Apa Kontribusi Kita ?

Ikhwah fillah,
Salah satu tradisi berpikir orang-orang shalih dan pejuang dakwah berpikir hingga bagaimana bisa mendapatkan kebaikan tidak dari satu bentuk ibadah. Mereka berpikir bagaimana bisa memperoleh lipatan nilai kebaikan dari kebaikan-kebaikanyang ada dan mungkin dia lakukan. Contohnya, orang-orang shalih tidak hanya menjalankan perintah puasa, tapi berpikir apa saja yang bisa menjadikan mereka bisa meraih kebaikan yang banyak di samping pahala puasa? Di sanalah kemudian muncul kebiasaan memberi makanan berbuka puasa kepada saudaranya. Contoh lainnya, mereka tidak hanya melihat pelaksanaan shalat di awal waktu, yang bagi mereka sudah menjadi kebiasaan rutin yang mereka lakukan. Tapi, mereka juga memperhatikan bagaimana pentingnya adzan sebagai tahapan sebelum datangnya orang-orang untuk shalat berjamaah. Itu dilakukan untuk menambah nilai kebaikan di samping kebaikan yang mereka lakukan.

Ikhwah fillah,
Mari kita kaji lebih dalam tentang masalah ini. Shalat wajib lima kali sehari, dan anjuran yang kuat untuk melakukan shalat berjamaah di masjid, selalu didahului dengan panggilan adzan. Rasulullah saw menganjurkan adzan sebagai panggilan shalat untuk orang-orang yang melakukan shalat di awal waktu. Pahala shalat di awal waktu, dalam salah satu hadits Rasulullah saw, termasuk di antara amal ketaatan yang paling dicintai Allah SWT.
Orang-orang shalih berlomba untuk bisa mengumandangkan adzan. Mereka terinspirasi untuk manjadi muadzin yang mengumandangkan adzan selama situasinya memungkinkan. Karena mereka tahu, adzan mempunyai keutamaan besar sebagaimana disabdakan Nabi saw, “Muadzin (orang yang adzan) itu akan diampuni dosa- dosanya sesuai dengan panjangnya suara adzannya, siapapun yang mendengarnya pasti membenarkannya, dia mendapatkan pahalaorang-orang yang shalat bersamanya.” (Shahih at Targib wat Tarhib)
Dalam sabdanya yang lain, disebutkan, ”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Bukhari)

Ikhwah ahabbakumullah,
Renungkanlah. Jika kita mengumandangkan adzan untuk shalat subuh dan setelah kita adzan, anggaplah ada orang yang shalat sedikitnya 10 orang pada pagi itu. Artinya, kita mendapat pahala shalat sebanyak jamaah yang shalat pada waktu itu. Dan bila kita tahu bahwa satu kali shalat berjamaah nilainya adalah 27 kali lipat dari shalat sendiri, maka bisa kita kalikan dengan jumlah orang shalat itu. Belum lagi lipatan pahala yang tak terhitung, yang Allah SWT berikan kepada siapapun hamba-Nya yang Dia Kehendaki.
Sekarang, mari kita lihat salah satu contoh orang shalih yang memiliki obsesi tinggi dalam meraih keutamaan adzan ini. Seorang pelopor dakwah Islam di Mesir, Imam Hasan al-Banna rahimahullah, dalam memoarnya ia menuliskan pengalamannya saat ia masih menjadi bocah kecil. Ia berpikir, bagaimana mendapatkan pahala terbesar dari ibadah adzan, sementara masjid-masjid yang ia ketahui sudah mempunyai muadzin masing-masing. Apakah yang harus ia lakukan untuk tetap mendapatkan pahala adzan, terutama adzan subuh?

Saudaraku,
Allah SWT akhirnya memberi petunjuk pada dirinya tentang seni meraih kebaikan dari adzan itu. Hasan Al Banna menuliskan di dalam memoarnya, “Saya menemukan kebahagiaan besar dan kelegaan luar biasa ketika saya membangunkan para muadzin untuk adzan subuh. Setelah itu saya berdiri, mendengarkan adzan yang keluar dari tenggorokan mereka dalam satu waktu, di mana antar masjid jaraknya berdekatan di desa. Terlintas dalam benak saya bahwa saya menjadi salah satu sebab bangunnya sejumlah jamaah shalat dan bahwa saya mendapatkan seperti pahala mereka.”

Saudaraku,
Inilah yang dinamakan proyek menjadi bagian dari keshalihan orang lain. Memperoleh pahala dari suatu kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Cerdas mencari sisi mana yang bisa mendatangkan keridhaan Allah SWT dalam banyak ketaatan. Seperti inilah salah satu contoh inisiatif melakukan kebaikan untuk bisa meraih kebaikan yang banyak, dan sekaligus memberi kontribusi agar kebaikan bisa semakin banyak.
Ada contoh inisiatif kebaikan di dunia perjuangan dakwah ini. Di kalangan para sahabat Rasulullah SAW kita pasti mengenal nama Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu anhu. Sahabat yang buta, tapi terkenal ahli ibadah dan semangat juangnya untuk mengikuti peperangan demi peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang lain.
Anas bin Malik radhiallahu anhu menceritakan bagaimana semangat kebaikan dan cara berpikir seorang sahabat Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu dalam melihat kemungkinan kontribusi yang bisa ia lakukan dalam dakwah.
“Dalam perang Qadisiyah, aku melihat Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu anhu yang buta. Ia membawa tameng dan bendera berwarna hitam. Seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Abdullah Ibnu Maktum bukankah engkau telah diberi uzur untuk tidak berperang?”
Ia menjawab, “Benar, tapi aku ingin memperbanyak titik hitam umat Islam dengan tubuhku.” Anas menjelaskan dalam ceritanya, bahwa Ibnu Ummi Maktum memang meminta bendera hitam sebagai tanda, karena ia tak mungkin berangkat seorang diri.
Dikisahkan oleh Anas, Ibnu Ummi Maktum menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri berharap ada salah satu musuh Allah yang terkena pedangnya hingga akhirnya beliau syahid dalam kondisi seperti itu. Abdullah bin Ummi Maktum sang sahabat yang buta itu, gugur dalam kondisi berhadapan ke arah musuh, dan tidak dalam kondisi berpaling.

Ikhwah fillah,
Mari kita masing-masing berpikir, tentang inisiatif kebaikan yang bisa kita lakukan mendukung misi dakwah ini. Berpikir menggali sisi lain dari kebaikan yang ada untuk bisa “sambil menyelam minum air”, meraih banyak kebaikan dari kebaikan yang kita lakukan, sebagaimana Imam Hasan Al Banna rahimahullah. Berpikir apa yang bisa kita lakukan dengan kapasitas kita masing-masing untuk bisa mendukung dan berkontribusi dalam pemenangan dakwah.
Kata kuncinya adalah, bahwa setiap orang pasti memiliki keterbatasan, dan keterbatasan itu sesungguhnya adalah keistimewaan. Apa kontribusi kita? .
Wallahu A’lam.
PESAN

0 Response to "Apa Kontribusi Kita ?"

Posting Komentar