartu nama, selebaran, pulpen, blocknote, topi, kaos, payung, dan kalender dengan mencantumkan pesan atau materi kampanye. Cara kampanye ini legal dan elegan. Murah dan hemat. Mudah dan berkah, insya-Allah. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh caleg-caleg PKS.

Dengan hadirnya caleg di tengah-tengah masyarakat, maka kehadirannya betul-betul terasa, tidak seperti hantu, yang datang tak diundang pulang tak diantar. Hiii…. Sereem.. (BP)
PESAN

0 Response to "Siapa Mau Caleg "Hantu"?"

Posting Komentar