Menjadi Guru

Oleh R. Febrika Halim


Apa cita-citamu?

Semenjak kanak-kanak jika ada yang menanyakan cita-cita saya akan dengan lantang menjawab, “Mau jadi guru”. Sontak biasanya orang dewasa yang bertanya kepada saya akan tertawa. Kemudian menambahkan, “Jangan jadi guru, gajinya kecil”. Tapi saya akan tetap ngeyel , “Pokoknya mau jadi guru”. Maklum percakapan tersebut bersetting awal tahun 90-an. Dimana saat itu kesejahteraan guru bisa dibilang memprihatinkan.

Akan tetapi, selepas lulus dari SMUN 13 Tanjung Priok, Jakarta Utara, alih-alih kuliah di IKIP Jakarta (sekarang UNJ), saya malah berkuliah di universitas negeri di daerah Depok mengambil Fakultas Psikologi. Tapi tetap saja, cita-cita menjadi guru masih membayang. Akhirnya takdir Allah, setelah menyelesaikan kuliah, saya bekerja sebagai guru.

Bagi saya, menjadi guru adalah pekerjaan yang luar biasa. Tanggung jawab yang begitu besar. Ada banyak pasang mata yang menatap kita, ada banyak pasang kuping yang siap mendengar kata, kalimat yang meluncur dari mulut kita. Pribadi-pribadi yang siap dibentuk. Salah ucap, sikap, tindakan dari seorang guru bisa jadi berakibat fatal bagi anak didik. Dokter malpraktek bisa menyebabkan kecacatan atau kematian. Guru malpraktek bisa menyebabkan anak didiknya menyimpang, yang pada akhirnya sangat bisa jadi bukan saja merusak dirinya sendiri, tapi juga keluarga, masyarakat dan bahkan negaranya.

Dalam kasus yang pernah saya temui, ada anak yang takut sekali pelajaran matematika, blank, ketika ditelusuri ternyata anak tersebut mengalami trauma, pernah diminta mengerjakan soal di papan tulis, ketika tidak bisa gurunya memarahinya dan membiarkan ia ditertawai oleh teman-teman sekelasnya. Dan banyak lagi kasus-kasus yang lainnya. Sudah sepantasnya seorang guru harus berhati-hati, waspada dan senantiasa belajar agar menjadi guru yang lebih baik dan lebih baik lagi. Semoga Allah membimbing para guru, agar dapat menjadi teladan. Keteladanan yang menular dan menyebar yang pada akhirnya akan membangun negeri.

Guru yang baik tentu akan membekas di kalbu siswa. Saya pun ketika kanak-kanak ingin menjadi guru, karena kagum dengan guru-guru saya yang membimbing dan mendidik. Kebaikan akan menghasilkan kebaikan lainnya. Mudah-mudah karena kebaikan dan ketulusan anda, wahai para guru, semakin banyak anak-anak kecil yang ketika ditanya, “Apa cita-citamu?” ia akan menjawab dengan bangga, “Mau jadi guru, seperti guruku yang baik”. PESAN

0 Response to "Menjadi Guru"

Posting Komentar